
Happy reading 😘😘😘
Ameer dan Nafira mengangguk serta menerbitkan senyum. Mereka masuk ke dalam rumah diiringi jantung yang semakin berdegup kencang.
Langkah keduanya terhenti saat Elmira menyapa mereka dengan memperlihatkan senyum yang teramat manis.
"Nayla putriku --" pita suara Nafira tercekat seiring rasa yang semakin berkecamuk di dalam dada.
"Nayla?" Elmira bertanya heran sambil melempar pandang ke arah Alif dan Chayra yang kini berdiri di hadapannya.
"Nayla itu ... kamu, El."
"Ma-maksud kamu apa, Lif?"
"Nama aslimu, Nayla. Adzkiya Nayla Taleetha. Papa kandungmu adalah Tuan Ameer dan mama kandungmu ... Nyonya Nafira. Keduanya sangat merindukanmu, El. Mereka datang ke rumah ini untuk bertemu dengan putrinya yang telah lama menghilang karena diculik dan disembunyikan oleh tiga orang penjahat. Ketiga penjahat itu ... ayah, ibu, dan kakak angkatmu. Mereka bertiga sudah kami serahkan kepada penegak hukum --" Alif menjeda sejenak ucapannya dan menelan ludah--membasahi kerongkongannya yang tetiba terasa kering karena rasa haru yang mulai menyelinap ke dalam relung rasa.
"Mulai saat ini, kamu tidak perlu takut. Tiga orang yang telah menghancurkan kebahagiaan keluargamu telah mendekam di penjara. Aku berharap, ketiganya akan menerima hukuman yang sepadan dengan kejahatan yang telah mereka lakukan terhadapmu dan keluargamu. Elmira, kembalilah ke dalam pelukan kedua orang tua kandungmu. Sudah tiba waktunya, kamu merengkuh bahagia."
Elmira bergeming. Ia berusaha menelaah kata-kata yang terlisan dari bibir mantan suaminya itu.
"Elmira putriku --" Ameer tak kuasa menahan rasa rindu yang sudah sampai di ubun-ubun. Begitu juga dengan Nafira. Keduanya lantas memeluk Nayla, putri yang sangat mereka rindu.
Lidah Elmira terasa kelu. Seutas kata pun tak mampu ia lisankan. Hanya derai air mata yang mampu melukiskan perasaannya saat ini.
Tangan yang semula menjuntai, terangkat untuk membalas pelukan dua paruh baya yang ternyata papa dan mamanya. Elmira merasa tengah bermimpi. Namun mimpinya serasa nyata.
Hening ....
Hanya terdengar suara isak tangis ketiga orang yang saling melepas rindu.
Haru memenuhi relung rasa. Hingga mendorong Chayra menumpahkan air dari telaga bening. Sementara ketiga pria berparas rupawan yang berdiri di sampingnya ... berusaha menahan titik-titik air yang sudah menganak di kelopak mata.
"Pa-Ma --" Suara Elmira terdengar bergetar.
Perlahan, Ameer dan Nafira melerai pelukan. Telapak tangan keduanya terulur untuk menyeka wajah sang putri yang basah sebelum menyeka wajah mereka sendiri.
"Nayla putriku --" Nafira berucap lirih. Jemari lentiknya mengusap jilbab yang dikenakan oleh Elmira dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Benarkah ... anda berdua Papa dan Mama saya?" Elmira masih tidak percaya. Ia takut ... tengah tenggelam ke dalam fatamorgana.
"Benar Sayang. Kami Papa dan Mama kamu. Papa dan Mama hampir putus asa karena segala upaya yang kami lakukan untuk menemukanmu, tidak berhasil. Namun berkat kasih sayang Allah dan jasa ketiga pemuda itu, akhirnya kami bisa bertemu denganmu, melepas rasa rindu yang selama ini menyiksa jiwa --" pita suara Ameer tercekat, hingga ia tidak mampu melanjutkan kata-kata.
Elmira mengalihkan pandangan netranya. Ditatapnya ketiga pemuda yang dimaksud oleh sang papa. Mereka adalah Alif, Zidan, dan Rafa.
"Trimakasih. Trimakasih telah mempertemukan kami. Terima kasih --"
Alif, Zidan, dan Rafa menanggapi ucapan Elmira dengan anggukan kepala dan seutas senyum yang membingkai wajah rupawan mereka.
"Mas --" panggil Chayra setelah menyeka jejak air mata di wajah cantiknya.
