Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Miniatur Cinta Abadi


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Seusai acara tasyakuran, Alif dan Chayra tak lantas undur diri. Rizqi dan Nadhira meminta mereka untuk berbincang sebentar sekaligus ingin menyerahkan hadiah sebagai ungkapan atau tanda terima kasih.


Saat ini mereka duduk di teras rumah ustadz Ilham, pemilik sekaligus pemimpin pondok pesantren Al Hidayah. Ilham merupakan kakak Ayunda Kirana, oma Chayra sekaligus ibu angkat Alif.


"Hadiah yang kami berikan ini, sebagai ungkapan atau tanda terima kasih saya dan Dek Nadhira untuk kamu dan Chayra, Lif. Semoga kalian menyukainya --" Rizqi mengulas senyum dan menyerahkan kotak berwana biru muda kepada Alif dan Chayra. Senyuman terlukis indah di wajah keduanya saat menerima kotak itu.


"Terima kasih --" ucap Alif dan Chayra kompak tanpa memudar senyum.


"Apa ini, Mas?" Alif penasaran dengan isi kotak yang kini telah berpindah di tangannya. Rasanya, ia sudah tidak sabar ingin membukanya.


"Bukalah, Lif!" titah yang terlisan dari bibir Rizqi diiringi lengkungan bibir.


"Boleh dibuka sekarang, Mas?"


"Tentu saja boleh. Kotak hadiah itu sudah menjadi milik kalian. Dari pada mati karena penasaran, lebih baik bukalah sekarang! Bisa gawat kalau kamu mati penasaran, Lif. Kasihan Chayra jadi janda muda sebelum kamu sukses membuat karya --" celotehnya yang langsung disambut cubitan kecil dan lirikan tajam dari Nadhira.


"Hhehe, maaf Dek Nadhira. Bibir kang mas-mu ini memang kadang tidak bisa dikendalikan karena menuruni kebiasaan papa --" Rizqi tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya. Sementara Nadhira, menghela nafas dalam. Ia harus punya stok sabar menghadapi suaminya yang mempunyai kebiasaan asal berceloteh seperti sang papa mertua, Ikhsan Maulana. Karena dahulu pernah bekerja di kebun binatang dan mempunyai bestie seekor bekantan, Ikhsan mendapat panggilan sayang dari para sahabatnya ... 'Ikhsan si mantan bekantan'. Kisah Ikhsan tertulis di novel yang berjudul 'Mantan Jadi Besan'.


Alif dan Chayra mengulas senyum. Celotehan Rizqi yang biasanya sukses membuat keduanya tergelak, saat ini malah mencubit hati mereka. Tak terbayang jika Chayra benar-benar menjadi janda di usianya yang masih sangat muda. Bukan karena Alif meninggal. Namun karena hubungan mereka saat ini seperti benang kusut. Andai Alif tidak dapat mengurainya dan Chayra sudah tidak mampu bertahan berada di sisi suaminya itu, perpisahan mungkin saja tak akan lagi terelakkan. Baik Alif maupun Chayra, tentu saja tidak menginginkan perpisahan benar-benar terjadi. Meski Chayra teramat sakit, marah, dan kecewa ... dia sudah terlanjur memberikan hati dan raganya untuk Alif. Bagi Chayra, menikah hanya sekali. Jika pernikahannya dengan Alif gagal, Chayra tidak ingin lagi menikah. Lebih baik sendiri dari pada kembali mengalami kegagalan.


"Maaf ya, Lif, Ra. Celotehan Mas Rizqi tidak usah didengar!" ucap Nadhira, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Ustadzah. Toh Mas Rizqi hanya bercanda. Dari kecil Mas Rizqi memang suka asal berceloteh seperti papanya," sahut Alif dan mendapat dukungan dari Chayra.


"Benar Ustadzah. Justru karena kebiasaan Mas Rizqi yang suka asal berceloteh, banyak teman yang menyukainya. Termasuk kami --"

__ADS_1


Nadhira menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia tatap lekat wajah rupawan suaminya dan kembali berlisan kata. "Tapi tolong, jangan dibiasakan Mas! Kurang sopan. Alif dan Chayra bisa maklum karena mereka sudah sangat mengenal Mas Rizqi. Jika orang lain yang mendengar celotehan Mas Rizqi, mungkin mereka tidak bisa mengendalikan emosi --"


Raut wajah Rizqi berubah pias. Ia menyesal telah asal berceloteh. "Iya Dek, mas Rizqi tidak akan mengulanginya lagi --"


"Janji ya Mas!"


"Insya Allah --"


"Sekarang, minta maaflah pada Alif dan Chayra, Mas!"


