
Happy reading 😘😘😘
Ketukan pintu diikuti ucapan salam mengalihkan atensi Alif dan Chayra yang saat ini tengah berbincang di dalam ruangan yang di dominasi warna putih. Keduanya berbincang mengenai Nathalie--gadis belia yang diselamatkan nyawanya oleh Alif.
Setelah menjawab salam, Alif mempersilahkan Iqlima untuk membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya.
"Dok, ada yang ingin bertemu dengan anda dan Nyonya Chayra," ucap Iqlima setelah pintu terbuka.
"Siapa?" tanya Alif seraya menanggapi ucapan Iqlima.
"Gadis yang anda tolong, Dok." Iqlima menjawab ragu sebab merasa tidak enak hati dengan Chayra.
"Owh. Suruh dia masuk!" titah Alif bernada santai.
Alif sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan gadis yang ditolongnya sebab ia sudah memprediksi bahwa gadis itu akan datang menemuinya.
"Baik Dok." Iqlima mengangguk patuh dan menunaikan perintah dokter muda berparas rupawan itu.
Alif dan Chayra menyambut Nathalie dengan senyum ramah. Kemudian Chayra mempersilahkan gadis belia itu untuk duduk.
"Silahkan duduk!" Chayra berucap dengan nada suaranya yang terdengar lembut diiringi senyum manis terlukis indah di wajah ayunya.
Nathalie terpana. Ia mengagumi kecantikan Chayra. Terlihat dari aura yang terpancar, wanita yang membalut rikmanya dengan hijab berwarna biru muda itu bukan hanya berparas cantik. Namun hatinya pun cantik.
"Terima kasih Kak," ucapnya sembari mendaratkan bobot tubuh di kursi berhadapan dengan Alif dan Chayra.
"Perkenalkan, gue ... maksudku saya --"
"Santai saja! Nggak usah terlalu formal!" Chayra memangkas ucapan Nathalie diikuti tawanya yang renyah.
"Tapi --"
"Siapa nama kamu?" Chayra kembali memangkas ucapan Nathalie dengan melisankan tanya.
"Gue ... Nathalie. Kakak pasti Chayra 'kan? Istri tercantiknya Dokter Alif," tebak Nathalie dan dibalas anggukan oleh Chayra.
"Iya, aku Chayra. Istrinya Mas Alif--dokter tampan sejagad jiwa bagiku. Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu namaku?" Chayra melipat kedua tangannya di depan dada dan menjatuhkan punggungnya pada sandaran.
__ADS_1
"Dari para perawat yang menyatakan diri mereka sebagai IWANKOR, Kak."
"IWANKOR?" Chayra bertanya heran disertai kerutan yang tercetak di dahinya.
"Ikatan Wanita Anti Pelakor. Sekumpulan wanita yang akan menendang siapa saja yang berniat menjadi pelakor--perusak rumah tangga orang," terang Nathalie seraya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Chayra.
Alif dan Chayra menahan tawa dengan melipat bibir mereka saat Nathalie menjelaskan kepanjangan dari IWANKOR.
Seumur-umur, baru kali ini sepasang Adam dan Hawa itu mendengar kata IWANKOR yang ternyata memiliki kepanjangan Ikatan Wanita Anti Pelakor.
Padahal, IWANKOR sudah ada di novel penulis kisah ini sebelumnya dan kata tersebut dicetuskan oleh Kak Esti W--salah satu sahabat author yang sekarang jarang main ke NT atau MT.
"Sebenarnya, apa tujuanmu menemui kami?" tanya Chayra tanpa basa-basi.
"Gue ingin berterima kasih kepada Dokter Alif karena telah menyelamatkan nyawa gue. Jika saat itu Dokter Alif nggak mencegah gue, mungkin gue udah mati. Dan kemungkinan terburuknya ... gue nggak mati tapi cacat seumur hidup, bahkan kehilangan janin yang gue kandung --" Nathalie sejenak menjeda ucapannya dan meraup udara dalam-dalam.
"Ajari gue Islam, Kak!" sambungnya dengan nada suara yang terdengar bergetar.
"Mengajarimu Islam?" Alif yang sedari tadi memilih diam, kini turut bersuara.
"Iya Dok. Sebenarnya, gue udah jatuh cinta pada Islam sejak kecil. Hati gue bergetar dan selalu merasa tentram setiap mendengar kumandang suara azan yang teramat merdu."