"Ya Sayang." Alif menjawab sembari merotasikan kepala.
"Mas, persilahkan semua tamu kita untuk duduk! Aku mau menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka dulu."
Alif mengangguk dan mengulas senyum. "Baiklah Yang."
Sesuai permintaan sang istri, Alif mempersilahkan para tamunya untuk duduk, tak terkecuali Elmira.
Chayra berjalan menuju dapur untuk menyiapkan semua makanan hasil olahan tangannya dan Elmira. Ia juga membuat minuman yang menyegarkan karena siang ini kota Kairo terasa panas.
"Sayang, aku bantu ya?" ucapnya menawarkan diri.
"Iya Mas. Bawakan semua makanan ini ke depan ya!" pintanya.
"Siap Sayang."
Alif pun membawa semua makanan ke ruang tamu. Dan Chayra membawa nampan berisi minuman segar.
Menit berikutnya, semua makanan sudah tersaji di atas meja beserta piring, senduk, dan garpu. Chayra lantas mempersilahkan mereka untuk menikmati semua makanan dan minuman yang ia sajikan bersama Alif.
"Maaf, saya ke kamar sebentar. Mungkin Dzikra sudah bangun --" pamit Chayra.
"Biar aku saja yang mengambil Dzikra, Ra. Kamu duduklah! Dari tadi, kamu terus yang kerepotan menyiapkan makanan dan minuman untuk kami."
"Aku sama sekali tidak merasa kerepotan, Mbak. Lagi pula, aku 'kan dibantu oleh Mas Alif. Lebih baik, Mbak Elmira menemani Om Ameer, Tante Nafira, Mas Rafa, dan Mas Zidan--calon suami Mbak El." Chayra melirik Zidan dengan ekor matanya sehingga pemuda itu terlihat salah tingkah.
Ya, Zidan salah tingkah karena pandangan netra Ameer dan Nafira seketika beralih padanya saat Chayra menyebutnya sebagai calon suami Elmira.
__ADS_1
"Benarkah, Nay? Zidan calon suami kamu?"
Elmira mengangguk dan menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Benar Pa." Suara Elmira terdengar tegas dan tanpa ragu.
Ameer manggut-manggut. "Kapan kalian akan menikah?"
"Insya Allah, secepatnya Pa. Setelah Papa dan Mama memberi restu kepada kami."
"Hmmmm, bagaimana Ma. Kita merestui mereka atau tidak?" Ameer merotasikan wajahnya hingga berhadapan dengan Nafira.
"Meski mama baru mengenal Zidan, mama meyakini bahwa Zidan lelaki yang berakhlak baik dan tulus. Mama merestui mereka, Pa. Namun dengan syarat, Zidan harus mampu memberi kebahagiaan untuk Nayla. Jika suatu saat nanti Zidan mengecewakan dan menyakiti putri kita, mama tidak akan segan-segan memecatnya sebagai menantu."
"Papa juga sependapat dengan Mama."
"Jadi, itu artinya ... Tuan Ameer dan Nyonya Nafira bersedia menerima saya sebagai calon menantu?" tanya yang terlisan dari bibir Zidan diiringi binar yang terpancar di kedua manik matanya.
"Iya Zi. Kami menerima kamu sebagai calon menantu. Berkunjunglah ke rumah kami yang berada di Jogja dan lamarlah putri kami sebagaimana mestinya seorang pria melamar wanita dengan cara baik-baik! Kami akan memperkenalkanmu dengan putra kami beserta istrinya. Dan satu lagi, jangan memanggilku tuan! Panggil saja ... papa."
Zidan meluruhkan tubuhnya lalu bersimpuh di hadapan kedua orang tua Nayla. Kemudian dikecupnya punggung tangan Ameer dan Nafira secara bergantian seiring ucapan terima kasih yang dilisankan olehnya.
Nafira tersentuh dengan sikap dan kata terima kasih yang diucapkan oleh Zidan. Ia pun mengusap kepala calon suami Nayla dengan lembut dan meminta agar pria berparas rupawan itu bangkit dari posisinya saat ini.
"Ma-ma. Ma-ma." Terdengar celotehan Dzikra mengalihkan atensi. Seketika mereka menoleh ke arah asal suara.
Nafira dan Ameer beranjak dari posisi duduk. Lantas berjalan mendekat ke arah Chayra yang tengah menggendong Dzikra.
"Cucuku ...."
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa like, komentar, vote, dan gift untuk menyemangati author.
Trimakasih dan banyak cinta 😘💝
__ADS_1