Rizqi mengangguk patuh. Ia terlihat seperti seorang murid yang mematuhi perintah gurunya. "Maaf ya Lif, Chayra. Lain kali, mas Rizqi tidak akan mengulanginya lagi --"


"Iya Mas. Kami sudah memaafkan Mas Rizqi --" Alif membalas permintaan maaf Rizqi diikuti seutas senyum.


"Sekarang, bukalah kotak pemberian kami Lif!" titah Nadhira seiring senyuman yang terbit dari bibirnya.


Seketika netra Alif dan Chayra berbinar. Mereka teramat takjub dengan hadiah yang diberikan oleh Rizqi dan Nadhira sebagai ungkapan terima kasih.


Ternyata, kotak berwarna biru muda itu berisi miniatur bangunan Taj Mahal yang terbuat dari emas dan bertabur berlian. Bangunan tersebut melambangkan 'cinta yang abadi'. Cinta seorang raja untuk ratunya.


"Masya Allah, indah sekali --" Kalimat pujian terlisan dari bibir Chayra.


"Kamu suka, Ra?"


"Sangat suka, Ustadzah --"


"Mulai saat ini, jangan panggil saya 'ustadzah'! Panggil saya 'mbak'! Lagi pula, saya sudah menjadi bagian dari keluarga kalian. Menantu om dan tante kamu, Ra --" pintanya.


"Baiklah, Mbak Nadhira --" Chayra dan Nadhira saling melempar senyum dan berpeluk singkat.

__ADS_1


"Kami memberi kalian miniatur bangunan Taj Mahal, bukan karena asal memberi. Namun ada harapan yang ingin kami langitkan untuk kalian berdua. Bangunan Taj Mahal melambangkan cinta yang abadi. Dan miniatur ini, semoga bisa menjadi lambang cinta kalian. Cinta yang akan tetap abadi meski kelak--mungkin gemuruh mengguncang tautan cinta --"


Kata-kata yang terlisan dari bibir Nadhira ... menyentuh relung rasa, memaksa titik-titik embun membingkai manik mata. Alif dan Chayra saling berpandangan dan menautkan tangan. Keduanya melantunkan bait-bait cinta di dalam kalbu yang terangkai menjadi untain doa, semoga Illahi meridhoi dan mengeratkan tautan cinta.


Mesin waktu menunjuk pukul sepuluh malam, Nadhira meminta Alif dan Chayra untuk bermalam di pondok pesantren. Namun Chayra menolak dengan halus dan mendapat dukungan dari Alif.


"Hati-hati di jalan, ya! Akhir-akhir ini, aksi klitih kembali meresahkan. Jangan menghentikan mobil, meski kalian dihadang!" pesan Nadhira saat melepas Alif dan Chayra.


"Iya Mbak. Kami akan berhati-hati --" sahut Chayra.


"Semoga Allah senantiasa melindungi kalian berdua --"


"Aamiin yaa Allah. Kami pulang dulu ya, Mbak. Assalamu'alaikum --"


"Wa'allaikumsalam ...." balas Rizqi dan Nadhira kompak.


Alif dan Chayra memutar tumit lantas berjalan menuju parkiran mobil. Sementara Rizqi dan Nadhira masih berdiri sembari menatap punggung kedua insan yang semakin jauh melangkah ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Tidak seperti karya yang author tulis sebelumnya, Imam Pengganti Untuk Chayra mengangkat konflik yang agak berat dan menonjolkan ketidak sempurnaan tokoh prianya. Mohon maaf jika para pembaca ada yang kurang suka atau kurang berkenan dengan cerita yang author tulis kali ini. Namun, bijaklah menggunakan jari-jari. Jangan menurunkan rate ⭐ yang mungkin bisa membuat kami para author merasa down. Kami para author silver tidak seperti author yang berlencana di atas kami. Kami sama sekali belum pernah mencicipi hasil dari menulis. Jika kami masih bertahan menulis di sini, itu karena rasa sayang dan cinta kami kepada para pembaca yang telah berkenan membaca, mendukung, serta memberi apresiasi.


Meski konfliknya agak berat, author sudah mempersiapkan penyelesaiannya. 😉


Ada orang yang berkata bahwa, "tidak perlu menjadi sempurna untuk menginspirasi orang lain. Biarkan orang-orang terinspirasi oleh caramu menangani ketidaksempurnaanmu." Seperti karya yang saya tulis saat ini, meskipun tidak sempurna semoga mampu menginspirasi ... 😊


Mohon maaf jika bertebaran typo dan salah kata. Trimakasih dan banyak cinta 💗

__ADS_1


__ADS_2