Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Sakinah Mawadah Bersamamu


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Mesin waktu menunjuk angka sembilan malam, Chayra masih belum membuka netra. Dengan sabar Alif berjaga. Ia duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan wanita yang teramat dicintainya itu.


"Da-mar." Suara Chayra yang terdengar lirih memecah kaca lamun. Alif terhenyak, ulu hatinya terasa nyeri saat Chayra menyebut nama mantan calon imamnya.


"Chayra sayang," seru Alif sembari mengusap pipi Chayra dengan lembut.


Perlahan Chayra membuka kelopak mata. Ia sedikit terkejut saat Alif menggenggam tangan dan menciumi buku-buku jarinya. "Mas Alif?"


"Ra, kamu sudah bangun?"


Chayra mengangguk samar dan menerbitkan senyum setipis kertas. "Iya Mas. Sebenarnya, apa yang terjadi? Seingat Chayra, tadi Chayra ada di kamar mandi. Tapi kenapa bisa pindah di sini, berbaring di ranjang?"


Alif terkekeh dan menoel hidung mancung Chayra. "Dasar putri tidur. Kamu lupa ya Dek, tadi kamu tertidur di kamar mandi?" jawabnya seraya bercanda.


“Ach masa sih, Mas?” tanyanya tidak percaya.


“Iya Dek. Sampai-sampai gaun pengantin yang kamu kenakan, basah kuyup.”


Netra Chayra membola. Nafasnya terhenti sejenak saat menyadari, gaun yang ia kenakan sudah berganti dengan gamis berwarna biru muda.


“Maaf Ra. Mas Alif lancang mengganti gaunmu yang basah," ucapnya merasa tidak enak hati.


Chayra menunduk, menyembunyikan pipinya yang terhias rona merah. Ia teramat malu karena Alif sudah melihat tubuh polosnya.


“Ra, kamu nggak marah ‘kan? Mas Alif hanya nggak ingin kamu sakit.” Alif mengangkat dagu Chayra dan menatap manik mata yang selalu membuatnya jatuh cinta.


“Nggak Mas. Chayra nggak marah. Hanya malu –“

__ADS_1


“Malu kenapa, hmm? Kita sudah halal. Lagi pula, dulu sewaktu kecil, kita pernah mandi berdua ‘kan?”


“Ishhh Mas Alif. ‘Kan beda." Chayra mencebik dan memalingkan muka.


“Jangan malu ya, Sayang! Dibiasakan!” Alif mengerling dan disambut cubitan kecil dari Chayra.


“Awww, sakit Sayang.” Alif mengaduh dan terkekeh.


“Apaan sih, sayang sayang? Geli dengernya Mas,” protesnya sambil mengerucutkan bibir.


“Loh ‘kan kamu istriku, Ra. Jadi, mas Alif manggilnya ‘Sayang’. Atau ... mau dipanggil ‘Bunda’? Biar sweet-nya seperti opa dan oma kamu. Ayah Abi dan Bunda Kiran,” godanya diiringi gerakan alis, naik-turun.


Raut wajah Chayra berubah sendu. Ucapan Alif mengingatkannya pada Damar. Dulu, Damar pernah berkata, dia ingin sekali memanggil Chayra dengan sebutan ‘Bunda’. Tentunya setelah mereka menikah.


“Ra, kamu kenapa?” Kalimat yang terlisan dari bibir Alif menyadarkan Chayra yang sejenak tenggelam dalam lamun.


“Chayra nggak pa-pa Mas. Hanya kangen mama,” kilahnya. Ia beranjak dari ranjang dan membawa tubuhnya ke balkon.


Pemandangan indah yang tersaji di hadapan, tak mampu mengusir duka yang kian meraja. Kerlip lampu dan binar cahaya Sang Dewi Malam, seakan enggan menyinari dunia-nya yang meredup.


“Ra, mas Alif mengerti apa yang tengah kamu rasa. Mas Alif nggak janji bisa menjadi imam yang terbaik untukmu. Tapi, mas Alif akan berusaha. Mas Alif akan berusaha untuk memberi kebahagiaan yang saat ini terenggut. Mas Alif nggak akan membiarkanmu berkawan dengan duka,” tutur Alif bersungguh-sungguh. Ia layangkan tatapannya pada rupa sang rembulan sembari melipat kedua tangan di depan dada.


