
Happy reading 😘😘😘
Poligami bukan sesuatu yang harus dihindari dan tidak juga begitu saja dilakukan. Semua ada pertimbangan plus dan minusnya. Sebagai contoh junjungan kita, Rasulullah.
Pada dasarnya alasan Rasulullah berpoligami bersifat mulia. Yakni untuk menolong janda-janda dan anak yatim serta berjuang di jalan Allah pada masa itu. Rasulullah tidak asal melakukan poligami dengan hanya dikarenakan nafsu. Bahkan, beliau mengamalkan monogami lebih lama dari pada poligami. Dan ... Khadijah merupakan istri satu-satunya Rasulullah.
....
Okey lanjut ke cerita 😘😘😘
Elmira berjalan mendekat lantas memeluk Chayra. Ia tidak ingin terlihat buruk di mata Alif. Meski tidak rela, ia harus berlapang dada dan menerima kehadiran madunya dengan keikhlasan hati.
Tangan yang semula menjuntai diangkatnya untuk membalas pelukan Elmira. Keduanya saling berpeluk diiringi tangisan pilu di dalam hati.
Elmira dan Chayra melerai pelukan kala terdengar tangisan baby Dzikra. Bayi kecil itu terbangun lalu menangis memanggil mamanya.
Mendengar tangisan baby Dzikra, Alif lantas mengulurkan tangan untuk merengkuh tubuh bayi mungil itu. Selayaknya seorang ayah, ia membawa baby Dzikra ke dalam dekapan dan menimangnya dengan sayang.
Tidak membutuhkan waktu lama, Alif mampu meredakan tangisan baby Dzikra. Bahkan, bayi mungil itu terlihat tertawa dan memanggil Alif dengan sebutan 'papa'.
"Pa-pa. Pa-pa ...."
Wajar jika Chayra merasa cemburu saat menyaksikan perhatian dan kasih sayang Alif kepada baby Dzikra. Wajar jika Chayra merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar buah hati Elmira, memanggil Alif dengan sebutan 'papa'.
__ADS_1
Sakit yang Chayra rasa kian bertambah, ketika Elmira merapatkan tubuh dan membisikkan kata rindu di telinga Alif.
Percayalah, tidak mudah berada di posisi Chayra saat ini. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya teramat sakit bagai dihujam ribuan anak panah tak kasat mata. Terluka, tapi tak berdarah. Jika luka yang terlihat bisa langsung diobati. Namun bagaimana dengan luka tak kasat mata yang dia rasa?
Chayra berusaha untuk tetap tegar, meski hatinya remuk redam.
"Maaf, saya ke toilet sebentar," pamitnya sekedar beralibi. Chayra hanya ingin menghindar dan menata hati.
"Ra, mas Alif antar ya?" Alif menawarkan diri dan menyerahkan baby Dzikra kepada Elmira.
Chayra menggeleng pelan dan mengulas senyum. "Tidak usah, Mas. Saya bisa sendiri. Lagi pula, baby Dzikra merindukan kamu --"
"Atau, saya saja yang mengantarmu, Ra?" Elmira pun ikut menawarkan diri.
"Tidak usah, Mbak. Saya sudah tau letak toiletnya di mana. Jadi, Insya Allah saya tidak akan tersesat," tolaknya halus sebelum memutar tumit kemudian berjalan ke luar ruangan.
Sebagai seorang manusia biasa, Alif tidak luput dari khilaf meski mengerti ilmu agama. Mungkin sebagian orang merasa miris dengan kekhilafan yang dilakukan oleh Alif. Tapi kenyataannya, di dunia ini tidak sedikit orang yang merasa dirinya memiliki keluasan ilmu agama. Namun tetap saja tak luput dari salah serta khilaf. Apalagi penulis kisah ini yang masih sangat minim ilmu agamanya. Salah dan khilafnya segunung. Bahkan mungkin lebih.
Namun tahukah, bahwa orang bijak adalah orang yang menyadari kesalahannya, berani mengakuinya, mau memperbaikinya, dan mau belajar darinya. Semoga sosok Alif dan penulis kisahnya pun seperti itu.
Chayra berjalan tergesa. Ia ingin segera menumpahkan lara hati.
Ditutupnya rapat pintu toilet, kemudian ia membasuh wajah. Lalu ditumpahkannya titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata.
Chayra menangis tergugu dan meremas da-danya yang terasa sangat nyeri.
__ADS_1
"Wahai hati. Kamu harus kuat. Jangan mudah sakit seperti ini --" Chayra bermonolog dan sesekali memejamkan mata. Ingin rasanya ia bersandar dan membagi beban dengan keluarga yang sangat menyayanginya. Namun Chayra sungguh tidak ingin jika mereka menyalahkan Alif. Ia juga tidak ingin, oma Kirana menyalahkan dirinya sendiri. Karena permintaan sang oma-lah, Alif bersedia menikahinya. Menjadi seorang imam pengganti untuk menggantikan posisi Damar yang ternyata telah berselingkuh dan menanam benih di rahim Sinta.
"Chayra --" Terdengar suara orang yang memanggil diikuti ketukan pintu. Chayra segera mengusap jejak air mata dengan tisu dan menyamarkan wajahnya yang sembab dengan makeup tipis.
"Chayra, kamu di dalam?"
"Iya, saya di dalam. Tunggu sebentar!"
Setelah merapikan jilbabnya, Chayra memutar handle pintu dengan perlahan. Rupanya, Elmira sudah menunggunya tepat di depan pintu.
"Mbak, El --"
"Iya Ra. Kami mengkhawatirkan kamu. Kenapa kamu lama?"
"Owh itu karena perut saya sedang sakit, Mbak," jawabnya beralibi. Kenyataannya bukan perut Chayra yang sakit tetapi hatinya.
Elmira menggamit lengan Chayra dan membawanya ke taman. Keduanya mendaratkan bobot tubuh di bangku taman lantas mulai berbincang.
Entah apa yang diperbincangkan oleh mereka, sehingga membuat wajah Chayra terlihat semakin sendu.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
UP keduanya segini dulu ya Kakak-kakak terlove. Please, tetap tahan emosi!!! Ikuti saja alurnya. Insya Allah, di penghujung Ramadhan konflik mereka selesai. Sehingga authornya bisa berlebaran dengan santai 😁
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan, tanpa menurunkan rate karya. Cukup like, komen, dan beri gift atau vote jika memiliki kelebihan poin 😉
Mohon maaf apabila salah kata dan bertebaran typo, trimakasih dan banyak cinta 😘💖