
Happy reading 😘😘😘
Semalaman Chayra menunggu di luar ruang transisi. Ia tidak bisa tenang jika belum melihat langsung kondisi suaminya.
Sudah berulang kali, Zidan menawarkan diri mengantar Chayra untuk pulang ke apartemen. Namun Chayra menolak. Ia bersikeras ingin menunggu Alif.
Sementara Elmira, nampak termenung sembari menatap wajah lelap putri kecilnya.
Sesekali ia menghela nafas kemudian menghembuskannya perlahan kala terngiang kata-kata yang diucapkan oleh Zidan.
Elmira merasa berat jika harus melepas Alif karena terlanjur jatuh hati pada malaikat penolongnya itu.
Namun Elmira sadar, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Semakin memaksa Alif untuk membalas cintanya, maka ia harus siap terluka dan tenggelam ke dalam palung duka.
Ucapan Zidan berhasil mengusik pikiran sehingga batin Elmira berperang. Melepas dan membebaskan Alif dari tanggung jawab, atau tetap bersikukuh mempertahankan suaminya itu.
Jika di dalam rumah tangga tidak ada setitik pun rasa cinta, bagaimana bisa merengkuh bahagia, menggapai sakinah, mawadah, warahmah.
Buliran kristal jatuh dari telaga bening disaat Elmira mengingat masa remajanya. Masa remaja yang seharusnya bahagia. Namun tidak bagi Elmira.
Sebagai seorang anak angkat, Elmira selalu diperlakukan semena-mena oleh ibu angkatnya. Meski diperlakukan semena-mena oleh ibu angkatnya, Elmira merasa beruntung karena ayah angkat dan kakak angkatnya sangat baik. Namun ternyata, di balik kebaikan mereka terselubung niat yang keji.
Di suatu malam, ayah angkat yang sangat dihormati dan sering disanjungnya, tega merampas kesucian. Pria paruh baya itu memaksa Elmira untuk melayaninya.
Dunia Elmira benar-benar hancur saat kesuciannya terno-da. Ia merasa menjadi perempuan yang paling kotor sedunia.
Dan di malam-malam berikutnya, bukan hanya ayah angkatnya saja yang minta dilayani, tetapi kakak angkatnya pun turut meminta Elmira untuk melayani.
Sejak saat itulah, Elmira yang berhati baik dan pendiam berubah menjadi pribadi yang berbeda.
Elmira melampiaskan semua beban batinnya dengan sering mendatangi tempat hiburan malam dan bergaul bebas dengan siapa saja. Bahkan, dia gemar bergonta-ganti pasangan.
Hingga suatu ketika, Elmira bertemu dengan sosok yang membuatnya jatuh cinta. Elmira bersedia melakukan apapun demi pria yang dicintainya itu. Termasuk, melayaninya setiap malam hingga Elmira hamil.
Elmira harus menelan kenyataan pahit. Sang ibu angkat mengusirnya dari rumah setelah mengetahui perbuatan terlarang yang dilakukan oleh suami dan putranya.
__ADS_1
Ibu angkat Elmira mengira bahwa Elmira-lah yang menggoda suami dan sang putra. Kenyataannya, Elmira sebagai korban, bukan penggoda.
Elmira kembali menelan kenyataan pahit. Ketika kandungannya menginjak usia sembilan bulan, sang kekasih tega mencampakkannya dengan alasan bahwa bukan hanya dia yang menanam benih. Tetapi ada pria lain. Sehingga tidak bisa dipastikan, bayi yang dikandung oleh Elmira darah daging siapa.
Elmira hancur-sehancur hancurnya.
Beberapa jam setelah melahirkan baby Dzikra, dia berniat untuk bunuh diri. Elmira berpikir, untuk apa hidup jika hanya menjadi aib dan tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya. Apalagi menjaga dan melidunginya.
Elmira merasa sangat beruntung ketika takdir mempertemukannya dengan Alif. Seumur hidup, dia belum pernah bertemu sesosok pria yang mendekati kata sempurna seperti Muhammad Alif Firdaus.
Alif sosok pria yang bertanggung jawab dan penuh perhatian. Dia tidak pernah berkata kasar apalagi memperlakukan Elmira semena-mena.
