
Happy reading 😘😘😘
Sama seperti Chayra, Alif hanya bisa mengadu pada Robb-nya. Di sepertiga malam, ia menunaikan sholat sunah dua rakaat untuk memohon petunjuk dan merayu Illahi agar rumah tangganya dengan Chayra tidak berakhir sampai di sini. Sungguh, Alif tidak akan sanggup melepas wanita yang ia cinta dan telah dimiliki seutuhnya.
Butir-butir cinta yang menetes dari kedua sudut netra mengiringi bait-bait rindu yang terlisan di dalam kalbu. Alif rindu sentuhan jemari lentik dan kecupan hangat istrinya. Ia juga rindu pelukan yang selalu mampu menenangkan dan mendamaikan jiwa.
Kumandang adzan subuh membangunkan jiwa yang terbuai nestapa. Memaksa tubuh yang lemah untuk segera bangkit dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba.
Alif dan Chayra menunaikan ibadah sholat subuh dua rakaat di tempat yang berbeda dengan penuh kekhusyu' an. Mereka berpasrah, berserah kepada Illahi Robbi, Tuhan Yang Maha Berkehendak atas goresan takdir yang tertulis untuk mereka.
Untaian doa dan lantunan kalam cinta menyertai dzikir yang mereka lisankan seusai mengucap dua salam.
Setelah menaruh sarung dan sajadah, Alif mengayun tungkai menuju dapur. Ia berniat untuk memasak makanan kesukaan Chayra.
Meski seorang pria, Alif sangat lihai memainkan spatula. Karena terlalu asyik, sampai-sampai ia tidak mendengar suara jeritan benda pipih yang tergeletak di atas meja.
"Alhamdulillah selesai. Semoga, Chayra menyukainya --" ujarnya penuh harap.
Suara langkah kaki mengalihkan atensi Alif yang tengah menata nasi dan lauk pauk di atas meja. Seketika ia pun menoleh ke arah sumber suara.
"Chayra --" lirihnya. Alif menerbitkan senyum--menyambut kedatangan sang bidadari hati.
"Yang, mas Alif sudah menyiapkan sarapan untukmu. Semoga kamu menyukainya."
__ADS_1
"Hmm. Trimakasih --" jawabnya singkat lalu menarik kursi sebelum mendaratkan bobot tubuh dan diikuti oleh Alif.
"Oma telepon --"
"Bunda Kiran?"
"Hmmm. Beliau meminta kita untuk menghadiri acara tasyakuran pernikahan mas Rizqi dan mbak Nadhira yang dilaksanakan nanti selepas waktu isya, di pondok pesantren Al Hidayah. Tadi, oma telepon kamu, tapi nggak diangkat --"
"Owhh, mungkin ... waktu mas Alif sedang asyik memasak makanan kesukaanmu, Yang."
"Mengenai masalah rumah tangga kita, jangan sampai oma dan yang lain tau. Cukup kita saja. Kita selesaikan berdua. Di hadapan mereka, kita bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa --" ucapnya datar dan tanpa menatap lawan bicara.
"Iya Yang. Mas Alif sependapat denganmu. Lebih baik, kita sarapan dulu. Setelah sarapan, kita berbincang lagi --"
Chayra bergeming. Ia sama sekali tidak menanggapi ucapan Alif. Rasa yang berkecamuk di dalam dada, membuatnya enggan menyentuh makanan yang terhidang di atas meja. Chayra sama sekali tidak merasa lapar. Ia sudah kenyang dengan kenyataan pahit yang terpaksa ditelannya.
Alif menghembus nafas sedikit kasar dan menatap punggung Chayra hingga hilang dari pandangan mata. Entah bagaimana lagi, dia berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang istri yang kini telah retak.
