
Happy reading 😘😘😘
Atas permintaan Zidan, satu minggu setelah pulang dari rumah sakit--Alif mengumpulkan bukti-bukti tindak kejahatan yang dilakukan oleh ayah angkat dan kakak angkat Elmira dengan bantuan Rafa, teman SMA-nya yang kini berprofesi sebagai seorang detektif.
Rafa memerintahkan anak buahnya untuk memata-matai Fahmi dan Fariz, serta mencari tahu awal mula Fariz dan istrinya mengangkat Elmira sebagai anak mereka.
Tanpa membutuhkan waktu lama, Rafa berhasil mendapatkan informasi dan data-data untuk menyeret Fariz beserta keluarganya ke meja hijau. Ternyata, mereka adalah dalang penculikan Nayla yang sengaja mereka ganti nama menjadi Elmira.
"Lif, akhirnya kamu datang juga, Bro." Rafa menyambut kedatangan Alif dengan mengulas senyum dan menjabat tangan teman sekaligus kliennya itu.
"Di mana mereka, Fa?" Alif mengedar pandangan ke seluruh ruang, mencari keberadaan dua curut yang dimaksud oleh Rafa. Mereka adalah Fariz dan Fahmi. Ayah angkat dan kakak angkat Elmira.
"Ada di dalam. Kamu tidak perlu khawatir, karena mereka tidak bisa melawan. Anak buahku melumpuhkan kaki dua curut itu dengan timah panas dan mengikat mereka dengan rantai. Dan satu lagi, aku sudah menghubungi tuan Ameer. Kemungkinan beliau dan istrinya akan sampai di Kairo besok pagi."
"Tuan Ameer? Siapa dia?" Alif melisankan tanya diikuti tautan kedua pangkal alisnya. Ia terlihat sangat penasaran dengan satu nama yang disebut oleh Rafa ... 'Ameer'.
"Tuan Ameer seorang dokter yang berasal dari Indonesia. Beliau menikahi wanita Mesir yang bernama Nafira. Keduanya dianugerahi dua orang anak. Satu orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Anak laki-laki mereka bernama Adnan dan anak perempuan mereka bernama Adzkiya Nayla Taleetha --" Rafa menggantung ucapannya sehingga Alif merasa penasaran.
"Lalu, apa hubungannya tuan Ameer dengan --"
"Tuan Ameer adalah ayah kandung Elmira," sahutnya memangkas kalimat tanya yang ingin dilontarkan oleh Alif.
"Fariz sengaja mengganti nama asli Elmira dan memalsukan data-data mengenai putri mantan majikannya itu. Fariz sangat licik. Dia memainkan sebuah drama yang sangat apik. Fariz menyewa orang untuk menculik Nayla dan meminta uang tebusan kepada tuan Ameer. Karena rasa sayang yang teramat besar kepada Nayla, tuan Ameer tidak ingin jika putrinya itu terluka. Beliau pun memberi uang tebusan dan menuruti perintah si penculik untuk tidak meminta bantuan kepada polisi --" Rafa kembali menggantung ucapannya dan membuat Alif semakin penasaran.
"Lalu apa yang terjadi, Fa?"
"Setelah si penculik menerima uang tebusan, tuan Ameer dipukul hingga pingsan. Fariz berpura-pura datang menjadi malaikat penolong. Dia membawa tuan Ameer ke rumah sakit dan meminta anak buahnya untuk menyembunyikan Nayla di tempat persembunyian yang sudah dipersiapkan olehnya. Beberapa bulan kemudian, Fariz resign dari pekerjaannya sebagai sopir pribadi tuan Ameer. Lantas ia membawa keluarga kecilnya dan Nayla ke LN. Setelah Nayla berusia remaja, mereka menetap di Mesir."
Alif tercengang. Ia tidak menyangka bahwa keluarga angkat Elmira teramat jahat.
"Lif, apa rencanamu selanjutnya? Kamu ingin memberi pelajaran--para penjahat itu terlebih dahulu atau langsung menyerahkannya kepada penegak hukum?"
