
Happy reading 😘😘😘
Binar bahagia terlihat jelas di raut wajah Alif dan Chayra saat mendengar bunyi detak jantung calon bayi mereka, buah hati yang semakin mempererat tautan cinta.
Lengkap sudah kebahagiaan yang terengkuh. Permasalahan rumah tangga mereka terselesaikan dan kini ... Allah menambah kebahagiaan dengan meniupkan kehidupan di rahim Chayra.
"Congrats Doctor Alif on your wife's pregnancy." (Selamat Dokter Alif atas kehamilan istri anda)
Alif mengulas senyum dan membalas ucapan selamat yang dilisankan oleh Aisya, salah satu rekan dokter di rumah sakit As-Salam tempatnya bekerja. "Thank you Doctor Aisya." (Terima kasih Dokter Aisya)
Tak lupa, Aisya juga memberi selamat kepada Chayra dengan menjabat tangan dan mengecup pipi kiri serta pipi kanan istri rekannya itu. "Congratulations Mrs. Chayra on your pregnancy." (Selamat Nyonya Chayra atas kehamilan anda)
"Thank you Doctor," balasnya diikuti senyum yang terkembang.
Sebelum Alif dan Chayra keluar dari ruangan, Aisya menyampaikan wejangan agar mereka bekerjasama menjaga calon bayi yang berada di dalam rahim Chayra.
Ia juga menyampaikan wejangan, supaya Chayra banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi dan menghindari berbagai makanan yang dilarang untuk ibu hamil, seperti: susu atau keju yang belum dipasteurisasi, ikan laut yang bermekuri tinggi, daging dan ikan mentah atau yang dimasak kurang matang, sayuran dan buah yang tidak dicuci, jeroan, telur mentah, dan kafein.
Alif dan Chayra berjalan beriringan dengan saling menautkan tangan. Keduanya memasuki ruang demi ruang untuk menemui para dokter yang menjadi rekan Alif selama bekerja.
Semua rekan dokter merasa berat melepas Alif, sebab pria bermata teduh itu merupakan salah satu dokter yang sangat ramah, cerdas, dan suka membantu.
"Lif, apapun keputusanmu, semoga inilah yang terbaik. Aku berharap, kelak--bisa menyusulmu. Resign dari rumah sakit ini lalu pulang ke kampung halaman dan mengabdi di sana," ucap salah seorang rekan Alif yang bernama Dani.
__ADS_1
Dani, Alif, dan Zidan kuliah di universitas yang sama. Namun setelah lulus kuliah, mereka bekerja di rumah sakit yang berbeda.
Zidan bekerja di rumah sakit As-Syifa. Sementara Alif dan Dani bekerja di rumah sakit As-Salam.
"Aamiin. Semoga harapanmu itu segera diijabah oleh Allah, Dan." Alif tersenyum dan memeluk singkat rekannya itu.
Seusai berpamitan dengan semua rekan dokter, Alif membawa Chayra pulang ke rumah supaya istrinya itu bisa segera beristirahat. Alif khawatir--Chayra akan keletihan.
Malamnya, Alif membawa Chayra ke salah satu tempat yang romantis di kota Kairo. Keduanya makam malam sembari menikmati keindahan sungai Nil yang nampak cantik bermandikan sinar rembulan dan cahaya yang dipancarkan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri mengelilingi sungai itu.
Alif menaruh sendok dan garpu di atas piring setelah menyelesaikan ritual makannya. Lantas, ditatapnya lekat wajah sang istri yang terlihat semakin cantik malam ini. "Sayang, kita bermalam di hotel ya. Mas Alif sudah memesan kamar hotel --"
Chayra mengulas senyum termanis dan mengusap pahatan tampan yang berada di hadapan dengan jemari lentiknya.
"Terserah Mas Alif saja. Bermalam di mana pun--aku mau, Mas. Asal bersama kamu --"
"Iya Mas. Aku sangat merindukan mereka. Aku juga merindukan anak-anak didik-ku. Meski tadi sudah vidio call dengan keluarga kita di Jogja, tetap saja belum bisa mengobati rasa rinduku. Ternyata benar kata om Dylan, rindu itu berat --" Chayra dan Alif terkekeh kala teringat ucapan Dylan yang sempat viral di media-media sosial.
"Jangan rindu, Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja”.
Seusai makan malam, Alif segera membawa istri tercintanya ke salah satu hotel yang berada tidak jauh dari sungai Nil.
Sesampainya di hotel itu, mereka dipandu oleh salah seorang karyawan, berjalan menuju kamar yang telah dipesan oleh Alif.
Netra Chayra berotasi sempurna ketika Alif membuka pintu lebar-lebar.
__ADS_1
Nampak ruangan kamar tersebut di desain layaknya kamar sepasang pengantin baru yang tengah berbulan madu.
Lampu kamar yang temaram dan ranjang yang terhias taburan kelopak bunga mawar, menciptakan kesan romantis.
Alif memandu Chayra masuk ke dalam kamar lalu memintanya untuk duduk di tepi ranjang.
"Kamu suka dengan desain kamar ini, Yang?" Alif melisankan tanya dan mendaratkan bobot tubuhnya di samping Chayra.
"Iya Mas. Aku sangat suka. Seolah, kita pengantin baru yang sedang berbulan madu --"
"Anggap saja, kita tengah berbulan madu, Yang. Dan kita akan melewati malam panjang di kamar ini --" Alif mengulas senyum dan menanggalkan jilbab yang membalut rikma Chayra.
"Tapi, Mas. Bagaimana dengan kandunganku jika kita melewati malam panjang. Mmm ... maksudku, amankah jika kita melakukan hubungan suami istri disaat usia kandunganku masih sangat muda?" Chayra menggigit bibir bawahnya dan memilin ujung bajunya. Ia terlihat sangat cemas jika Alif meminta haknya sebagai seorang suami disaat usia kandungannya masih rentan untuk berhubungan in-tim.
"Tentu saja aman, Yang. Karena kondisi kandungan Sayang tidak bermasalah. Namun sebagai seorang suami, mas Alif tidak boleh egois dan harus mematuhi wejangan dari dokter obgyn." Alif menjeda sejenak ucapannya lantas melabuhkan kecupan di kening sebelum kembali berlisan kata.
"Sayang, melewati malam panjang tidak harus dengan melakukan ritual penyatuan raga. Hanya dengan saling berpeluk dan bercengkrama di atas ranjang sudah cukup bagiku," sambungnya.
Detik berikutnya, kedua manik mata yang memancarkan binar cinta saling bersiborok, menghipnotis dua insan untuk saling melabuhkan ciu-man mesra ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏
__ADS_1
Terima kasih dan love love sekebon 😘😘😘