Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
PLEASE!!!


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Cucuku --" Nafira mengulurkan tangannya dan mengambil Dzikra dari gendongan Chayra.


Bayi berusia satu tahun itu nampak antusias. Ia tertawa dan melonjak kegirangan saat Nafira mengangkat tubuhnya sambil menciumi perutnya dengan gemas.


"Panggil oma, Sayang! O-ma!"


"O-ma." Nafira tersenyum lebar dan terharu saat Dzikra memanggilnya oma.


"Sayang, panggil opa! O-pa!"


"O-pa." Dzikra tersenyum nyengir, memperlihatkan dua giginya yang menyerupai gigi kelinci. Lucu dan bertambah menggemaskan.


"Masya Allah, pintar sekali cucu Opa dan Oma." Ameer menciumi pipi Dzikra dan mengusap lembut kepala bayi pintar itu.


"Nay, putrimu sangat pintar. Siapa nama panjangnya?" Nafira melisankan tanya dan mendaratkan bobot tubuhnya di samping Nayla diikuti oleh Ameer.


"Dzikra Najwa Syahla, Ma." Nayla tersenyum. Ia menyambut uluran tangan Dzikra lalu memangku putrinya itu.


"Nama yang sangat cantik. Secantik parasnya. Dzikra sangat mirip dengan kamu sewaktu kecil, Nay. Dulu, kamu juga pandai bicara dan sangat aktif." Netra Nafira berkaca-kaca saat ingatannya mengait ke masa yang telah lalu. Masa disaat Nayla masih berusia satu tahun, sama seperti usia Dzikra saat ini.


"Mama --" Satu tangan Nayla merangkul bahu mamanya dan satu tangannya yang lain--melingkar di tubuh Dzikra. Lalu dikecupnya dalam pelipis sang mama.


"Lebih baik, kita menikmati hidangan yang tersaji. Setelah itu, lanjut yang kangen-kangenan. Papa sudah sangat lapar Ma," ucap Ameer menginterupsi sembari mengusap perutnya yang sudah berteriak nyaring.


"Baiklah, Papa. Ayo anak-anak, kita nikmati hidangan yang tersaji!" seru Nafira.


"Ayo Mommy." Zidan menyahut ucapan calon mertuanya disertai senyum yang mengembang.


Nafira mengambil piring kosong kemudian mengisinya dengan nasi dan berbagai macam lauk. Lantas menikmati makanan itu sepiring berdua dengan suaminya. Sweet dan sukses membuat iri.

__ADS_1


Kali ini Chayra dan Nayla memasak makanan khas Indonesia yang menggugah selera. Sehingga Ameer dan Nafira sangat lahap.


Seolah tidak mau kalah. Alif dan Chayra pun makan sepiring berdua. Berbeda dengan Nayla dan Zidan. Meski mereka makan di piring yang berbeda. Namun keduanya saling menyuapi.


Ketiga pasangan itu terlihat sangat romantis. Seolah mereka terlupa ada pria jomblo yang tengah meratapi nasibnya dan menangis di dalam hati.


Rafa hanya gigit jari menyaksikan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Selera makannya pun tiba-tiba menghilang.


"Dzikra, cepatlah besar! Jadilah pasangan mamas," gumamnya dan dibalas celotehan oleh Dzikra.


"Mam-mam. Mam-mam."


"Wah, Dzikra mau mam-mam sama mamas? Hayuk akh, sini mamas suapin."


Celotehan Dzikra dan Rafa menggelitik indra pendengaran sehingga memaksa para pasangan yang tengah asik menikmati momen romantis, seketika menghentikan ritual mereka.


Tawa mereka mengudara saat Dzikra menyuapi Rafa dengan biskuit yang dipegangngya.


"Mam-mam. Mam-mam."


Bukan Dzikra yang menyuapinya. Melainkan Zidan. Calon suami Nayla itu menyuapi Rafa dengan satu senduk sambal terasi yang pedasnya nampol.


Semua tergelak, tak terkecuali Dzikra.


"Parah kamu, Zi. Tega banget membakar mulutku." Diraihnya segelas air putih dingin lantas diminumnya hingga tandas.


"Makanya, jangan keganjenan sama anak bayi!"


"Hilihhh, sebentar lagi si Dzikra juga sudah gede. Dan aku hanya tinggal menantinya dengan setia."


"No. Jangan menanti Dzikra! Kasihan dia kalau berjodoh dengan perjaka tua."


"Siapa yang perjaka tua?"

__ADS_1


"Kamu."


"Aku masih muda, Bro. Umurku juga baru dua puluh lima tahun --"


"Sekarang dua puluh lima tahun. Dan dua puluh tahun lagi umurmu sudah empat puluh lima tahun. Itu artinya, kamu bakal jadi perjaka tua kalau menanti Dzikra gede --"


"Stop-stop!" Nafira menginterupsi. Rafa dan Zidan pun sontak menghentikan perang mulut di antara mereka.


"Kalian berdua sudah dewasa. Kalau mau perang mulut jangan di depan Dzikra. Kasihan dia. Nanti bisa meniru kalian," tutur Nafira tegas.


Rafa dan Zidan terdiam. Keduanya saling melempar tatap.


"Sekarang, Mas Zidan dan Mas Rafa berpelukan dong! Saling maaf-maafan!" pinta Chayra sambil mengerling dan tersenyum.


"Ogah --"


"Aku juga ogah --" sahut Rafa lalu memalingkan wajah.


"Please, demi keponakan kalian!" Chayra kembali melisankan pinta dan memasang wajah puppy eyes.


Ucapan Chayra berhasil membuat semua orang yang mendengarnya tercengang. Terutama Alif.


"Keponakan?"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Sesuai permintaan pembaca setia, author usahakan double UP nich 😘


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa like, komentar, vote, dan gift untuk menyemangati author.

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta 😘💝


__ADS_2