"Kami akan mengenalkan dan mengajarimu tentang Islam dengan senang hati. Mulai saat ini, anggap kami sebagai kakakmu. Jadi, jangan merasa sungkan untuk sharing dan berbagi keluh kesah pada kami Lie," tutur Chayra tulus dan disambut lengkungan bibir oleh Nathalie.
"Terima kasih, Kak."
"Kembali kasih, Lie. Kalau boleh tahu, kamu tinggal di mana?"
Raut wajah Nathalie seketika berselimut awan kelabu saat Chayra bertanya di mana dia tinggal. Ia tidak tahu mesti menjawab apa. Sebab ia pun bingung, di mana dirinya akan tinggal setelah keluar dari rumah sakit ICPA.
"Maaf, kalau aku salah bicara! Mungkin, tidak seharusnya aku bertanya di mana kamu tinggal." Chayra menegakkan kembali punggungnya dan mengulurkan tangan untuk mengusap bahu Nathalie.
Gadis berambut blonde itu menggeleng pelan dan menengadahkan wajah yang semula sedikit menunduk. "Kak Chayra nggak salah bicara. Terus terang, gue bingung mau jawab apa, karena setelah keluar dari rumah sakit ini, gue nggak tahu mau tinggal di mana. Gue diusir dari rumah oleh paman dan bibi. Gue --" Suara Nathalie tercekat karena rasa yang menyesakkan dada ... menjalar hingga menyumbat tenggorokan.
Chayra beranjak dari posisi duduk lantas berjalan mendekati Nathalie. Kemudian diraihnya tubuh gadis malang itu dan dibawanya ke dalam dekapan.
Nathalie menangis tergugu dalam dekapan Chayra. Ditumpahkan lara hatinya seiring air mata kesedihan yang mengalir deras dari telaga bening.
Chayra mengusap lembut punggung Nathalie seraya mentransfer energi positif agar gadis itu merasa tenang.
__ADS_1
Usai tangisnya mereda, Nathalie menceritakan kisah hidupnya yang kelam tanpa ada yang tertinggal.
Alif dan Chayra menghela nafas berat kala mendengar kisah hidup Nathalie. Keduanya merasa empati dan timbul keinginan untuk melepaskan gadis malang itu dari duka lara.
"Bagaimana, jika kamu tinggal di pondok pesantren Al Hidayah saja, Lie? Di sana, kamu bisa belajar tentang Islam dan menenangkan jiwa," tutur Chayra setelah Nathalie mengakhiri ceritanya.
"Iya Kak. Gue mau tinggal di pesantren Al Hidayah." Nathalie mengangguk dan menerbitkan senyum.
"Syukur--Alhamdulillah. Nanti sore, kami akan mengantarmu ke pesantren untuk bertemu dengan opa Ilham. Beliau pendiri sekaligus pemilik pesantren Al Hidayah."
Nathalie kembali mengucapkan kata 'terima kasih' dan mendapat balasan senyum yang terkembang dari sepasang suami istri yang berhati mulia, Alif dan Chayra.
Alif melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah tiba waktunya, ia kembali menunaikan tugas.
"Maaf, ayah harus kembali menunaikan tugas, Bund. Jika Bunda dan Nathalie masih ingin berbincang, lanjutkan saja," ujar Alif menginterupsi.
"Baiklah Yah. Kami akan melanjutkannya nanti setelah menjemput Alcha di rumah om Dylan. Selamat bertugas Yah. Kami pamit ya!" sahut Chayra sembari melabuhkan kecupan di pipi Alif--suami handsome-nya.
Chayra mengucap salam sebelum keluar dari ruangan. Tak lupa ia mengajak Nathalie untuk turut serta ....
🌹🌹🌹🌹
Lanjut nggak boncapnya??? 😉
Jika masih ingin lanjut, jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan ya Kakak-kakak ter love 😉
Tinggalkan like dan beri komentar 👍
Jangan unfav karya ini ❤
Mumpung hari Senin, tampol author dengan vote 😉
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 😊🙏🙏🙏
Terima kasih dan banyak cinta 😘😘😘
Sambil menunggu karya yang akan segera rilis, yuk kunjungi karya author yang lain 😉
__ADS_1