“Maaf Mas. Maaf jika pernikahan kita membebani Mas Alif. Chayra tau, bahkan sangat tau, Mas Alif menganggap Chayra sebagai adik. Begitu juga ... Chayra. Bagi Chayra, Mas Alif adalah sosok abang yang sangat Chayra sayang –“


Ucapan Chayra yang menohok, menorehkan luka tak kasat mata, hingga Alif merasakan sensasi nyeri di ulu hati. Ingin rasanya, ia mengungkap perasaan yang selama ini bertahta di dalam hati. Namun, lidahnya serasa kelu. Dari dulu hingga detik ini, Alif tidak memiliki keberanian untuk mengaku cinta. Ia hanya memendamnya karena merasa rendah diri. Alif sadar, bahkan teramat sadar ... ia dan Chayra berada di dalam hierarki yang berbeda. Alif hanyalah seorang yatim-piatu yang diangkat anak oleh Abimana dan Kirana. Sedangkan Chayra, cucu dari kedua orang tua angkatnya yang bergelimang harta. Ditambah keadaannya saat ini. Keadaan yang membelenggu. Meski bukan inginnya, Illahi sudah berkehendak demikian. Sebagai seorang hamba, Alif hanya mampu menerima dan menjalani perannya dengan keikhlasan. Kini tugasnya, menjadi seorang imam yang adil dan bijak. Menjadikan istri sebagai ratu dan bukan penanggung beban.


“Mas, jika Mas Alif keberatan dengan hubungan kita ini, Chayra ikhlas menjadi istri Mas Alif semalam. Mas Alif bisa menalak Chayra,” sambungnya diikuti hembusan nafas berat.


Alif merotasikan tubuh. Ia raih lengan Chayra dan memutar tubuh istrinya itu hingga keduanya saling berhadapan.


Ditatapnya netra yang memancarkan binar ketegaran dengan tatapan yang menyiratkan makna.

__ADS_1


“Ra, mas Alif sama sekali tidak terbebani dengan pernikahan kita. Mas Alif juga tidak merasa keberatan dengan hubungan yang terjalin di antara kita. Justru, mas Alif lah yang seharusnya meminta maaf. Maaf karena telah lancang menikahimu, meski mas Alif sadar ... kita berbeda. Mas Alif hanyalah seorang yatim piatu, sedangkan kamu sorang Tuan Putri, cucu—kedua orang tua angkat mas Alif. Mas Alif tidak seperti Damar, pemuda berparas tampan yang memiliki harta dan tahta,” tutur Alif menahan rasa sesak dan lara yang mendera.


“Mas, jangan ngomong seperti itu lagi! Kita sama, Mas. Semua insan ciptaan Allah itu sama. Nggak ada yang berbeda dalam penglihatan-Nya. Yang membedakan hanya iman dan takhwa. Chayra nggak suka setiap Mas Alif mengatakan bahwa kita berbeda hanya karena Mas Alif anak angkat opa dan oma. Chayra benar-benar nggak suka.” Bibir Chayra bergetar, manik matanya terbingkai embun.


“Maaf Ra –“ lirihnya.


Chayra menghambur ke pelukan Alif. Ia tumpahkan segala rasa dan beban yang memaksa titik-titik air mengalir dari telaga bening.


Tangan yang semula menjuntai diangkatnya untuk membalas pelukan Chayra. Lantas ia hujani pucuk kepala kekasih halalnya itu dengan kecupan.


“Ayunda Chayra Putri, kita awali hubungan yang terjalin atas ridho dan halal-Nya ini dengan Bismillah. Semoga rumah tangga kita senantiasa dinaungi kebahagiaan. Sakinah, mawadah bersamamu."


Chayra mengangguk dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang yang membuatnya merasa nyaman.


Senyuman Sang Dewi Malam dan lantunan pinta dari penduduk langit mengiringi kisah cinta Alif dan Chayra.


Seberat apapun ujian cinta yang kelak akan menyapa, semoga keduanya mampu untuk tetap mengeratkan genggaman ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo


Dukung dan semangati author dengan selalu meninggalkan jejak like 👍


Beri komentar


Tabok ❤ untuk favoritkan karya


Tabok juga ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya


Trimakasih dan banyak cinta 💞


__ADS_2