Ditatapnya sendu semua makanan yang terhidang di atas meja hasil kerja keras tangannya, cap chay goreng, ifu mie, ayam goreng saus mentega, tahu, dan tempe goreng serta kerupuk udang. Semua makanan itu kesukaan Chayra. Bila hatinya sedang tidak bertudung mendung, Chayra pasti melahapnya hingga tandas, tak bersisa.
Alif menutup semua makanan itu dengan tudung saji yang terbuat dari anyaman bambu. Ia berharap, Chayra akan sudi memakannya jika sudah merasa lapar.
Dengan langkah gontai, Alif menyusul Chayra yang kini tengah duduk di balkon. Ulu hatinya terasa nyeri saat menatap wajah murung sang istri yang biasanya terlihat ceria.
Alif meluruhkan tubuh dan bersimpuh di hadapan Chayra. Ia berharap, hati Chayra akan melunak dan bersedia memaafkan kesalahan terbesar yang telah ia lakukan. "Yang, mas Alif minta maaf. Maaf karena telah membuatmu kembali terluka. Mas Alif siap menerima hukuman apapun dari kamu. Tapi, jangan meminta mas Alif untuk melepasmu. Mas Alif tidak sanggup bila harus berpisah denganmu, karena mas Alif sangat mencintaimu --" .
__ADS_1
Seharusnya, Alif berkata jujur sebelum mengucap kalimat kabul dan mengikat Chayra dengan ikatan suci. Seharusnya dia menolak permintaan Kirana, karena sudah mengira akibatnya akan seperti ini. Namun karena rasa cinta yang teramat besar, Alif mengabaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dan sekarang telah terbukti. Bom waktu itu, kini telah meledak dan menghancurkan wanita yang ia cinta.
Chayra menghembus nafas kasar. Ia mulai berlisan kata, tanpa mengalihkan pandangannya dari kegagahan Gunung Merapi. "Aku sudah sangat mempercayaimu hingga rela memberikan kesucian yang selama ini aku jaga. Tapi ternyata aku salah. Seharusnya, aku menggenggam hatiku. Seharusnya, aku tidak mudah terpedaya pada perhatianmu yang sangat manis --" Chayra menjeda sejenak ucapannya dan menelan ludah yang serasa sangat pahit sebelum kembali berlisan kata.
"Aku tidak akan memintamu melepasku. Tapi mulai saat ini, kita tidur di ranjang yang berbeda Mas. Aku takut, tidak bisa menghapus kenangan indah yang kita lalui bersama bila suatu saat nanti ... Allah menghendaki kita berpisah. Masih ada dia yang menantimu di Kairo. Dia lebih membutuhkan bahumu untuk bersandar dari pada aku. Sebagai istri kedua, aku sadar diri Mas. Aku dan kamu tidak boleh egois. Meski cintamu hanya untukku tapi perlakukan dia selayaknya seorang istri. Dia juga lahanmu untuk beribadah." Chayra berusaha tegar meski hatinya remuk redam. Ia menahan tangis dengan melipat bibirnya dan sekejap memejamkan mata. Sungguh teramat sakit rasanya membayangkan Alif menjamah wanita lain dan membayangkan perpisahan yang sama sekali tidak ia inginkan, karena terlanjur menyerahkan hati dan raganya kepada Muhammad Alif Firdaus, imam pengganti yang ia yakini bisa membalut luka serta mewarnai dunianya yang semula muram karena pengkhianatan Damar.
Sementara Alif, ulu hatinya semakin terasa nyeri kala mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Chayra. Ia sungguh tidak bisa menjamah Elmira, wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Mengecup kening Elmira saja tidak pernah ia lakukan. Apalagi jika harus menjamah dan menyatukan raga dengan istri pertamanya itu.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
Semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan ya Kakak-kakak ter love 😘
Dukung dan semangati author dengan selalu meninggalkan jejak like 👍
Beri komentar
Tabok ❤ untuk favoritkan karya
Tabok juga ⭐⭐⭐⭐⭐
Beri gift atau vote seikhlasnya
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta 💞