
Happy reading 😘😘😘
Saat ini Alif dan Zidan tengah menikmati makan siang di restoran yang berada tidak jauh dari rumah sakit ICPA.
Setelah menandaskan satu porsi salad sayur dan segelas air putih, keduanya berbincang mengenai kehidupan rumah tangga mereka yang dinaungi oleh kebahagiaan.
Di sela-sela perbincangan itu, Alif menceritakan kejadian yang dialaminya ketika ia berada di rooftop rumah sakit sebelum makan siang bersama Zidan.
"Aku merasa dejavu Zi," ucapnya mengakhiri cerita diikuti helaan nafas dalam.
Zidan menerbitkan senyum dan menepuk bahu Alif. Kemudian ia pun menanggapi cerita sahabatnya itu, "apa yang kamu lakukan sudah sangat tepat, Lif. Tegas dan nggak gegabah mengambil keputusan. Mulai saat ini, hindari rooftop rumah sakit! Karena sepertinya, banyak jin wanita yang mengintaimu di tempat itu."
"Banyak jin wanita mengintaiku?" Alif bertanya heran disertai tukikan kedua pangkal alisnya.
"Iya, Lif. Jin wanita penggoda," kelakar Zidan--mengudarakan tawa.
"Sudah dua kali, kamu mengalami kejadian yang sama di tempat yang bernama 'rooftop rumah sakit'. Dulu Elmira, maksudku ... Nayla. Dan sekarang seorang gadis belia. Jangan sampai gadis yang kamu tolong itu menyukaimu dan berniat jadi pelakor," sambungnya sambil menjumput keripik jagung lalu dimasukkannya ke dalam mulut.
"Aku rasa, omonganmu ada benernya Zi. Aku harus menghindari rooftop rumah sakit. Aku nggak ingin, kisah lama terulang kembali," sahut Alif seraya membenarkan perkataan Zidan.
Pria bermata teduh itu kembali menghela nafas dalam dan sekejap memejamkan netra kala terbayang kisah kelamnya di masa lalu. Ia tidak ingin kembali melakukan khilaf yang mendorongnya ke lembah penyesalan dan palung duka.
Cukup sekali saja Alif melakukan kekhilafan terbesar di dalam hidupnya. Dan kekhilafan yang ia lakukan di masa lalu, biarlah menjadi pelajaran serta pengingat agar tak terperosok ke dalam lubang yang sama.
"Oya, bagaimana kabar Nayla dan Dzikra?" Alif mengalihkan topik pembicaraan dengan melontarkan kalimat tanya setelah keheningan sejenak menyapa mereka.
"Alhamdulillah, istri dan putriku baik-baik saja, Lif. Mereka dalam keadaan sehat dan tentunya ... bahagia." Tak lupa Zidan menyelipkan senyum yang mengembang kala menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Alif--sahabatnya terkasih.
"Syukur--alhamdulillah. Aku turut bahagia mendengarnya, Zi. Kalau Sarah dan kakak iparmu ... mereka masih di Jerman?"
"Iya. Sarah dan suaminya menetap di Jerman, Lif. Sedangkan kedua mertuaku, pindah ke Kalimantan. Aku merasa, mereka sengaja menjauh dariku. Bibir mereka bisa berkata ikhlas memaafkan dosa besar yang pernah aku lakukan. Tetapi hati, hanya mereka dan Allah saja-lah yang tahu." Raut wajah Zidan berubah sendu seiring binar matanya yang meredup.
__ADS_1
Zidan merasa, keluarga Nayla tak sepenuhnya bisa menerima kehadirannya dan memaafkan dosa besar yang pernah ia perbuat terhadap Sarah di masa lalu.
Kakak iparnya seolah sengaja membawa Sarah hijrah ke Jerman, supaya bisa menjauh dari Zidan. Dan kedua mertuanya, juga hijrah ke Kalimantan. Sehingga kediaman mereka digunakan untuk tempat tinggal para tuna wisma atas ijin dari Ameer.
Sementara Zidan dan keluarga kecilnya tinggal di rumah yang baru dibeli satu bulan lalu.
Alif mengusap bahu Zidan seraya membesarkan hati sahabatnya itu. "Zi, jangan suudzon! Husnudzon lah terhadap mereka! Kakak iparmu sengaja membawa Sarah hijrah ke Jerman, karena perusahaan yang didirikan olehnya ... melebarkan sayap di negeri itu. Sedangkan kedua mertuamu hijrah ke Kalimantan karena ingin menghabiskan masa tua di tanah leluhur mereka," tutur Alif dan membuat Zidan menautkan kedua pangkal alis karena rasa heran yang memenuhi pikirannya kini.
"Bagaimana, kamu bisa tahu alasan mereka berhijrah, Lif?"
