
Happy reading 😘😘😘
Alif melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia berharap, akan segera menemukan keberadaan Chayra. Karena kurang berhati-hati, hampir saja mobilnya menabrak mobil box yang melaju di depannya. Alif berdesah. Ia nampak sangat frustasi.
Setelah berhasil menaklukkan jalanan kota Kairo yang sangat padat, Alif tiba di bandara ketika hari menginjak sore.
Dengan tergesa Alif menaruh mobil di parkiran sebelum mencari Chayra, kekasih hatinya yang pergi tanpa berucap sepatah kata pun dan hanya meninggalkan pesan.
"Chayra, kamu di mana sayang? Kenapa tidak ada di sini?" Alif terus berlari dan berteriak sehingga mengalihkan atensi banyak orang.
Tubuhnya seketika lemas ketika membaca jadwal penerbangan yang terpampang di layar besar. Rupanya pesawat yang kemungkinan membawa Chayra baru saja lepas landas.
"Arggghhhhh ...." Alif berteriak frustasi dan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Ra, kenapa kamu pergi?" Alif berucap lirih sembari meluruhkan tubuhnya yang lelah. Ia sekejap memejamkan mata dan mengatur nafasnya yang berpacu.
Getaran gawai mengusik. Alif segera mengambil gawai dari saku kemejanya, berharap Chayra kembali mengirim pesan atau malah meneleponnya.
Alif menelan kekecewaan saat menatap layar gawai. Ternyata ada satu pesan yang dikirim oleh Elmira. Ia lantas menggeser layar gawai dan membaca isi pesan tersebut.
Cepat kembalilah ke rumah sakit, Lif. Dzikra mencarimu.
Selalu ... selalu ... dan selalu, Dzikra yang menjadi alasan Elmira untuk meluluhkan hati Alif.
Alif jengah. Ia menyimpan kembali gawainya di saku kemeja tanpa membalas pesan dari Elmira.
Dengan tanpa semangat, Alif membawa tubuhnya untuk berdiri. Ia berniat memesan tiket pesawat tujuan Indonesia yang akan terbang esok pagi. Alif memantapkan hati untuk menyusul Chayra, wanita yang harus diperjuangkannya.
Selepas meninggalkan bandara, Alif tak lantas kembali ke rumah sakit. Ia enggan bertemu Elmira. Alif curiga, kepergian Chayra ada sangkut pautnya dengan istri pertamanya itu.
Alif melajukan mobil Chevrolet berwarna copper, mengelilingi kota Kairo untuk melepas kepenatan.
"Chayra --" Alif berucap lirih saat pandangan netranya tertuju pada seorang wanita yang tengah berjalan gontai sambil menundukkan wajah. Dan ternyata benar, wanita itu Chayra.
__ADS_1
Chayra belum terbang ke kampung halamannya. Dia masih berada di Kairo.
Meski Chayra ingin pergi dari kehidupan Alif dan Elmira, tapi sisi hatinya berkata ... dia harus bertahan dan berjuang bersama pria yang kini telah merajai hatinya. Hingga Sang Penulis Skenario menghendaki keduanya bersatu atau berpisah. Chayra dilema. Sungguh ia sangat berat melepaskan Alif begitu saja. Bukankah, dia juga memiliki hak atas Alif.
Chayra bisa mengalah jika yang diminta adalah barang. Tapi jika yang diminta oleh Elmira adalah separuh nyawanya, Chayra tidak bisa ikhlas.
Batin Chayra terus berperang. Sehingga ia tidak menyadari langkah kakinya memijak jalanan yang ramai.
"Chayra awassss!!!" Alif memekik dan mendorong tubuh Chayra yang hampir saja tersambar mobil.
Teriakan Alif dan suara benturan yang cukup keras memecah kaca lamun. Chayra terkesiap saat melihat tubuh Alif dipenuhi darah segar yang mengalir cukup deras.
"Mas Alif." Chayra berteriak dan merengkuh tubuh Alif.
Dengan tangan gemetar, Chayra menyobek kemeja yang dikenakan oleh suaminya untuk membebat luka yang terus saja mengeluarkan darah segar.
"Mas, bertahanlah. Aku mohon!"
"Ra-ra, jangan pergi! Tetaplah di si-siku --" Mata Alif terpejam setelah mengucap kata-kata itu.
"Saya mohon, tolong suamiku! Please help my husband!"
Salah seorang pengguna jalan segera menelepon rumah sakit terdekat untuk mengirim mobil ambulance. Sementara si pengendara mobil yang telah menabrak Alif, langsung diamankan oleh beberapa pengguna jalan, setelah berusaha melarikan diri.
Menit berikutnya, mobil ambulance tiba di tempat kejadian. Para medis memeriksa kondisi Alif sebelum membawanya ke dalam mobil.