__ADS_1
"Aku ingin menyerahkan mereka kepada tuan Ameer. Sebab beliau yang lebih berhak mengambil keputusan --" Alif menghela nafas berat sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin segera mempertemukan tuan Ameer dan istrinya dengan Elmira. Aku yakin, Elmira akan sangat bahagia bila bertemu dengan kedua orang tua kandungnya itu --"
"Itu pasti, Lif. Dan aku sangat yakin, tuan Ameer akan teramat murka jika beliau mengetahui perbuatan asusi-la yang dilakukan oleh dua curut itu terhadap Nayla. Fariz dan Fahmi akan beruntung jika tuan Ameer tidak memberi hukuman dengan memangkas bagian tubuh yang menjadi kebanggaan mereka sebelum menyerahkan keduanya pada penegak hukum."
"Aku berharap, Fariz dan keluarganya mendapat hukuman yang setimpal --"
"Aku juga berharap demikian, Lif. Mereka harus dihukum seberat-beratnya."
"Aku hampir lupa, Fa. Ini, ada titipan dari istriku," ucapnya sembari menyerahkan satu kotak makan kepada Rafa.
Rafa menerima kotak makan itu disertai binar yang terpancar di manik matanya. "Wahhhh, kebetulan sekali. Aku belum sarapan, Lif. Sampaikan ucapan terima kasih dariku untuk Chayra. Aku tidak pernah menyangka, kamu dan Chayra menjadi sepasang kekasih halal. Penantianmu selama ini tidak sia-sia Lif."
"Iya Fa, Alhamdulillah. Karena kasih sayang Allah, aku bisa bersatu dengan wanita yang selama ini aku cinta. Meski, aku harus menerima hujatan karena melakukan kekhilafan terbesar."
"Memangnya, siapa yang menghujatmu, Lif?"
"Sabar ya Lif. Sebenarnya yang salah itu bukan kamu, tapi penulis kisahmu --"
Alif mengangguk samar dan memasang raut wajah sendu.
"Aku sudah sangat lapar. Lebih baik, kita sarapan dulu, Fa!" ujarnya setelah sejenak terdiam.
"Okre Lif. Aku juga sudah sangat lapar. Setelah sarapan, aku akan mengantarmu untuk bertemu dua curut."
"Iya Fa."
Alif dan Rafa mendaratkan bobot tubuh mereka di atas sofa. Lalu keduanya mulai menikmati menu sarapan, hasil olahan tangan Chayra dan Elmira.
.....
Chayra nampak gelisah semenjak Alif meninggalkan rumah. Akhir-akhir ini, Chayra ingin selalu berada di dekat Alif. Entah mengapa sebabnya. Chayra pun tidak mengerti.
__ADS_1
Sebenarnya, Chayra ingin tinggal bersama Alif di apartemen. Namun karena merasa tidak enak hati pada Elmira, ia berusaha menahan keinginannya itu.
"Ada apa, Ra? Sepertinya, kamu sedang memikirkan sesuatu."
Suara Elmira memecah kaca lamun. Seketika Chayra merotasikan kepala dan menerbitkan seutas senyum.
"Aku kepikiran mas Alif, Mbak. Semenjak pergi tadi, mas Alif sama sekali tidak mengirim pesan atau meneleponku --"
"Kamu sudah mencoba menghubunginya?" Elmira kembali melisankan tanya sembari mendaratkan bobot tubuh di samping Chayra.
"Sudah Mbak. Tapi, nomer handphone-nya tidak aktif," jawabnya sendu.
"Mungkin, baterai handphone-nya habis, Ra."
"Iya Mbak, mungkin."
"Mulai nanti malam, kamu tinggal bersama Alif di apartemen. Tidak baik jika sepasang suami istri tinggal terpisah."
"Tapi, bagaimana dengan Mbak Elmira dan Dzikra?"
Elmira menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengusap jilbab Chayra dengan sayang. "Ra, tidak usah terlalu memikirkan kami. Yang terpenting, jagalah hubunganmu dengan Alif. Kasihan dia. Pasti setiap malam merindu belaian istrinya. Jangan membuat suami kamu tersiksa karena rasa rindu. Bukankah Dylan pernah berkata bahwa rindu itu berat, hmmm?"
"Mbak El --" Chayra menghambur ke pelukan Elmira. Keduanya saling berpeluk seiring rasa hangat yang mengalir di dalam jiwa.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa like, komentar, vote, dan gift untuk menyemangati author.
Trimakasih dan banyak cinta 😘💝
__ADS_1