Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Berbagi Itu Indah


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sudah hampir satu jam, Alif melajukan mobil mengelilingi kota Jogja untuk mencari pedagang onde-onde dan getuk lindri yang masih berjualan. Namun tak juga menemukan.


Alif berdesah dan sejenak memejamkan mata. Terlihat sekali ia frustasi dan bingung ke mana lagi harus mencari pedagang onde-onde dan getuk lindri yang masih berjualan di malam selarut ini. Ditambah, onde-onde dan getuk lindri yang diingini Chayra terkesan ngadi-ngadi.


Bagaimana tidak ngadi-ngadi? Onde-ondenya harus berdiameter 3 cm dengan taburan wijen 99 biji seperti jumlah Asmaul Husna (nama-nama terbaik yang disandarkan pada sifat-sifat Allah). Dan getuk lindri yang berwarna obar-abir (berwarna-warni) seperti pelangi ditambah taburan keju sebagai pengganti parutan kelapa.


Sangat ngadi-ngadi dan me-mumetzkan. Beruntung, ngidam yang ngadi-ngadi hanya ada di dunia novel. Jika di dunia nyata, tak terbayang mumetznya para suami.


Okey, kembali ke cerita 😉


Diedarkan pandangan ke sisi kanan dan kiri jalan. Hanya ada pedagang bakmi Jawa, gudeg, dan STMJ (susu, telor, madu, dan jahe ... minuman hangat yang biasanya dijual pada malam hari).


"Yaa Allah Yaa Robb, ampunilah segala dosa-dosa hamba. Berikan hamba petunjuk dan kemudahan untuk memenuhi permintaan Chayra," pintanya dan masih fokus melajukan kendaraan besi.


Seketika Alif menepikan mobil yang dikendarainya saat tersaji pemandangan yang meremas ulu hati.


Terlihat, seorang bocah kecil yang berjualan kacang dan jagung rebus dengan memangku keranjang berwarna putih, tanpa didampingi oleh ibu ataupun ayahnya.


Bocah kecil itu duduk di trotoar dengan pandangan menerawang. Mukanya terlihat basah karena air bening yang terus keluar dari kedua sudut netra.


Setelah keluar dari dalam mobil, Alif bergegas menghampiri bocah kecil itu, lantas mendaratkan bobot tubuh tepat di sampingnya.


"Hai jagoan --" sapanya diiringi sebaris senyum yang teramat manis.


Bocah itu hanya mengulas senyum sambil menyeka wajahnya yang basah.


"Malam selarut ini, kenapa masih berada di jalan?" tanyanya kemudian.


"Sa-saya, saya jualan Kak --" jawabnya terbata.


"Jualan apa?"


"Kacang dan jagung rebus, Kak."


"Kalau boleh kakak tahu, siapa nama kamu? Dan, di mana kamu tinggal?"


"Sa-ya, Nakula. Saya tinggal di rumah kontrakan yang berada tidak jauh dari sini. Oya, nama Kakak siapa?"

__ADS_1


Alif mengulas senyum dan mengacak pelan rambut Nakula.


"Panggil saja ... mas Alif!"


"Mas Alif?"


"Iya Kula. Ayo, mas Alif antar pulang!"


"Tapi, bagaimana dengan dagangan Nakula yang masih utuh, Mas?" Nakula menatap dagangannya dengan raut wajah sendu. Ia tidak mungkin pulang tanpa membawa uang sepeserpun.


Bagaimana ... dia bisa membeli obat untuk ibunya yang sakit dan membeli makanan untuk adiknya yang sedari tadi siang belum makan nasi.


"Mas Alif akan memborong semua kacang dan jagung rebusmu. Jadi, kamu tidak perlu cemas!"


"Benarkah?" tanyanya tidak percaya diikuti manik mata yang membola.


"Tentu saja."


Netra Nakula berbinar diiringi lengkung bibir yang menghiasi wajahnya. "Trimakasih Mas Alif. Trimakasih --"


"Berterima kasihlah pada Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Kula! Mas Alif hanya sebagai perantara."


Alif mengeluarkan dompet dari saku kemeja kemudian mengambil uang kertas berwarna merah berjumlah lima lembar. Lalu diserahkannya kepada Nakula. Dan dengan tangan gemetar, Nakula menerima sejumlah uang itu.


"Ma-mas, kenapa uangnya sebanyak ini?"


"Anggaplah ... itu sebagai hadiah dari Tuhan untuk anak yang hebat sepertimu." Diusapnya rambut Nakula seiring senyum yang terkembang.


"Terima kasih Tuhan ...." Nakula kembali mencium liontinnya yang berbentuk salib sembari menengadahkan wajah ke langit, seolah ia tengah menatap Tuhannya yang berada di atas sana.


"Sebentar Mas, saya bungkus dulu kacang dan jagung rebusnya --"


Alif menggeleng dan menahan tangan Nakula.


"Tidak usah, Nakula. Nanti sesampainya di rumah, kamu bagikan saja kepada tetangga. Pasti, mereka akan sangat senang."


"Tapi Mas --"


"Kebetulan, Mas Alif sudah kenyang, Kula. Mas Alif hanya sedang bingung --"


"Kenapa bingung, Mas?"

__ADS_1


"Istri mas Alif minta dibelikan onde-onde berdiameter 3 cm, dengan taburan wijennya 99 biji. Selain itu, istri mas Alif juga meminta getuk lindri berwarna obar-abir dan ditaburi keju sebagai pengganti parutan kelapa," jawabnya sembari menghembus nafas berat.


"Obar-abir?" Nakula bertanya heran dan menautkan kedua pangkal alisnya.


"Mejikuhibiniu --"


"Apa itu, Mas?"


"Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu."


"Seperti warna pelangi ya, Mas?"


"Iyup, betul Kula."


"Owh, jadi yang membuat Mas Alif bingung itu ya?"


"Iya Kula --"


"Mas Alif nggak usah bingung! Kebetulan, ibu saya pandai membuat onde-onde dan getuk lindri. Bahannya ... nanti kita beli di warung mak Ijah--tetangga kami, Mas."


Ucapan Nakula seperti sang bayu yang berhembus lembut dan mampu memberi kesejukkan.


"Alhamdulillah yaa Allah. Trimakasih ... Kula. Mas Alif bersyukur dipertemukan dengan kamu." Alif menghela nafas lega sebab doa yang tadi ia lisankan, telah diijabah oleh Illahi.


"Dan, Kula pun juga bersyukur bertemu dengan Mas Alif."


Bibir kedua insan berbeda keyakinan itu melengkung disertai binar di manik mata yang menyerupai gemerlap bintang ....


"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, maka orang itu tidak pernah bertanya apa agamamu". –Gus Dur.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ...


Maaf Kakak-kakak, author baru bisa UP segini, karena sedang riweh di RL. Insya Allah jika ada waktu senggang, nanti dilanjut lagi 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. Terima kasih dan love love sekebon 😘😘😘


Sambil menunggu UP ALCHA, yuk mampir di karya kolaborasi, CS (chat story) yang berjudul 'Penulis Misterius Idolaku' 😉


__ADS_1


__ADS_2