Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Kemurkaan Ameer


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Keesokan paginya, seusai menikmati menu sarapan pagi hasil olahan tangan Chayra, Alif kembali menemui Rafa.


Ia melajukan mobil dengan tergesa sebab Rafa berulang kali menghubunginya dan meminta Alif agar segera datang.


Alif tiba di apartemen setelah selama setengah jam menaklukan jalanan kota Kairo yang cukup ramai.


"Bro, kenapa lama sekali? Sebentar lagi tuan Ameer dan istrinya sampai," ujarnya sembari menepuk bahu Alif dan memasang raut wajah masam.


"Maaf, tadi--Chayra memaksaku untuk sarapan dulu. Istriku faham jika suaminya kelaparan setelah semalam kami berolah raga." Alif tersenyum lebar dan berganti menepuk bahu Rafa.


"Haisshhh, ucapanmu itu membuat jiwa jombloku meronta-ronta, Lif. Di usiaku yang sudah memasuki angka 26 tahun, aku belum menemukan sosok wanita yang bersedia menjadi istriku. Aku sampai heran, Lif. Kekuranganku itu apa? Wajah tidak kalah handsome bila dibandingkan dengan kamu. Uang juga melimpah. Otak lumayan cerdas. Penyayang dan setia --" ucapnya dengan kepedean maksimal.


"Mungkin, kamu kurang berikhtiyar dan berdoa. Atau, karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengenal seorang wanita lebih dekat."


Rafa menghembus nafas sedikit kasar dan membenarkan ucapan Alif. "Kamu benar, Lif. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengenal seorang wanita lebih dekat."


"Aku berdoa, semoga Allah segera mendekatkan jodohmu, Fa. Rajin-rajinlah bersedekah dan sholat malam. Insya Allah, jodohmu akan segera hadir jika kamu menunaikan dua hal yang aku sebutkan tadi!" tuturnya diikuti lengkungan bibir.


"Baiklah Mas Kyai. Saya akan rajin bersedekah dan sholat malam."


"Jangan menyebutku kyai! Aku seorang pendosa dan masih minim ilmu agama, Fa. Tidak pantas disebut kyai." Alif berucap sendu.


"Lif, semua orang di dunia ini adalah pendosa atau mantan pendosa. Seorang kyai pun pernah berbuat dosa. Mulai saat ini, jangan terlalu rendah diri. Rendah hati boleh, tapi rendah diri jangan! Biarlah semua orang menghujat dan mencacimu. Yang terpenting adalah ... di hadapan Allah--kamu tidak hina --" tutur Rafa bijak.


"Trimakasih, Fa. Ucapanmu itu bagaikan embun yang menyejukkan."


"Syukurlah jika ucapanku tadi bisa menjadi penyejuk."


Terdengar ucapan salam diiringi suara bel pintu sehingga mengalihkan atensi keduanya. Seketika Alif dan Rafa memangkas obrolan mereka.


"Aku saja yang membuka pintunya, Lif --"

__ADS_1


"Baiklah, Fa."


"Tunggulah di sini! Mungkin tuan Ameer yang datang."


Alif membalas ucapan Rafa dengan anggukan kepala.


Rafa memutar handle dan membuka pintu dengan perlahan. Nampak seorang pria bertubuh tinggi dan berparas rupawan tengah berdiri sambil memainkan gawai.


"Maaf, benarkah Alif berada di sini?" tanya yang terlisan setelah Rafa membalas ucapan salamnya dan membuka pintu lebar-lebar.


"Yap benar." Rafa menjawab singkat.


"Syukur, alhamdulillah. Berarti saya tidak salah alamat." Pria itu berucap lega lalu menyimpan gawainya di saku kemeja.


"Kamu, Zidan 'kan? Sahabatnya Alif?" tebaknya. Rafa mengulurkan tangan dan Zidan pun menyambutnya.


Kedua pemuda itu saling berjabat tangan diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah rupawan mereka.


"Iya, anda benar. Anda ... Rafa? Detektif handal yang sering diceritakan oleh Alif."


"Baiklah, Fa. Maaf jika membuatmu tidak nyaman."


"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Santuy aja, Bro! Ayo masuklah ke dalam! Alif sudah menunggumu."


Zidan mengangguk dan membawa tubuhnya masuk ke dalam.


"Zi --" Alif menyapa Zidan lantas memeluk sahabatnya itu.


"Maaf Lif, aku baru bisa datang hari ini. Kemarin ada beberapa pasien yang harus aku operasi --" ujarnya setelah Alif melerai pelukan.


"Iya Zi, aku memaklumi. Lebih baik, bersiaplah untuk menyambut kedatangan kedua calon mertua kamu!"


Ucapan Alif sukses membuat Zidan bertanya-tanya.


"Kedua calon mertuaku? Maksudmu siapa, Lif?" Zidan mengerutkan dahi sehingga kedua pangkal alisnya saling bertaut.

__ADS_1


"Mereka ... papa dan mama kandung Elmira. Elmira yang kita kenal ternyata memiliki nama asli Adzkiya Nayla Taleetha. Bukan Elmira Najwa Syahla," Alif menjeda sejenak ucapannya lantas membeberkan semua kejahatan yang dilakukan oleh Fariz sekeluarga terhadap Ameer dan sang putri.


"Biada*. Di mana mereka? Aku ingin membunuh para penjahat itu, Lif." Zidan terlihat sangat emosi setelah Alif selesai membeberkan semua kejahatan yang dilakukan oleh Fariz sekeluarga.


Tangannya mengepal, netranya memerah karena api amarah yang bergejolak. Ingin rasanya, Zidan membunuh para penjahat itu dengan tangannya sendiri.


"Tenangkan dirimu, Zi! Sebentar lagi tuan Ameer dan istrinya tiba. Jangan sampai mereka melihatmu seperti ini!" Alif berusaha menenangkan Zidan dengan mengusap punggung sahabatnya itu.


Zidan mengangguk samar. Ia berusaha memadamkan api amarah dengan meraup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Sepuluh menit berlalu. Tamu yang mereka nantikan pun tiba.


Alif, Zidan, dan Rafa menyambut Ameer beserta istrinya dengan memasang senyum ramah sebelum mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa.


Setelah berbasa-basi, Rafa mengungkapkan secara detail kejahatan yang dilakukan oleh Fariz dan keluarganya tanpa ada satu pun yang tertinggal.


Ameer dan istrinya teramat murka. Keduanya ingin segera menemui ketiga penjahat yang telah mendorong putri mereka ke lembah penderitaan.


"Maaf tuan. Saya hanya menyekap Fariz dan Fahmi --" ucap Rafa dengan merendahkan intonasi suara.


"Lalu, di mana Fauziah?"


"Menurut informasi dari anak buah saya, Fauziah masih berada di rumahnya. Dia mengira, Fariz dan Fahmi tengah berada di luar kota."


Ameer menghembus nafas kasar dan mengepalkan tangan. "Bawa dia ke hadapanku! Aku ingin memberi para penjahat itu pelajaran sebelum menyerahkan mereka kepada penegak hukum."


"Baik Tuan. Saya akan segera memerintahkan anak buah saya untuk menjemput Fauziah."


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa like, komentar, vote, dan gift untuk menyemangati author.

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta 😘💝


__ADS_2