
Happy reading 😘😘😘
Karena rasa rindu yang sudah tak tertahan pada Alesha, Shakilla meminta pulang ke kota Jogja pagi ini. Azmi pun mengabulkan permintaan istrinya itu.
Setelah berpamitan pada Robi, keduanya lantas terbang ke Jogja dan meminta Alif untuk menjemput mereka di bandara.
Setelah berada di dalam pesawat selama hampir satu setengah jam, Azmi dan Shakilla tiba di bandara YIA (Yogyakarta International Airport).
Manik mata Shakilla berbinar diiringi lengkungan bibir yang menghias wajah ayu kala pandangan netranya tertuju pada objek yang ia rindu. Siapa lagi jika bukan Alesha--putri kecilnya.
Shakilla berlari kecil menghampiri Chayra yang tengah menggendong Alesha, sementara Azmi mengekor istrinya dengan langkah santai.
"Alesha sayang." Dicium pipi tembam putrinya seraya meluapkan rasa rindu.
"Mama kangen, Sayang," ucap Shakilla sembari mengambil Alesha dari gendongan Chayra.
"Alesha rewel nggak, Kak?" tanya yang terlisan dari bibir Shakilla setelah membenahi posisi gendongannya.
"Nggak. Putrimu sama sekali nggak rewel, La. Semalam, Alesha tidur seranjang dengan Alcha. Baik Alcha maupun Alesha, keduanya nggak terjaga. Bangunnya pun nggak terlalu pagi," jawab Chayra diiringi sebaris senyum.
"Syukur--alhamdulillah --"
"Kalau Alesha nggak rewel, boleh dong kami nitip lagi, Mbak? Pengantin baru 'kan butuh berbulan madu, biar bisa segera memberi Alesha seorang atau dua orang adik sekaligus." Azmi memangkas ucapan Shakilla dengan melontarkan candaan sambil menaik turunkan alisnya.
Chayra terkikik geli, sementara Shakilla seketika menunduk--menyembunyikan wajahnya yang merah seperti kepiting rebus karena candaan Azmi.
"Tentu saja boleh, Az. Mau berapa purnama kalian berbulan madu, hmm? Mbak Chayra akan menyiapkan alat tempur untuk kalian."
Celotehan Chayra semakin membuat Shakilla tak kuasa memperlihatkan wajahnya. Ia merasa teramat malu.
Terbayang oleh Shakilla kejadian tadi pagi sebelum menunaikan ibadah sholat subuh ....
Setiap bangun tidur, Shakilla memiliki kebiasaan buang air kecil.
Dengan netra yang masih lima watt atau kelopak mata yang belum terbuka sempurna, Shakilla berjalan menuju kamar mandi.
Ia bergegas menurunkan celana lalu melakukan ritual buang air kecil.
"Achhh lega," ujarnya diikuti hembusan nafas lega. Tanpa ia sadari, sepasang mata menatapnya tanpa berkedip.
Pemilik sepasang mata itu sempat terkejut saat Shakilla tiba-tiba membuka pintu kamar mandi yang terlupa tidak dikunci olehnya. Shakilla lantas masuk ke dalam dan melakukan ritual buang air kecil di hadapannya.
"Ehem."
__ADS_1
Shakilla membuka kelopak mata lebar-lebar kala terdengar suara deheman. Sontak, wanita berambut blonde itu terlonjak dan berteriak.
"Dek, kenapa berteriak, hmm?"
Tidak ada sahutan dari Shakilla. Wanita cantik itu menutup wajahnya dengan telapak tangan setelah mengekspresikan keterkejutannya dengan berteriak.
Bukannya segera menutup tubuh polosnya dengan handuk, Azmi malah merengkuh tubuh Shakilla dan kembali memutar shower.
"Kita mandi bareng yuk, Dek!" bisiknya yang membuat tubuh Shakilla meremang.
Shakilla tidak mampu menolak. Bahkan ia mengizinkan Azmi untuk membuka seluruh kain yang membalut tubuhnya.
Apa yang terjadi kemudian? Sepasang kekasih halal itu mandi bersama lalu melanjutkan ritual penyatuan raga di atas ranjang.
Azmi merasa sangat bahagia sebab baru pertama kali mereguk kenikmatan surga dunia--penyatuan raga bernilai ibadah.
Lantas, bagaimana dengan Shakilla? Ia tak kalah bahagia sebab Azmi memperlakukannya dengan sweet dan lembut. Sangat berbeda dengan sang mantan kekasih--Erdwad yang selalu kasar ketika bermain di atas ranjang.
"Ma-ma, ma-ma." Suara baby Alesha menyadarkan Shakilla dari lamun. Ia pun lantas mengalihkan atensi pada putrinya.
"Apa Alesha sayang? Alesha mau mimik ya?"
Seolah mengerti ucapan mamanya, Alesha mengangguk dan tersenyum nyengir--memperlihatkan dua gigi putihnya.
