Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Permintaan Sinta


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Chayra --" Terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar. Sehingga Chayra melerai pelukan.


"Kamu --" Bola mata Chayra berotasi sempurna. Ia sangat terkejut melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Seorang wanita yang dahulu selalu berpenampilan glamour, kini berpakaian lusuh dan berwajah pucat.


Wanita itu berjalan tertatih ke arah Chayra dengan memegang perutnya yang terlihat sudah membesar.


"Ra, maafkan aku --" ucap wanita itu dengan nada suara yang terdengar bergetar ketika ia berdiri tepat di hadapan Chayra.


"Sin-Sinta. Ka-mu benar Sinta?" tanyanya tidak percaya sebab penampilan Sinta berubah 180 derajat.


Wanita itu mengangguk. "Iya, Ra. Aku Sinta --"


"Kenapa kamu seperti ini, Sin? Wajahmu terlihat sangat pucat dan pakaianmu --" Chayra memangkas ucapannya. Ia sungguh tidak tega melihat keadaan Sinta yang sangat menyedihkan.


Meski Sinta berulang kali berbuat jahat kepadanya dan menorehkan luka tak kasat mata, Chayra tidak pernah terlalu membenci apalagi mendendam. Ia telah memaafkan Sinta sebelum wanita selingkuhan Damar itu mengucap kata 'maaf'.


"Ra, perusahaan papaku bangkrut. Mama pergi meninggalkan kami dan memilih hidup bersama dengan kekasihnya, yang ternyata asisten pribadi papa. Sedangkan papa, beliau telah tiada karena ... serangan jantung. Dan Damar --" pita suara Sinta tercekat, sehingga ia tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya.


"Ra, lebih baik ... bawa Sinta ke dalam! Kalian ngobrolnya sambil duduk. Tidak enak jika dilihat tetangga. Selain itu, kasihan Sinta jika berdiri terlalu lama," tutur Kirana menginterupsi.

__ADS_1


Chayra mengangguk patuh dan menuruti omanya. "Iya Oma. Ayo Sin, masuklah ke dalam!"


"Ta-tapi Ra --"


Chayra menghembus nafas sedikit kasar lalu menggamit lengan Sinta. "Tidak ada kata tapi."


Sinta menurut. Ia berjalan mengikuti langkah kaki Chayra. Sementara Alif dan yang lain berjalan di belakang kedua wanita itu.


"Duduklah, Sin!" titah Chayra setelah sampai di ruang tamu.


Sinta kembali menurut. Ia mendaratkan bobot tubuhnya di kursi panjang yang terbuat dari ukiran kayu jati.


"Sin, di mana Damar? Kenapa, dia membiarkan kamu seperti ini?" Chayra melisankan tanya dan menatap lekat wajah Sinta yang terlihat semakin pucat.


"Aku juga tidak tau ... dia berada di mana. Semenjak perusahaan papaku bangkrut, Damar pergi begitu saja. Aku sudah mencari Damar ke rumah orang tuanya. Namun ayah dan bundanya bilang, Damar tidak berada di sana. Kedua orang tua Damar sudah angkat tangan. Mereka tidak mau lagi terlalu memikirkan Damar." Lolos sudah titik-titik air yang sedari tadi menganak di pelupuk mata. Sinta menangis tergugu seiring dengan tubuhnya yang berguncang hebat.


Diusapnya perut Sinta dengan tangan kanannya, sedangkan sebelah tangannya yang lain--mengusap lembut bahu wanita berbadan dua itu seraya mentransfer energi positif agar Sinta merasa tenang.


"Ra, apa yang terjadi padaku adalah balasan karena aku sering berbuat jahat padamu sejak kita duduk di bangku SMA. Aku merenggut kebahagiaanmu dengan merebut Damar darimu. Sekarang, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Semenjak pernikahanmu dengan Damar gagal, ayah dan bunda Damar sangat membenciku. Bahkan, kedua orang tua Damar itu tidak menganggap bahwa bayi yang berada di dalam rahimku ini sebagai cucu mereka." Sinta kembali menangis tergugu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Sin, yang sabar ya! Anggap semua yang terjadi padamu sebagai pelajaran hidup. Mulai detik ini, berniatlah untuk taubatan nasuha. Taubat yang sebenar-benarnya dengan menyesali kekhilafan yang pernah kamu lakukan dan tidak akan mengulangi lagi dosa yang sama," tutur Chayra bijak sembari menenangkan Sinta dengan mengusap punggung wanita itu dengan gerakan naik turun.


"Iya Ra. Trimakasih --"

__ADS_1


Chayra membalas ucapan Sinta dengan mengangguk dan mengulas senyum.


"Ra, sudah satu bulan ... aku mencarimu. Aku mendatangi rumah kedua orang tuamu yang lama. Namun ternyata, rumah itu sudah dijadikan masjid yang teramat megah. Lalu, aku mencari tau mengenai keberadaanmu. Salah satu jamaah yang kebetulan mengenalmu ... mengatakan bahwa kamu sedang berada di luar negeri bersama dengan suamimu. Selain itu, aku juga mencari tau rumah kedua orang tuamu yang baru. Syukurlah, setelah berulang kali mendatangi rumah kedua orang tuamu, hari ini ... Tuhan mengabulkan pintaku. Aku bisa bertemu denganmu, Ra --" lanjutnya sembari menyeka jejak air mata dengan jemari tangannya.


"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah bertemu denganku?"


"Aku ingin menitipkan bayiku kepadamu. A-ku merasa tidak bisa merawatnya. A-ku hanya percaya kamu, Ra. Kamu dan keluargamu memiliki hati yang teramat mulia. Aku yakin, kalian tidak akan keberatan untuk merawat bayiku. Aku juga yakin, kalian akan menjaga, melindungi, dan menyayangi bayiku dengan ketulusan hati," jawabnya berterus terang.


"Sin, kita akan merawat bayimu bersama-sama. Aku akan memberimu tempat tinggal --"


Sinta segera memangkas ucapan Chayra dengan gelengan kepala. "Tidak Ra. A-aku ... arghhhh --" Sinta mengernyit sambil memegangi perutnya.


"Sinta --" Chayra nampak panik. Ia tidak tau harus berbuat apa. Beruntung, Kirana berada di sisinya. Wanita yang telah lama menanggalkan pekerjaannya sebagai seorang dokter obgyn itu ... segera bertindak.


Ia memeriksa kondisi Sinta dan meminta Alif untuk segera menyiapkan mobil.


"Kita harus segera membawa Sinta ke rumah sakit!" tutur Kirana dengan nada suara tegas.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf Kakak-kakak ter love, ternyata kemarin author tidak bisa double UP 😅🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏


Terima kasih dan love love sekebon 😘😘😘


__ADS_2