
"Nak Tama nanti kapan kapan jika ada waktu kosong main ke rumah Mama ya. Sudah lama kita gak kumpul kumpul." ujar Mama yang sudah ingin pulang setelah mengantar kami sampai rumah.
"Mama pulang ya. Kalian yang akur ya. Shina kamu yang nurut ke suami." pamit Mama pada kami lalu mengusap lengan ku menasehati. Mama masuk ke mobil lalu pergi dengan kami melambaikan tangan kepadanya.
Setelah kepergian Mama kami pun masuk ke dalam rumah. Aku mencoba belajar menjadi istri sesungguhnya dengan menawarkan untuk membawa tas jinjing yang sekarang sedang Tama tenteng. Sebenarnya Tama menolak tapi aku bilang tidak keberatan.
Aku berjalan di belakangnya menuju kamar dengan membawa tas jinjing nya. Seperti asisten pribadinya tadi saat menjalankan tugasnya. Saat menjemput Tama di bandara, kami berpisah dengannya di bandara itu juga. Asistennya langsung pulang karena dia juga diberikan libur satu hari oleh Tama.
Malam pun tiba..
Aku sedang berada di ruang keluarga dengan televisi berlayar besar sedang menyala di depanku. Pandangan ku tak bisa fokus pada acara yang sedang di tayangkan. Sekelebat bayangan mimpi buruk itu masih jelas terngiang di kepalaku. Mimpi tentang kecelakaan Tama meski sekarang dia sedang baik-baik saja karena aku sendiri juga ingin memastikan dengan menjemputnya langsung di bandara.
"Kamu nonton nya fokus banget. Aku panggil kamu dari tadi nggak ada sahutan." tangan Tama dipundak ku mengagetkan. Aku memang tidak mendengar suara dia jika dia memanggil ku sejak tadi.
"Kamu melamun?" tanya Tama dengan wajah terpampang senyum.
Aku menoleh ke arahnya dan seketika tersadar pada diri sendiri, seolah roh ku baru saja balik ke dalam diriku, pun tak ingat jika kini aku sedang berada di ruang televisi.
"Shina are you crying? Kamu lagi nonton film action tapi kamu..." Tama mulai gagap memandang ku lalu memandang ke arah televisi secara bergantian.
"Eh?" aku menaikkan alis bertanya, lalu meraba pipiku setelah mendengar kata menangis dari Tama. Benar air mata ku keluar tanpa aku sadari.
__ADS_1
Kulihat ke arah televisi yang menampilkan acara yang aku tonton tadi, terpampang adegan sebuah mobil mengalami kecelakaan beruntun dengan salah satu diantaranya mengeluarkan api yang berkobar. Dengan setelahnya suara mobil sirine dan hamburan beberapa petugas kesehatan dan polisi berdatangan ke tempat kejadian.
Ah, sepertinya aku terbawa suasana lalu pikiran ku mulai teringat tentang mimpi kemarin malam, suara ku dalam hati.
"Kamu kenapa?" Tama menggenggam tanganku lalu sedikit mengusap, terlihat raut sedih dan bingung menyatu di sana.
Aku hanya diam, lalu berdiri dan anehnya mataku malah terus berair hingga dengan sadar aku mengeluarkannya dengan deras.
Ah entahlah, melihat mukanya aku jadi tambah pengen nangis. Padahal hanya sebuah cerita dalam novel, tapi aku kok juga ikut merasakan nyerinya bagaimana jika nanti Shina kehilangan Tama dengan cara seperti dalam mimpiku kemarin malam.
Dengan wajah bingung dan ikut merasakan kesedihan ku, aku direngkuhnya. Tangisku malah semakin menjadi di pelukannya bahkan aku mengeluarkan isakan. Dia mengusap punggung ku perlahan-lahan agar aku merasa lega dalam tangisanku.
"Sudah?" tanyanya yang diriku sudah melepaskan pelukan dari tubuhnya. Malu, aku tertunduk mengangguk.
