
Happy reading 😘😘😘
Suasana di dalam mobil berselimut kebisuan. Alif dan Chayra saling terdiam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Rupanya, tausiyah yang disampaikan oleh ustadz Ilham sangat mengena, sehingga Alif semakin tersadar akan kesalahan besar yang telah diperbuat olehnya.
Namun apa yang telah terjadi tidak mungkin bisa dirubah. Yang dapat Alif lakukan hanyalah berikhtiyar untuk memperbaiki hubungannya dengan Chayra. Sementara yang dilakukannya untuk Elmira, Alif ingin memperbaiki hubungan Elmira dengan keluarganya dan menemukan pria yang seharusnya bertanggung jawab terhadap Elmira serta buah hatinya. Namun jika pria yang telah menanam benih di rahim Elmira tidak mau bertanggung jawab dan Elmira terlanjur nyaman menjadi istri pertama, entah apa lagi yang bisa diikhtiyarkan oleh Alif kecuali memohon petunjuk pada Illahi dan berserah diri.
Apapun yang akan terjadi di masa depan, Alif berharap ... dia, Chayra, dan Elmira mampu menerima goresan takdir Illahi dengan hati yang ikhlas, karena kehendak-Nya adalah yang terbaik.
"Mas awassss!!!" Chayra memekik saat mobil yang dikendalikan oleh Alif hampir menabrak pohon besar. Alif bergegas menginjak pedal rem sehingga kecelakaan yang fatal bisa terhindari.
Chayra nampak mengatur nafasnya yang berpacu. Sementara Alif mematikan mesin mobil lantas mengusap punggung istrinya dengan gerakan naik turun seraya memberi rasa tenang.
"Sayang, maaf --" ucapnya lirih.
"Heem. Lain kali, hati-hati dan fokus Mas!"
"Iya Yang --" Alif hanya menjawab singkat disertai anggukan dan kembali menghidupkan mesin mobil. Namun sebelum mobil kembali melaju, keduanya dikagetkan dengan kemunculan segerombol pemuda yang membawa senjata tajam. Mereka mengetuk-ngetuk kaca mobil dan menyabetkan pedang ke badan mobil.
"Keluar kalian!" titah salah seorang dari mereka yang bertubuh tambun.
"Mas, jangan keluar! Bahaya. Mereka membawa senjata tajam --" pinta Chayra sambil memegang lengan Alif.
"Iya Sayang. Mas Alif nggak akan keluar. Mas Alif bisa saja mengatasi mereka dan memberi efek jera. Tapi saat ini, keselamatan Sayang yang terpenting. Mas Alif nggak ingin, tindakan gegabah mas Alif malah akan melukai Sayang --"
Alif memacu kendaraan besinya dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun tetap saja terkejar.
"Woeeee, keluar!" pemuda bertubuh tambun itu berteriak sambil terus menyabetkan pedang hingga memecahkan kaca mobil.
Alif tak mampu lagi mengendalikan emosi. Ia menghentikan laju kendaraan besinya dan mematikan mesin, kemudian keluar dari dalam mobil meski Chayra mencegah.
__ADS_1
"Akhirnya keluar juga --" tersenyum smirk sambil memainkan pedang, seolah keahliannya bermain pedang mengalahkan seorang samurai.
"Apa mau kalian, hah?" Alif melayangkan tatapan tajam dan mengepalkan tangan. Ingin rasanya, ia segera memberi pelajaran kepada mereka, para pemuda minim akhlak yang beberapa bulan ini meresahkan warga kota.
"Menyeret kamu dan wanita itu ke neraka --" ucapnya angkuh.
Alif memasang kuda-kuda dan bersiap menangkis serangan lawannya. Jika para pemuda itu menggunakan senjata berupa pedang, Alif hanya berbekal ikat pinggang. Ia terus saja mencambukkan ikat pinggangnya dan melayangkan tendangan. Tiga orang berhasil ia tumbangkan. Tinggal dua orang, pemuda bertubuh tambun dan kerempeng.
Pemuda bertubuh tambun meminta temannya yang bertubuh kerempeng untuk menghadapi Alif, sementara dia berjalan mendekat ke arah mobil dan berniat menjadikan Chayra sebagai tawanan agar Alif mengalah dan menyerah.
Namun tak disangka. Chayra melakukan perlawanan. Dibukanya pintu mobil dengan kasar sehingga pemuda bertubuh tambun itu terjerembab.
Setelah memastikan keadaan sekitar aman, Chayra keluar dari dalam mobil dan mengayun tungkai ke arah Alif.
