
Warning ... ada adegan yang mungkin membuat kangen suami atau istri 🙈
Happy reading 😘😘😘
Nayla mengalungkan tangan di leher Zidan saat merasakan tubuhnya melayang.
Dengan sangat hati-hati, Zidan membaringkan tubuh ramping Nayla di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga mawar. Lalu dilepasnya mukena yang masih membalut tubuh ramping istrinya itu.
Zidan mengulas senyum dan menyapu wajah cantik Nayla dengan jemari tangan.
"Kamu sangat cantik, Nay. Betapa Maha Kasihnya Allah yang telah menjadikan bidadari secantik dirimu sebagai tulang rusukku."
Senyum terbit menghiasi wajah Nayla kala mendengar kata-kata manis yang terlisan dari bibir Zidan.
Sama seperti Zidan, Nayla pun menyapu wajah rupawan suaminya itu dengan jemari lentik seraya mengagumi pahatan tampan maha karya Sang Pencipta.
Nayla baru menyadari, bahwa pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu ternyata berwajah sangat rupawan dan tanpa cela. Ketampanannya pun tidak kalah bila dibandingkan dengan ketampanan malaikat penolong yang dahulu sangat ia cinta, Muhammad Alif Firdaus.
Mungkin, mata hati Nayla telah terbuka dan benih-benih cinta mulai bersemayam di dalam dada. Sehingga segala cela di pelupuk mata, tak terlihat.
"Kamu juga sangat tampan, Zi. Namun bagiku, bukan ketampanan parasmu yang mampu menjerat hati dan membuatku yakin menjadikanmu seorang imam. Melainkan, kemuliaan hati dan ketulusan cintamu untuk aku. Terima kasih telah menjadikan aku kekasih halalmu, meski aku bukanlah wanita yang sempurna --"
Zidan memangkas ucapan Nayla dengan menempelkan jari telunjuk di bibir ranum wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.
"Nay, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah Ta'ala. Allah menyatukan kita, agar kita bisa saling melengkapi dan menyempurnakan," tutur Zidan sembari menatap lekat mutiara hazel yang membuatnya semakin jatuh cinta.
Zidan mengikis jarak dan menyapu wajah Nayla dengan bibirnya.
Tubuh Nayla seketika meremang saat Zidan meninggalkan tanda cinta di leher dan bagian tubuhnya yang terbuka diikuti uluran tangan--membuka kain yang membungkus seluruh tubuh indahnya.
__ADS_1
Netra Zidan berkabut gai-rah saat melihat keindahan yang tersaji di hadapan. Dua harta terindah yang menantang untuk disesap madunya.
Nayla mele-nguh, menikmati sentuhan demi sentuhan lembut bibir Zidan yang bermain di kedua hartanya.
Puas memanjakan Nayla dengan sentuhan bibir dan tangannya, Zidan tak sabar ingin segera mereguk kenikmatan surga dunia.
Lalu, diarahkannya bagian tubuh yang sedari tadi menegang ke arah lubang kenikmatan.
Meski bukan yang pertama bagi Zidan dan Nayla. Namun penyatuan raga yang mereka lakukan saat ini, terasa sangat nikmat. Bahkan kenikmatannya menjalar sampai ke ubun-ubun. Sebab mereka melakukannya setelah halal dan dengan niat untuk menyempurnakan ibadah.
Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Kita tinggalkan kedua insan yang masih tenggelam ke dalam asmaraloka dan kembali pada Alcha--Alif dan Chayra.
Setelah pulang dari acara resepsi, Chayra meminta Alif untuk mengantarnya ke Makam Raja-Raja Imogiri. Entah apa yang membuat Chayra tiba-tiba sangat berkeinginan pergi ke tempat itu.
Makam Raja-Raja Imogiri merupakan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yaitu raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Dengan terpaksa, Alif pun menuruti permintaan sang istri.
Mesin waktu menunjuk angka sepuluh malam saat mereka sampai di Makam Raja-Raja Imogiri.
Setelah meminta izin kepada penjaga makam tersebut, Alif dan Chayra menaiki anak tangga dengan perlahan.
Bulu kuduk Chayra seketika meremang, saat pandangan netranya tertuju pada sosok berbaju merah--tengah berdiri di atas pohon besar.
Di dalam hati, ia melafazkan ayat kursi dan sholawat seraya memohon perlindungan pada Illahi.
"Sayang, ada apa?" Alif melisankan tanya saat Chayra mengeratkan tautan tangannya.
Chayra mengacuhkan pertanyaan Alif dengan menggeleng samar dan menundukkan wajah tanpa mau berucap sepatah kata pun.
__ADS_1
"Yang, kita pulang sekarang ya! Udara malam tidak baik untuk kamu. Ditambah suasana di tempat ini ... teramat mencekam. Mas Alif khawatir jika kamu melihat sesuatu yang bisa --"
Chayra seketika menutup mulut Alif dengan telapak tangan. Sehingga ucapan suaminya itu pun terpangkas.
"Mas, jangan banyak bicara ya! Kita lanjutkan perjalanan sampai di ujung anak tangga. Aku mau melanjutkan menghitung anak tangga yang katanya berjumlah 409 buah," ujar Chayra berkilah.
Yang sebenarnya, Chayra sama sekali tidak menghitung anak tangga. Melainkan menghitung sosok tak kasat mata yang berada di tempat itu.
Chayra berusaha menghempas rasa takut yang sudah mendominasi sejak melihat sosok berbaju merah yang berdiri di atas pohon besar.
Selain melihat sosok berbaju merah, ia juga melihat beberapa abdi dalem yang ternyata bukan manusia melainkan sosok tak kasat mata.
Entah apa yang membuat Chayra tetap bersikukuh melanjutkan perjalanan hingga di ujung anak tangga? Mungkin karena keinginan calon bayi yang berada di rahimnya, atau ... ????
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Intermezzo dulu ya Kakak-kakak, sebelum kisah Alcha end 😉
Kenapa, keinginan Chayra sangat aneh bin nyleneh, yaitu dengan mendatangi Makam Raja-Raja Imogiri di malam hari? Jawabannya, karena author menyelipkan kisah nyata.
Dulu, sewaktu ibunda author mengandung, beliau sangat ingin pergi ke Makam Raja-Raja Imogiri di malam hari dengan menggunakan becak.
Sesampainya di makam tersebut, ibunda author melihat mbak cantik berbaju merah tengah berdiri di atas pohon besar dan para abdi dalem. Hanya ibunda author yang melihat sosok-sosok tak kasat mata tersebut. Sementara ayah, tidak melihat apapun.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan ibunda author sangat ingin mendatangi Makam Raja-Raja di malam hari saat mengandung Ayu-putrinya? Wallahu'alam, hanya Allah yang Maha Tahu 😊
Tetap stay hingga Alcha end. Dan jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan.
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 😉🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta 😘😘😘