Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Boncap 9


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu meninggalkan jejak kenangan yang masih terpatri di dalam memori.


Berbagai kisah tertulis dalam lembar kitab-Nya, baik kisah sedih atau pun kisah yang menyiratkan bahagia.


Lantas, bagaimana kisah Azza Shakilla? Seorang Hawa yang diselamatkan nyawanya oleh Muhammad Alif Firdaus--imam pengganti yang dipilihkan oleh Ayunda Kirana untuk Ayunda Chayra Putri, sang cucu tercinta.


Atas kehendak Sang Penulis Skenario, kisah Shakilla terangkai dengan dihiasi oleh kebahagiaan. Duka yang semula berkawan dengannya, perlahan pamit undur diri.


Enam bulan lalu, malaikat kecil yang dikandung oleh Shakilla selama sembilan bulan lebih sepuluh hari, terlahir ke dunia dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Malaikat kecil yang cantik jelita itu ia beri nama ... Alesha Azkia.


Nama yang terangkai indah tersebut memiliki arti ... anak perempuan yang kaya dan dermawan, selalu dilindungi Allah SWT.


Shakilla mengikhlaskan perusahaan dan seluruh harta peninggalan kedua orang tuanya untuk dinikmati oleh Doni sekeluarga.


Ia juga menghempaskan dendam terhadap Erdward yang semula memenuhi ruang kalbu, meski mantan kekasihnya itu telah menorehkan luka dan mendorongnya ke palung duka.


"Shakilla --" Suara lembut yang sangat familiar memecah kaca lamun. Shakilla yang semula tercenung, seketika merotasikan kepala ke arah asal suara.


"Kak Chayra --"

__ADS_1


"La, coba kamu baca berita ini!" titah Chayra sembari menyodorkan benda pipih kesayangannya.


"Memangnya, ada berita apa Kak?" tanya Shakilla heran lalu mengalihkan pandang ke arah benda pipih yang masih berada dalam genggaman Chayra.


"Seorang pengusaha ... bernama Doni Dayatama dan keluarganya meninggal dengan cara yang sangat tragis. Semalam, rumah yang mereka tinggali dilalap si jago merah. Mereka sekeluarga terjebak di rumah itu dan tadi pagi ... jasad mereka ditemukan dalam keadaan mengenaskan --"


"Tidak mungkin." Shakilla memangkas ucapan Chayra dan menggeleng--tidak percaya. Lalu ditatapnya dengan intens foto para korban yang terpampang memenuhi ruang pandang. "Pasti, berita ini tidak benar 'kan? Om Doni, bibi, dan kak Hani --"


Tubuh Shakilla terasa lunglai--lemas tanpa daya. Kabar yang disampaikan oleh Chayra bagaikan sebongkah batu besar yang menghantam dan meremukkan jiwanya.


Meski Doni dan keluarganya teramat jahat, nyatanya hati Shakilla nan lembut tidak bisa membenci mereka terlalu dalam. Bahkan maaf sudah diberi olehnya tanpa menunggu orang-orang yang menjahatinya itu bersujud dan memohon ampun.


"La, yang sabar ya! Ikhlaskan mereka." Chayra mengusap lembut bahu Shakilla seraya memberi kekuatan.


Shakilla mengangguk samar. Ia berusaha terlihat tegar dengan menahan buliran air bening yang membingkai kelopak mata agar jangan sampai tertumpah.


Chayra mengulas senyum dan kembali mengusap bahu Shakilla. Ia pun lantas mengangguk dan berkata, "tentu saja, La. Kamu bisa menitipkan Alesha pada kami."


"Maaf, gue sering ngerepotin Kak Chayra dan Bang Alif," ucap Shakilla sembari menundukkan wajah yang terbingkai sendu.


"Kami tidak merasa direpotkan, La. Lagi pula, kami sudah menganggapmu sebagai adik. Jadi, jangan merasa sungkan terhadap kami. Pergilah ke Jakarta! Jangan terlalu memikirkan Alesha! Insya Allah, Alesha aman bersama kami," tutur Chayra.


Perlahan, Shakilla mengangkat wajahnya kemudian memeluk tubuh Chayra. "Terima kasih, Kak. Terima kasih," bisiknya diiringi buliran air bening yang lolos begitu saja dan tidak kuasa lagi ia tahan.

__ADS_1


Tangan yang semula menjuntai, diulurkan ke atas untuk membalas pelukan Shakilla. Diusapnya punggung Shakilla dengan gerakan naik turun seraya memberi rasa tenang.


"Asalamu'alaikum, Bunda, Shakilla --" sapa Alif yang baru saja tiba di pondok pesantren Al Hidayah setelah menjemput Azmi--dokter muda lulusan Harvard University.


Chayra dan Shakilla mengurai pelukan, kemudian membalas ucapan salam yang dilisankan oleh Alif.


"Apa yang terjadi? Kenapa Shakilla menangis Bund?" Alif bertanya heran saat melihat Syakilla menyeka jejak air mata.


Chayra mempersilahkan Alif dan Azmi untuk duduk di bangku taman sebelum menjawab pertanyaan Alif dan menceritakan musibah kebakaran yang mengakibatkan Doni beserta keluarganya meninggal dunia.


Sementara Shakilla, pamit kembali ke kamar untuk berkemas-kemas.


Alif menghembus nafas berat seusai Chayra mengakhiri ceritanya. "Ayah nggak bisa mengantar Shakilla, Bund. Karena nanti malam, ayah harus berangkat ke rumah sakit," kilah Alif.


Yang sebenarnya, Alif teramat menjaga jarak dengan makhluk yang bernama wanita, selain istri dan keluarganya. Sebab ia tidak ingin kembali melakukan khilaf yang sama .... Entah itu disengaja atau pun tidak disengaja.


Azmi yang semula diam dan hanya menjadi pendengar, membuka suara seraya menawarkan diri. "Bagaimana jika saya saja yang mengantarnya?"


Tettt tooottt ... lanjut besok πŸ˜‰


🌹🌹🌹🌹


Maaf, segini dulu boncapnya ya Kakak-kakak ter love. Authornya sedang kurang fokus πŸ˜πŸ™πŸ™

__ADS_1


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo β˜ΊπŸ™


Terima kasih dan love love sekebon😘😘😘


__ADS_2