Elmira jatuh hati pada malaikat penolongnya sejak pertama kali bertemu. Ia berharap, Alif pun membalas perasaan cintanya. Meski Elmira tau, pria yang menikahinya secara siri itu-mencintai wanita lain.
Segala usaha yang dilakukan oleh Elmira untuk menaklukan hati Alif sia-sia. Alif sama sekali tidak tertarik pada Elmira, meski Elmira sering kali menggodanya dengan berpakaian tipis dan mampu mengundang syahwat.
....
Selama berada di ruang transisi, kondisi fisik Alif dipantau oleh para perawat dan dokter yang bertugas.
Chayra, Zidan, dan Elmira menunggu di luar ruangan. Ketiganya duduk tanpa berbincang.
"Mrs. Chayra --" Salah seorang perawat memanggil nama Chayra.
Chayra dan Elmira yang semula menunduk, seketika menengadahkan wajah.
"Yes, it is me." Chayra menjawab lantas membawa tubuhnya untuk berdiri. Disusul oleh Zidan dan Elmira.
"Patient wants to meet you." (Pasien ingin bertemu dengan anda).
"Also want to meet the patient, because I'm his wife," (Saya juga ingin bertemu dengan pasien. Karena saya istrinya) sahut Elmira.
Perawat yang mengenakan name tag bertuliskan nama 'Aretha' menggeleng pelan dan berucap dengan tegas. "Sorry i can't allow, because the patient just wants to meet Mrs. Chayra." (Maaf saya tidak bisa mengizinkan, karena pasien hanya ingin bertemu dengan Nyonya Chayra).
Elmira tertunduk lesu seiring ulu hatinya yang terasa nyeri. Namun Elmira pantang menyerah. Ia memohon pada Aretha agar mengijinkannya bertemu dengan Alif meski sebentar saja.
"Sorry, I really can't allow," (Maaf saya benar-benar tidak bisa mengizinkan) ucap Aretha sebelum meminta Chayra untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
__ADS_1
"Mas Alif --" Chayra meluruhkan tubuhnya di samping ranjang. Ia genggam tangan Alif dan mengecup buku-buku jari suaminya itu.
"Mas, maafin aku," ucap Chayra lirih disertai raut wajah sendu.
"Untuk apa minta maaf, Yang?" Alif tersenyum dan mengusap lembut pipi Chayra.
"Gara-gara aku, Mas Alif hampir kehilangan nyawa --" Suara Chayra tercekat. Dadanya menyesak kala terbayang kejadian yang hampir saja merenggut nyawa Alif.
"Bukan gara-gara Sayang. Tapi, karena mas Alif yang kurang bergerak cepat."
"Mas --" Chayra menghambur ke pelukan Alif dan menumpahkan titik-titik air yang sedari tadi membingkai manik mata.
Alif mengusap kepala Chayra seraya memberi rasa tenang. "Jangan menangis, Sayang. Mas Alif nggak pa-pa."
"Aku takut, Mas. Aku takut kehilangan Mas Alif --"
"Mas Alif juga takut kehilanganmu, Yang. Jangan pergi lagi! Tetaplah berada di sisiku!"
Perlahan Chayra mengangkat kepalanya lantas menyeka jejak air mata.
"Aku janji, Mas. Nggak akan pergi lagi. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu."
Alif menerbitkan senyum dan kembali mengusap pipi Chayra.
Elmira meremas da-danya yang terasa sangat sakit ketika menyaksikan kemesraan Alif dan Chayra dari kaca jendela. Ia cemburu, karena Alif tidak pernah memperlakukannya semesra itu.
Elmira semakin tersadar, cinta Alif hanya untuk Chayra dan tidak bisa terbagi.
Zidan mengulas senyum dan mengusap bahu Elmira. "Lihatlah mereka, El! Alif dan Chayra saling mencintai. Apa kamu tega memisahkan dua insan itu? Ikhlaskan mereka bahagia! Sudah tiba saatnya, kamu membalas kebaikan Alif. Kamu, Alif, dan Chayra berhak bahagia. Rengkuh kebahagiaanmu dengan cara membebaskan Alif dan menerimaku sebagai imam pengganti. Percayalah, aku lebih romantis dari pada Alif. Dan aku pastikan, kamu tidak akan menyesal menjadi istriku --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Up nya segini dulu ya Kakak-kakak. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. Trimakasih dan banyak cinta. 😘💗
__ADS_1