"Sayang, awas!" Alif memekik seiring tangannya bergerak cepat merengkuh tubuh Chayra yang hampir saja terkena sabetan pedang.
Alif bertambah murka. Ia layangkan bogeman mentah ke arah wajah pemuda bertubuh tambun itu bertubi-tubi dan meminta Chayra agar segera menghubungi penegak hukum (polisi).
Setelah menumbangkan kelima pemuda minim akhlak itu, Alif mengikat mereka dengan tali.
Hampir sepuluh menit menunggu, penegak hukum (polisi) tiba kemudian membawa para pemuda minim akhlak itu ke kantor polisi dan meminta kedua korban (Alif dan Chayra) untuk menjadi saksi.
Mesin waktu menunjuk pukul dua belas malam. Setelah memberi kesaksian, Alif dan Chayra pulang ke rumah dengan pengawalan dari penegak hukum.
"Mas, aku ke kamar sebelah dulu ya. Mau mandi dan ganti pakaian --" pamitnya.
"Iya Yang. Mas Alif juga mau mandi dulu --" Alif membalas ucapan Chayra diiringi seutas senyum yang membingkai wajah.
Keduanya berpisah di ujung tangga. Alif mengayun tungkai ke kamar utama. Sementara Chayra mengayun tungkai ke kamar sebelah.
Setelah mandi dan mengenakan piyama, Chayra menemui Alif di kamar utama. Nampak, Alif tengah melamun sambil memandangi miniatur bangunan Taj Mahal pemberian Rizqi dan Nadhira. Entah, apa yang dipikirkan oleh Alif saat ini.
__ADS_1
"Mas --" Suara lembut Chayra mengalihkan atensi Alif sehingga ia pun seketika menoleh.
"Yang --"
"Aku mau mengobati lukamu, Mas. Luka bakarmu belum sembuh sepenuhnya, malah bertambah lagi karena perkelahian tadi --" ucapnya sendu.
Alif mengulas senyum dan menggenggam tangan Chayra. Lantas ia memandu istrinya itu untuk duduk di bibir ranjang. "Luka mas Alif tidak seberapa bila dibandingkan dengan luka yang kamu derita, Yang. Ribuan bahkan jutaan kata maaf belum cukup untuk menebus kesalahan terbesar di dalam hidup mas Alif yang membuatmu terluka dalam --"
"Sudahlah Mas. Tidak usah membahas tentang itu lagi! Aku ingin segera tidur setelah mengobati lukamu. Aku ngantuk dan lelah, Mas --" sahut Chayra menginterupsi.
"Iya Yang --" Alif mengangguk patuh.
Chayra mulai mengobati luka Alif. Ulu hatinya terasa nyeri saat melihat luka disekujur tubuh suaminya itu. Luka bakarnya belum sembuh, malah bertambah luka yang lain. Bahkan, wajah rupawan Alif juga dipenuhi oleh luka lebam akibat perkelahian tadi.
Tanpa terasa, setetes air lolos dari telaga beningnya. Chayra sungguh tidak tega melihat keadaan Alif saat ini.
"Sayang, kenapa menangis, hmm?" Alif mengangkat dagu Chayra dan mengusap lembut pipi wanita yang dicintainya itu.
Alih-alih menjawab kalimat tanya yang terlisan dari bibir Alif, Chayra malah berganti melisankan tanya diiringi isak, "pasti sakit banget ya, Mas?"
"Sakit, tapi nggak sesakit kamu, Yang. Sayang bisa mengobati luka di sekujur tubuh mas Alif. Tapi, bagaimana mas Alif bisa mengobati luka Sayang? Mas Alif seorang suami yang zalim. Yang sebenarnya tidak pantas mendapatkan istri sesempurna kamu, Ayunda Chayra Putri --"
Chayra tak mampu lagi membendung derasnya air yang mengalir dari telaga bening, hingga mendorong Alif untuk mengulurkan tangan dan membawanya ke dalam dekapan.
"Sayang ... maaf. Maafkan mas Alif ...." lirihnya dengan nada suara yang terdengar bergetar. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya terasa sangat nyeri kala mendengar isak tangis wanita yang dicinta ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf baru bisa UP, bukan karena othornya ngambek lho. Tapi karena ada kesibukan di RL 😉🙏
__ADS_1
Terima kasih author ucapkan kepada Kakak-kakak pembaca terkasih yang telah berkenan menyumbangkan rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐ untuk karya author. Tiada yang bisa author berikan untuk membalas kemuliaan hati Kakak-kakak, selain doa tulus yang terlisan dari hati. 😊🙏
Mohon maaf apabila salah kata dan bertebaran typo, trimakasih dan banyak cinta 😘💖