"Ingin bercerita?" tanyanya lalu mengajak ku untuk duduk kembali di sofa depan televisi itu.
Aku kembali mengangguk, ku ceritakan padanya apa yang ku mimpikan kemarin malam. Dia menyimak dengan sesekali menghela nafas panjang perlahan juga sambil mengusap-usap lenganku yang kini aku masih di rengkuhannya.
Aku tak tahu apa yang terjadi. Selama ini karakter Shina tidak peduli dengan Tama. Apa aku terbawa perasaanku sendiri sebagai Rona, hingga mengubah karakter Shina di dunia ini. Hal yang aku benci di dunia ini adalah dikhianati tapi hal yang paling aku takuti adalah rasa kehilangan. Apa ini jawaban dari aku masuk ke dalam novel ini. Aku mulai menghubungkan semua ini pada alasan ku bisa ada dalam dunia novel ini.
"Sudah? Kalau sudah tenang aku ingin bercerita." Tama mengelus kepalaku.
__ADS_1
Aku yang mulai tenang setelah bercerita lalu duduk dengan sedikit menjauh darinya, sedikit malu karena tingkah ku seperti anak kecil. Menangis di depan dan di pelukan orang asing, sebagai Rona. Untung aku jadi Shina sebagai istrinya, laki-laki tampan di depan ku ini yang duduk di samping ku menghadapkan mukanya pada ku dengan raut kepeduliannya sebagai suami terhadap istri.
"Aku menang tender. Kemarin anak cabang perusahaan Papa kamu yang di sana kerjasama dengan perusahaan aku. Jadi aku ditunjuk sebagai ketua dari tender ini mewakili perusahaan. Maaf kalau kemarin-kemarin nggak ngabarin kamu, karena aku bener-bener sibuk banget. Ada waktu aku pakai untuk makan dan istirahat dengan benar. Aku pengen semua cepat selesai urusan di sana dan bisa pulang cepat." jelasnya dengan menatap ku penuh arti. Seperti seorang suami yang sedang menjelaskan ketika di interogasi sang istri karena tak ada kabar berhari-hari.
"Sabtu malam nanti ada party di hotel Kencana untuk merayakannya. Banyak patner bisnisku datang terutama yang mau join ke kita. Kamu mau datang sebagai patner ku gak, untuk datang ke pesta itu?" lanjutnya lagi dengan kata meminta izin di bagian akhir kalimat.
Seorang suami meminta izin kepada istrinya untuk acara resmi seperti ini? harusnya kan hanya memberi tahu jadwal acara dan meminta istri untuk mempersiapkan diri. Apa se-tidak mau itu Shina dulu di ajak keluar dalam acara resmi sebagai pasangan Tama?. Aku menggelengkan kepalaku dalam hati.
Setelah menimang cukup lama mengingat kebiasaan Shina yang aku dengar dari para pelayan aku mengangguk mengiyakan. Mama Papa pasti juga datang karena ini juga menyangkut perusahaan mereka. Aku juga ingin melihat kedua orang tua Shina dan lebih dekat dengan mereka.
"Kamu istirahat aja dulu. Kasian matanya sampai sembab gitu." katanya mengusap lingkaran mataku hingga membuat mataku menyipit, seperti menggodaku sambil meringis kecil.
Aku tertawa kecil menanggapinya lalu beranjak ke kamar sesuai sarannya.
"Hei.." serunya. Aku berhenti sejenak menoleh kembali ke arahnya.
"Aku seneng kamu bisa terbuka sama aku." katanya dari balik kursi panjang itu. Aku membalas dengan senyuman lalu melanjutkan langkah ku lagi.
Paginya aku bangun dan mulai beraktifitas seperti biasa. Tama tidak ikut sarapan pagi ini, aku sarapan sendiri lalu berangkat ke florist setelah sarapan ku selesai, di antar oleh pak sopir. Sampai di florist aku sibuk membantu anak-anak merangkai bunga karena mendapat pesanan lumayan banyak.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