"Okey La. Sekalian kita pulang ya. Mas Alif dan Alcha sudah menunggu di mobil."
"Owh, jadi mas Alif dan Alcha menunggu di mobil? Baru saja mau saya tanyakan Mbak," sahut Azmi seraya menimpali ucapan Chayra.
"Iya Az. Sebenarnya, tadi mas Alif aja yang mau menyusul kalian, tapi karena Alcha merengek ingin ikut, makanya mas Alif membawa kami ikut serta. Eh sesampainya di bandara, si Alcha malah bobok," terang Chayra.
"Maaf ya Kak, malah merepotkan Kakak dan Bang Alif," tutur Shakilla merasa tidak enak hati.
"Harus berapa kali, aku mengingatkanmu, La? Kamu sudah kami anggap sebagai adik, jadi nggak ada kata repot di kamus kita." Chayra melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang raut wajah tidak suka.
Sebenarnya, Chayra hanya bercanda. Namun Shakilla serius menanggapinya.
"Maaf Kak," cicit Shakilla tanpa berani menatap wajah Chayra.
"Sudahlah! Kamu nggak perlu minta maaf. Tadi, aku cuma bercanda. Yuk kita ke mobil! Kasihan Alesha, pasti putrimu itu sudah sangat haus." Chayra tersenyum lalu menggamit lengan Shakilla.
Kedua wanita cantik itu pun lantas mengayun kaki dan diikuti oleh Azmi yang berjalan di belakang mereka.
....
Sebelum kembali ke pondok pesantren Al Hidayah, Alif membawa mereka ke Yayasan ALCHA untuk bertemu dengan anak-anak yatim piatu serta para donatur yang membantu memenuhi seluruh kebutuhan anak-anak yang bernaung di yayasan tersebut.
__ADS_1
Siapa saja para donatur itu? Mereka adalah para pembaca setia, sahabat, dan keluarga besar Imam Pengganti Untuk Chayra.
Kedatangan Alif, Chayra, Azmi, Shakilla, serta kedua malaikat kecil--Alcha dan Alesha disambut antusias oleh anak-anak yatim piatu dan para donatur.
Bucket bunga dan senyum nan indah mereka persembahkan sebagai wujud rasa terima kasih. Karena berkat kemuliaan hati Alif dan rasa kasih sayangnya terhadap sesama, yayasan ALCHA berdiri.
Alif yang semula dihujat, dibenci, disalahkan karena khilaf terbesar yang pernah ia lakukan di masa lalu, kini disanjung dan dicintai oleh semua insan yang mengenalnya ....
Lewat kesalahan, kita bisa mengenal kata maaf. Lewat kata maaf kita berusaha memperbaiki kesalahan. Dengan menangkupkan kedua telapak tangan, penulis kisah Imam Pengganti Untuk Chayra menghaturkan kata maaf atas segala khilaf yang sengaja maupun tidak disengaja.
Percayalah, bahwa tidak mudah untuk mencipta sebuah karya. Terlebih karya yang memperhatikan diksi dan mengandung hikmah. Sehingga, penulis kisah ini dan para sahabat jarang bisa duble UP, bahkan terkadang tidak bisa UP.
Biarlah saat ini perjuangan kami dipandang sebelah mata oleh petinggi apli-kasi ini. Namun yang terpenting bagi kami, Kakak-kakak ter love selalu hadir dan mendukung serta memberi motivasi agar kami terus semangat berkarya.
Terima kasih dan salam cinta untuk readers setia yang telah mengawal kisah cinta Alif dan Chayra hingga end. 😊🙏
Sampai berjumpa kembali di karya baru author yang masih sepi pembaca 'DERANA'. 😉
🌹🌹🌹🌹
END
Sinobsis DERANA, diadaptasi dari kisah nyata 🌹
Bagaimana rasanya jika indahnya ucapan ikrar janji suci sebuah pernikahan malah justru menjadi awal dari kisah hidup berderai air mata?
"Kau hanya menantu di sini! Selesaikan semua pekerjaan, baru boleh makan!"
Bagaimana rasanya, suami yang seharusnya menjadi sandaran kokoh malah melemparnya ke jurang derita?
"Beraninya kau melawan ibuku?! Dasar istri sampah, tidak berguna!"
Bagaimana rasanya keluarga yang seharusnya menjadi tempat terakhir menumpahkan lara justru mencaci dan mengusir?
"Anak durhaka, anak pembawa sial! Aku benar-benar menyesal sudah melahirkan anak setan sepertimu."
Takdir seolah turut mencekik dengan erat. Selimut bahagia pun seakan enggan mendekap hangat.
Namun, di saat keputusasaan datang menyapa, Tuhan pun mengulurkan tangan-Nya.
Dia menghadirkan sesosok malaikat yang mampu menyeka air mata duka dan menyentuhkan bahagia ....
🍁🍁🍁
__ADS_1