Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Terlambat


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Atensi Damar yang semula tertuju pada pintu kamar Chayra, teralihkan dengan kedatangan ayah dan bundanya.


Ya, ayah dan ibunda Damar mendatangi rumah Keanu, setelah Raina menghubungi mereka melalui telepon dan mengabarkan berita duka--meninggalnya Sinta beserta bayinya.


Kedua paruh baya itu berjalan dengan langkah gontai ke arah sang putra yang tengah duduk bersimpuh di hadapan dua jenazah yang terbaring di tikar.


"Ayah, Bunda --" Damar memanggil kedua orang tuanya dengan nada suara yang terdengar lirih disertai raut wajah sendu.


"Damar, benarkah Sinta --" Lidah ibunda Damar serasa kelu, sehingga tak mampu melanjutkan kalimat tanya yang ingin dilisankan.


Damar mengangguk lemah. "Iya Bunda. Sinta dan bayi kami telah meninggal. Mereka meninggal karena Damar," ucapnya penuh rasa sesal.


"Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un." Nada suara ibunda Damar terdengar bergetar. Seketika ia meluruhkan tubuh di samping sang putra. Disusul oleh suaminya--ayah Damar.


"Sinta, maafkan bunda Nak. Seharusnya, kami memperlakukan kamu selayaknya seorang menantu --" Ibunda Damar meneteskan air embun yang mengalir dari telaga bening sembari membungkukkan tubuhnya untuk mencium kening Sinta, menantu yang sangat ia benci ketika masih bernyawa.


Perlahan, ibunda Damar kembali menegakkan tubuh setelah puas mencium kening jenazah menantunya itu. Pandangan netranya beralih pada jenazah bayi yang terbaring bersebelahan dengan jenazah Sinta.


Bayi yang sangat cantik dan memiliki bulu mata lentik. Sayang, bayi cantik itu kini sudah tidak bernyawa. Ia menghembuskan nafas terakhir bersama dengan sang bunda beberapa detik setelah terlahir ke dunia.


"Cucuku --" Diulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh sang cucu yang sudah tak bernyawa lalu dibawanya ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Maafkan oma, Sayang. Maaf --" pita suara ibunda Damar tercekat seiring rasa bersalah yang semakin memenuhi relung rasa.


Damar terdiam dan menatap wajah Sinta dengan lekat. Seperti yang dilakukan oleh sang bunda, Damar pun mencium kening istrinya itu sembari mengucapkan kata 'maaf'.


"Maafkan aku, Sin. Aku benar-benar suami brengse*. Seharusnya, aku tidak pergi meninggalkanmu disaat kamu hancur dan terpuruk. Seharusnya aku tetap berada di sisimu untuk menjaga dan melindungi kalian berdua. Maafkan aku Sin, maaf --" Damar menangis tergugu, begitu juga ... kedua orang tuanya.


Ketiga insan itu diselimuti oleh rasa bersalah dan sesal. Andai waktu bisa kembali, mereka ingin memperbaiki kesalahan terbesar yang telah mereka perbuat terhadap Sinta dan memperlakukan wanita malang itu dengan layak.


Namun sudah terlambat. Sinta dan bayinya telah pergi untuk selamanya.


Kini hanya ucapan maaf dan untaian doa yang mampu mereka lafazkan untuk mengiringi perjalanan Sinta menuju ke alam abadi, bertemu dengan Sang Penggenggam Kehidupan ... Allah SWT.


Kadang, kamu harus kehilangan seseorang sebelum akhirnya menyadari betapa berartinya dia dalam hidupmu.


Begitu juga dengan Sinta. Setelah kepergiannya, Damar baru menyadari bahwa Sinta teramat berarti.


Satu minggu setelah kepergian Sinta dan bayinya, Damar berniat untuk hijrah. Ia mendatangi pondok pesantren Al Hidayah dengan tujuan menuntut ilmu agama dan mendekatkan diri kepada Illahi.


....


Sesuai dengan permintaan Ameer, Zidan beserta keluarganya terbang ke Jogja untuk mengkhitbah Nayla.


Mereka disambut hangat oleh Nayla dan kedua orang tuanya.


Ameer selaku tuan rumah, mempersilahkan para tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


Setelah sejenak berbincang santai, ayah Zidan menyampaikan tujuan kedatangan mereka dan mendapat balasan dari Ameer.


"Bagaimana Nayla, kamu bersedia menerima lamaran Zidan?" tanyanya kemudian sembari menatap lekat wajah sang putri.


Nayla mengangguk dan menerbitkan senyum yang teramat manis sehingga membuat Zidan terpana. "Dengan mengucap 'Bismillah' saya menerima lamaran Mas Zidan," jawabnya mantap.


Ucapan Nayla seketika mendapat balasan dari semua orang yang berada di ruangan itu. Mereka mengucap lafaz hamdalah sebagai ungkapan rasa syukur.


Netra Zidan berkaca-kaca. Ia sungguh teramat bahagia sebab lamarannya diterima oleh Nayla. Dan itu berarti, Zidan akan segera mempersunting sang bidadari hati, Adzkiya Nayla Taleetha.


Di sela-sela acara, saudara kembar Nayla yang bernama Adnan tiba di kediaman Ameer bersama dengan sang istri. Keduanya mengucap salam dan menyapa dengan senyum yang terkembang.


Namun senyum yang terlukis indah di wajah istri Adnan seketika memudar saat pandangan netranya tertuju pada tiga orang yang tengah duduk di sofa bersama keluarga sang suami.


"Zi-dan." Nada suara wanita itu terdengar bergetar. Netranya menatap nanar pria yang pernah memenuhi relung hati ...


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf, UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love. Semoga masih berkenan meramaikan lapak Alif dan Chayra (ALCHA) hingga end.


Mohon maaf bila ada salah kata dan bertebaran typo. Trimakasih dan banyak cinta. 😘😘😘


Kunjungi juga karya kolaborasi author dan para sahabat di CS (Chat Story) yang berjudul 'Penulis Misterius Idolaku'.

__ADS_1


Klik profil Penulis Jelata dan dukung karya kami. Trimakasih dan banyak cinta 💖



__ADS_2