"Please save my husband's life!" pintanya mengiba. (Tolong selamatkan nyawa suami saya!) Chayra benar-benar diselimuti oleh rasa takut. Ia sangat takut jika kehilangan Alif, suami yang sangat dicintainya.
Para medis meminta Chayra masuk ke dalam mobil ambulance untuk menemani Alif.
Di dalam mobil, Chayra tak henti-hentinya melafazkan doa untuk keselamatan Alif sambil menggenggam tangan suaminya itu.
"Mas, maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi dan tetap berada di sisimu. Maafkan kebodohanku yang menyerah sebelum memperjuangkan cinta kita. Aku mengalah karena merasa bersalah dan lelah. Aku mengalah karena aku berada di posisi yang kedua. Tapi sekarang aku sadar. Aku harus tetap berada di sisimu, karena aku juga memiliki hak atasmu. Bukan hanya Elmira --"
Sesampainya di rumah sakit, para medis membawa tubuh Alif ke ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat). Setelah melakukan pemeriksaan, dokter yang berjaga memutuskan untuk melakukan operasi karena Alif mengalami pendarahan di kepala.
__ADS_1
"I beg you to do the best for my husband," (Saya mohon lakukan yang terbaik untuk suamiku) pintanya dengan nada suara yang terdengar bergetar dan penuh pengharapan.
"We will do our best for your husband. Pray for your husband." (Kami akan melakukan yang terbaik untuk suami anda. Berdoalah untuk suami anda).
Chayra mengangguk pelan dan berucap lirih. "Thank you Doctor."
Chayra mengantar Alif sampai di depan ruang operasi. Ia berusaha tegar meski rasa takut semakin mendominasi.
"Yaa Allah, Yaa Robb ... selamatkan nyawa suami hamba. Ampuni segala dosa-dosanya dan dosa-dosa hamba. Ijinkan kami memperbaiki kesalahan kami dan berikan keridhoan untuk cinta kami." Chayra meluruhkan tubuhnya di atas kursi. Ia menghubungi Zidan untuk memberitahu bahwa Alif mengalami musibah kecelakaan.
Zidan yang kebetulan masih berada di rumah sakit, segera menghampiri Chayra setelah memerintahkan anak buahnya untuk mengambil mobil yang masih berada di tempat kejadian.
"Ra --" sapanya lantas mendaratkan bobot tubuh di samping Chayra.
"Mas, mas Alif --" Suara Chayra tercekat. Lidahnya serasa kelu untuk berucap.
"Insya Allah, Alif akan baik-baik saja. Kita berdoa, semoga Allah menyentuhkan kasih sayang-Nya untuk Alif, karena suami kamu itu orang yang sangat baik dan dermawan. Dia berjualan tahu dan tempe untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami, para mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Jika bukan karena kebaikan dan kemuliaan hati Alif, mungkin kami akan hidup menggelandang dan kelaparan --"
"Kalian hidup menggelandang dan kelaparan?" tanya yang terlisan dari bibir Chayra diikuti tautan kedua pangkal alis.
"Iya Ra. Dulu sewaktu kami masih duduk di bangku kuliah, kami sering kekurangan uang. Beberapa dari kami hidup menggelandang karena asrama penuh. Ada yang tidur di atas kuburan. Ada juga yang tidur di atas tumpukan sampah. Bahkan, kami sering kelaparan. Kami bersyukur, karena Alif mengulurkan tangan tanpa pamrih. Dia membuat tahu dan tempe kemudian menjualnya. Dan hasil penjualannya, ia gunakan untuk menyediakan tempat tinggal agar kami tidak lagi menggelandang. Selain itu, dia juga memberi kami makan dan minum. Hati Alif mudah terketuk. Dia tidak tega melihat orang lain kesusahan dan menderita. Seperti apa yang telah ia lakukan terhadap Elmira. Meski mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya, Alif menikahi Elmira agar wanita itu tidak lagi nekat bunuh diri. Apa yang telah dilakukan oleh Alif memang sangat salah. Dan itu adalah khilaf terbesar dalam hidupnya. Tapi, tahukah kamu? Setelah menikahi Elmira, Alif tertekan. Dia tersiksa --" Suara Zidan tercekat. Dadanya serasa sesak jika mengingat kemalangan yang dialami oleh sahabatnya.
Sementara Chayra, tubuhnya berguncang hebat seiring air mata yang lolos dari telaga bening ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf jika bahasa Inggrisnya ada yang salah. Karena si othor nggak pandai bercakap dengan bahasa Inggris 😅🙏
Semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan ya Kakak-kakak ter love 😘
Dukung dan semangati author dengan selalu meninggalkan jejak. 😘
Trimakasih dan banyak cinta 💞
__ADS_1