Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Apartemen Hutan Vertikal


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Mobil yang dikendarai oleh Zidan berhenti di depan apartemen berkonsep hutan vertikal. Di apartemen tersebut ditanami banyak tumbuhan hijau yang bertujuan meregenerasi lingkungan perkotaan tanpa menambah luas kota.



Zidan sengaja memilih apartemen yang berkonsep hutan vertikal untuk Alif dan Chayra dengan harapan keduanya akan nyaman dan betah tinggal di apartemen yang telah ia sewa.


Sebenarnya Alif ingin membayar biaya sewanya dengan menggunakan uangnya sendiri. Namun Zidan menolak dan bersikukuh--dia yang membayar biaya sewa apartemen itu.


Zidan merasa sangat berhutang budi pada Alif. Sehingga apapun akan ia lakukan demi sahabatnya. Salah satunya, membantu Alif untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya yang cukup rumit. Meski rumit, Zidan sangat yakin--permasalahan rumah tangga yang tengah dihadapi oleh Alif akan dapat terselesaikan, bagaimanapun caranya.


Bagi Zidan, Alif adalah sosok sahabat yang terbaik. Menolong tanpa pamrih, meski terkadang harus mengorbankan dirinya sendiri.


"Sudah sampai, Bro. Beristirahatlah bersama Chayra. Jangan terlalu mencemaskan Dzikra dan Elmira! Mereka baik-baik saja. Kondisi kesehatan Dzikra sudah membaik. Aku memantaunya setiap hari. Jika kalian ingin menemui Dzikra dan Elmira, lebih baik besok pagi saja. Aku yakin, Elmira bisa memaklumi," tutur Zidan setelah membuka pintu mobil bagian belakang.


Alif keluar dari mobil yang ditumpanginya dengan menggendong Chayra ala bridal style. Wanita berparas cantik itu masih terlelap. Mungkin karena kelelahan setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Dari Jogja ke Kairo Mesir.


"Iya Bro. Trimakasih atas bantuanmu, Zi. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu --"


"Aku sudah bilang 'kan. Nggak perlu berterima kasih. Apa yang aku lakukan untukmu, tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan padaku, Lif. Aku bisa seperti saat ini karena bantuanmu. Seorang anak petani yang dulu mempunyai impian dan cita-cita menjadi seorang dokter, kini tercapai berkat jasa seorang sahabat, Muhammad Alif Firdaus. Meski semua orang mencacimu, bagiku kamu tetap yang terbaik Lif."


"Zi, kamu bisa menjadi seorang dokter karena usaha keras dan kecerdasanmu, bukan karena aku. Apa yang aku berikan padamu titipan dari Allah. Aku hanya perantara-Nya, Zi --" ucapnya merendah.


"Tetap saja, bagiku kamu telah berjasa. Dan jasamu itu akan selalu terukir di sini." Zidan menepuk dadanya dan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Lebay, Zi --"


"Dan kamu rajanya lebay kalau sudah menyangkut tentang Chayra --"


Keduanya tertawa sehingga membuat Chayra terbangun.


"Turunin aku, Mas!" pinta Chayra sambil mengucek matanya.


"Loh, kog malah bangun Yang?"


"Heem. Buruan turunin aku! Malu dilihatin mas Zidan."


"Sudahlah, abaikan Zidan! Paling jiwa jomblonya meronta-ronta Yang," cibirnya dan disambut gelak tawa Zidan.


"Pfffttt ... hhahha, nggak juga Lif. Aku sudah terbiasa melihat pemandangan sok sweet seperti ini. Dan asal kamu tau! Sebentar lagi, aku akan melepas status jomblo-ku, Lif. Bersiap-siaplah memberi restu--sahabatmu ini, untuk menggantikan posisimu. Aku yakin, Elmira nggak akan keberatan menerima aku sebagai imam pengganti. Karena selain baik hati, wajahku juga handsome maksimal. Nggak kalah kalau hanya dibandingin kamu," ujarnya percaya diri.


"Doa tulusmu aku aamiin-kan paling kenceng, Lif. Aamiin allohumma aamiin, semoga para malaikat dan penduduk langit turut mengamini."


"Aamiin --"


"Yasudah, sana bawa istrimu masuk! Jangan lupa sholat sunah dua rakaat sebelum berolah raga malam!" kelakar Zidan yang sukses melukis semburat merah di wajah Chayra. Sehingga Chayra membenamkan wajahnya di dada bidang Alif.


"Aku pulang dulu, Bro. Assalammu'allaikum," ucapnya setelah masuk kembali ke dalam mobil dan bersiap melajukan kendaraan besinya itu.


"Wa'allaikumsalam, Zi. Berhati-hatilah! Jangan ngebut!"


"Siap, Bro." Zidan mengacungkan salah satu jempol tangannya. Kemudian mulai menginjak pedal gas dan memainkan stir mobil.

__ADS_1


"Mas, turunin aku! Malu --"


"Nggak usah malu, Yang. Toh kita sudah halal."


"Tapi tetep aja aku malu, Mas. Please turunin aku! Atau aku loncat nich?" Chayra melontarkan ancaman yang sama sekali tidak berpengaruh. Alih-alih menurunkan Chayra, Alif malah mengeratkan gendongannya dan membawa Chayra naik ke lantai lima dengan menggunakan lift.


Sesampainya di kamar, Alif menurunkan Chayra dan meminta istrinya itu untuk segera membersihkan tubuh sebelum keduanya menunaikan ibadah sholat isya.


Di atas sajadah yang terbentang, Alif dan Chayra menunaikan ibadah sholat isya dengan khusyu'. Segala pinta mereka langitkan kepada Illahi Robbi. Dengan harapan, Sang Maha Cinta meng-ijabah.


"Yang, laper nggak?" tanya yang terlisan dari bibir Alif setelah keduanya melipat sajadah dan menyimpannya di nakas.


"Nggak Mas. Aku nggak lapar. Tapi ngantuk."


"Yasudah, tidurlah Yang! Besok pagi, mas Alif akan membawamu ke rumah sakit untuk bertemu Elmira dan si kecil Dzikra."


"Heem, Mas."


Alif dan Chayra naik ke atas ranjang. Keduanya mulai memejamkan mata dan saling berpeluk. Berharap bisa bertemu di negeri mimpi dan menjalin cinta tanpa adanya seseorang yang menjadi dinding pemisah ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Semoga Kakak-kakak ter love masih berkenan untuk bersabar mengikuti alur kisah cinta Alcha (Alif - Chayra). Insya Allah sebelum lebaran, konflik mereka selesai, sehingga akan ada cinta dan kebahagiaan di penghujung Ramadhan. Tetap stay hingga end dan jangan lupa selalu meninggalkan jejak dukungan tanpa menurunkan rate ⭐. 😉🙏


Up nya insya Allah dilanjut nanti ya. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. Trimakasih dan banyak cinta 💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2