
Happy reading 😘😘😘
Langit berselimut awan hitam, menjadi saksi kembalinya seorang wanita yang berhati mulia kepada Robb-nya. Wanita itu ... Shella. Meski semasa hidupnya bergelimang harta, Shella memperlakukan semua orang sama.
Shella seorang wanita yang selalu ceria. Dia menebar kebaikan di manapun. Semua orang sangat menyayanginya. Terutama anak, menantu, dan juga cucu-cucunya.
Untaian doa dan air mata, mengiringi pemakaman jenazah Shella. Bahkan, langit pun ikut meneteskan air duka, setelah jenazah selesai dikebumikan.
"Sayang, kita pulang sekarang ya!" Alif tiada lelah membujuk istrinya. Bahkan, Keanu, Raina, dan keluarga yang lain pun turut membujuk. Namun Chayra masih enggan beranjak. Ia merasa sangat kehilangan sosok oma buyut yang selalu menjadi tempatnya bercerita dan berkeluh kesah. Dengan gaya bicaranya yang santai dan menyenangkan, Shella seringkali memberi wejangan kepada cucu-cucunya, tak terkecuali Chayra.
"Aku masih ingin di sini, Mas. Aku ingin menemani oma buyut dan berkeluh kesah dengan beliau. Aku sangat merindukan nasehat-nasehat beliau --"
"Sayang, masih ada kami yang berada di sisimu. Kamu bisa berkeluh kesah dengan kami --" Alif kembali membujuk.
"Iya, Chayra sayang. Yang diucapkan oleh suami kamu itu benar. Kamu masih mempunyai oma Kiran dan oma Alya. Kamu juga memiliki mama dan papa yang siap menjadi tempat berkeluh kesah. Satu lagi, kamu sudah mempunyai suami, Ra. Seorang istri akan lebih merasa nyaman bila berkeluh kesah dengan suaminya --" tutur Keanu sambil mengusap lembut jilbab sang putri.
__ADS_1
Sebenarnya, Chayra ingin berkeluh kesah dengan sang oma, papa, dan mamanya. Namun untuk saat ini, ia belum siap. Chayra sungguh tidak ingin, seluruh keluarganya menghujat dan menyalahkan Alif. Chayra berusaha memahami keadaan Alif.
Bagi Chayra, Alif tidak sepenuhnya bersalah karena berada di posisi terdesak. Saat itu, Alif tidak ingin mengecewakan ibu angkatnya. Alif juga tidak tega melihat wanita yang dicintainya berduka. Yang salah adalah dirinya sendiri. Mengapa mudah terpesona dan tidak mampu menggenggam hati.
Entah terbuat dari apa--hati seorang Ayunda Chayra Putri. Meski tersakiti, dia tidak mendendam bahkan berusaha memaklumi. Andai wanita lain yang berada di posisinya, mungkin akan sangat murka tanpa mau memahami dan mengerti. Bahkan merasa paling benar sendiri. Tak terkecuali sang penulis kisah ini, karena tidak bisa berbagi cinta apalagi berbagi suami.
Satu persatu para takziah melangkah pergi. Kini tinggal Alif dan Chayra yang berada di peristirahatan terakhir Shella.
"Sayang, hujan semakin deras. Kita pulang sekarang ya!"
Chayra mengangguk patuh. Ia membiarkan Alif menggendong tubuhnya yang serasa tanpa daya.
Sesampainya di rumah, Alif menyiapkan air hangat untuk Chayra. Ia juga menyiapkan pakaian ganti dan wedang jahe untuk wanita yang sangat dicintainya itu.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Chayra merebahkan tubuh di atas ranjang dan berniat memejamkan mata. Ia merasa pening dan mual. Tubuhnya serasa benar-benar tanpa daya.
"Yang, diminum dulu wedang jahenya, supaya tubuhmu hangat! Tidurnya, setelah minum wedang ronde ya!"
__ADS_1
Chayra mengangguk, kemudian beranjak dari posisi berbaring dan menyandarkan punggung pada headboard.
Alif mendaratkan bobot tubuh di atas ranjang lalu menyuapi Chayra dengan sangat telaten, hingga satu cangkir wedang jahe racikannya tandas.
"Tidurlah Yang. Mas Alif akan menjagamu di sini!" ucapnya setelah meletakkan cangkir di atas nakas.
"Mas, jangan pergi ya! Temani aku --" lirihnya seraya memohon.
"Mas Alif nggak akan pergi, Yang. Mas Alif akan menemani Sayang." Alif menerbitkan senyum dan membelai rikma Chayra.
"Mas, aku butuh kamu --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
UP nya sedikit dulu ya Kakak-kakak. Si othor nyambi nyiapin buka 😉
__ADS_1
Mohon maaf apabila salah kata dan bertebaran typo, trimakasih dan banyak cinta 😘💖