"Chayra yang memberitahu. Dan Chayra tahu dari Nayla. Istrimu itu selalu betah jika ber-chat ria dengan istriku. Banyak sekali yang dia ceritakan termasuk ke o-mesanmu," jawab Alif berterus terang.
"Oya? Dia bilang apa Lif? Maksudku, dia cerita apa tentang ke-omesanku?" cecarnya dipenuhi rasa ingin tahu.
Alif tergelak kala menyaksikan ekspresi Zidan yang tampak berlebihan bin menggelikan. Sampai-sampai, titik-titik air bergelayut manja di pelupuk netranya.
"Lebih baik, kamu baca aja chat Nayla di gawainya, Zi! Aku sampai ngakak waktu Chayra menunjukkan chat yang dikirim oleh Nayla mengenai ke-omesanmu," ujar Alif setelah tawanya mereda.
Kedua dokter muda berwajah rupawan itu pun menyudahi perbincangan mereka kala terdengar kumandang suara azan. Dan kembali menunaikan tugas setelah menjalankan ibadah sholat dzuhur berjamaah di masjid Al-Ikhlas.
Mentari kembali ke peraduan saat Alif tiba di rumah.
Senyum yang teramat manis dipersembahkan oleh Chayra untuk menyambut Alif--suaminya tercinta.
Setelah membersihkan badan, makan malam, dan menunaikan sholat isya, Alif dan Chayra membaringkan tubuh mereka yang lelah di atas ranjang.
Saat ini, sepasang Adam dan Hawa itu berbaring dengan posisi saling berhadapan sembari bercengkrama.
Alif menagih Chayra agar bercerita mengenai mimpi yang membuat istrinya itu tersenyum dalam tidurnya.
Sebenarnya, Chayra teramat malu menceritakan perihal mimpi yang menurutnya memalukan. Namun karena suami handsome-nya itu memaksa, Chayra pun terpaksa bercerita.
"Janji, jangan menertawakan bunda ya, Yah!" pinta Chayra sebelum mulai bercerita.
__ADS_1
"Iya, Bunda sayang. Ayah janji nggak akan menertawakan Bunda," tutur Alif lantas melabuhkan kecupan di kening dan usapan lembut di pipi merona Chayra.
"Pertama, bunda bermimpi bertemu dengan Dita Nofiya--sahabat bunda yang saat ini berada di Taiwan. Di dalam mimpi itu, wajah Dita sangat lucu. Bibirnya monyong, giginya item, dan alisnya seperti Sinchan. Bunda jadi geli, Yah --" Chayra terkikik geli kala terbayang mimpinya tentang Dita Nofiya. Sementara Alif, berusaha menahan tawa yang hampir meledak dengan melipat bibirnya.
"Mimpi yang kedua, apa Bund?" tanya Alif kemudian.
"Mimpi yang kedua ... Bunda meminta Ayah untuk membuat adonan kue Boboho. Karena Ayah cuek dan seolah tak acuh, bunda mengenakan lingerie yang sangat seksih --" Chayra membenamkan wajahnya yang sudah terhias rona merah di dada bidang Alif. Untuk sekedar menatap wajah rupawan suaminya, ia sungguh teramat malu.
"Terus?" Alif menarik kedua sudut bibirnya dan membelai rikma Chayra yang panjang terurai.
"Ayah pun tergoda. Lalu, kita melakukan ritual penyatuan raga semalaman dan berakhir ketika tiba waktu subuh --" Chayra menggigit bibir bawahnya dan semakin membenamkan wajahnya. Rasa malu yang mendominasi, membuatnya enggan menengadahkan kepala.
Alif melebarkan senyum. Dikecup lama pucuk kepala Chayra lalu diangkatnya dagu kekasih halalnya itu sehingga wajah merona nan ayu tampak memenuhi ruang pandang.
"Ayah akan mengabulkan permintaan Bunda sehingga mimpi yang kedua menjadi nyata," tutur Alif yang membuat wajah Chayra semakin merona.
Selanjutnya, terjadilah ritual yang membuat candu sepasang kekasih halal itu.
Seolah mengerti ha-srat kedua orang tuanya tengah meng-gebu, baby Alcha terlelap dan sama sekali tidak rewel.
Belum sampai tiba waktu subuh, Alif dan Chayra menyudahi ritual penyatuan raga sebab tubuh mereka serasa lelah. Ditambah rasa kantuk yang sudah tidak dapat lagi dicegah.
Keduanya hanya bisa memejamkan netra selama dua jam. Sebab dua jam kemudian, suara kerinduan Illahi terdengar mengudara ....
Assolatuhoiruminannaum. Assolatuhoiruminannaum
Sholat itu lebih baik dari pada tidur, Sholat itu lebih baik dari pada tidur
🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah bisa UP boncap Alcha lagi. Semoga Kakak-kakak ter love tidak bosen ya 😉
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta 😘😘😘