ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 37 : RENCANA ANNIVERSARY


__ADS_3

Kembali berdecak Tama tak ingin berdebat lebih lama. "Siapa tahu entar malem Shina datang kesini." ucapnya lalu meninggalkan dua temannya itu.


"Gila tuh anak. Nggak kuatan." sarkas Delvin pada temannya yang sudah berjalan duluan.


Hari ini sudah satu bulan lebih dari kepergian Tama yang ia janjikan waktu itu. Namun begitu ia sekarang malah sering memberi kabar dari pesan chat dan selalu kata rindu tersemat di sana.


Kafe pun hari ini tidak terlalu ramai, jadi aku juga bisa bersantai sejenak. Mama sekarang juga jarang datang ke kafe karena beliau sekarang punya klub sendiri, yaitu perkumpulan ibu-ibu istri para pebisnis.


Semacam perkumpulan untuk para ibu-ibu arisan yang di dalamnya berisi kegiatan bergosip dan ajang pamer, pastinya. Jadi sekarang Mama punya basecamp sendiri untuk main.


Dari balik meja kasir aku lihat sosok perawakan yang tak asing bagiku. Saat dia akan membayar pesanannya aku jadi yakin.


"Delia." sapa ku.


"Hai. Shina. Kamu ada di sini ternyata." ucapnya yang baru menyadari keberadaan ku, dia lalu membalas sapaan ku.


"Aku nggak tau kalau kamu ada di sini." katanya seraya memasukkan uang kembalian yang kasir kami berikan.


"Pengen ngobrol yuk." ajaknya kepada ku ke arah meja sesuai nomor tunggunya. Dia ingin lebih leluasa berbincang agar tak menghalangi pelanggan kami yang akan membayar.


Kafe ku konsepnya bayar dulu baru makan. Setelah melakukan pembayaran nanti waiters akan mengantarkan makanan sesuai yang dipesan.


"Desainnya unik banget. Aku suka spot yang disini, klasik banget. Dipojokkan lagi." dia tersenyum lebar sambil menceritakan kesannya. Cara bicaranya yang menarik membuat lawan bicaranya ingin terus mendengar obrolannya.


"Iya soalnya aku pilih konsepnya supaya kafe ini bisa dikunjungi orang tua dan anak muda." jelas ku.


"Keren lho kamu konsepnya." pujinya.


"Kamu sendiri kesini? Biasanya sama partner." tanyaku.


"Iya. Aku kan cuma jadi partner pesta doang. Kakak sepupu ku itu nggak punya pasangan jadi setiap ada pesta aku ditumbalkan buat ngadepin rekan bisnisnya." jelasnya dengan sedikit menggerutu. Aku tertawa kecil mendengar curhatan nya. Kami pun jadi lama ngobrol di kafe. Delia di sana hampir sampai jam kafe tutup.

__ADS_1


Siang ini Mama Amita mengajak aku dan Mamaku untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Kita janjian di sebuah food court tempat makan yang lumayan terkenal.


"Halo Mama Widya, halo nak Shina." sapa Mama Tama ke kami sambil cipika-cipiki. Ternyata beliau sudah menunggu kedatangan kami.


"Duduk yuk." Mama Tama mempersilakan.


Setelah duduk kami lalu memesan minuman, untuk membasahi tenggorokan. Untuk persiapan juga, karena setelah ini pasti deh para mama mama ini akan mengajak ku berbincang panjang dan lama.


Kemudian kami pun memulai obrolan, entah itu tentang keluarga kami, lalu aktivitas harian yang kami ceritakan masing-masing, seperti kerja, pertemuan pertemuan, tak lupa tentang shopping. Juga termasuk barang apa yang menarik untuk kami yang akan kita jadikan target beli selanjutnya.


Wanita.


"Gini nak Shina. Kemarin-kemarin kan Mama sama Mama Widya ketemu. Mama Widya cerita sama Mama tentang hubungan kamu dan Tama. Mama juga merasa senang kalian udah akur lagi. Maka dari itu Mama ada rencana mau adain acara anniversary pernikahan kalian. Gimana?" kata Mama Tama yang kini pembahasannya sudah sampai ranah rumah tangga aku dan Tama.


"Itung-itung juga untuk syukuran pernikahan kalian agar tambah langgeng lagi." lanjut Mama Tama lagi.


Menghela nafas dalam, aku jadi kebingungan untuk menjawabnya. Ya memang pernikahan ku dan Tama sudah berjalan hampir dua tahun. Tapi aku menjalani karakter sebagai Shina ini baru beberapa bulan yang lalu. Aku berfikir agak lama untuk mengeluarkan jawaban.


"Terus, aku sama Tama harus ngomongin ini dulu. Soalnya kan jadwal Tama nggak seenak jadwal aku, dia kan jarang kosong jadwalnya." lanjut ku menjelaskan perlahan agar para mama ini tidak tersinggung.


"Iya nggak pa-pa terlewat, yang penting kita merayakan. Lagian cuma mau sederhana kok. Kumpul keluarga inti kita saja." jawab Mama Tama.


Aku melirik ke Mama. Sedikit ragu dan tak enak hati jika harus menolak langsung permintaan mama mertua yang baik hati ini.


"Kamu bicarakan dulu sama Tama. Nanti kalau Tama mau, kamu tinggal bicara lagi ke kami." Mama memberi solusi, pun di setujui oleh Mama Tama.


Aku pun mengangguk mengiyakan. "Iya, nanti aku diskusikan sama Tama ya Ma. Shina juga nggak mau mengganggu jadwal Tama di tengah-tengah kesibukan pekerjaannya. Takutnya malah nanti dia nggak fokus sama pekerjaan dan malah kepikiran dengan rencana pesta pernikahan." jawabku.


"Iya nak. Kami tunggu kabar baiknya ya." ucap Mama Tama. Aku pun kembali mengangguk.


"Iya Shina. Mama juga udah cerita ke Papa soal perayaan pernikahan kalian. Dulu kan Papa juga pernah membahasnya dan Papa juga setuju. Malah Papa antusias mau nentuin tempatnya." Mamaku malah semakin bersemangat menceritakan rencananya dengan Papa.

__ADS_1


Aku yang mendengarnya hanya bisa mengulum senyum. Merasa beruntung menjadi Shina karena dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang terhadapnya seperti mereka.


Tapi terkadang kebaikan itu mendatangkan ketidak enakan hati jika kita harus menolak keinginan mereka yang sudah sangat baik kepada kita.


Hufftt.. nggak di dunia novel, nggak di dunia nyata. Punya rasa nggak enakan itu memang nggak enak dan bikin serba salah.


Obrolan siang hari itu pun terus berlanjut hingga panjang lebar, bahkan sampai membahas tentang masalah politik dimana kami pun tak begitu mengetahui sama sekali tentang itu. Ya kami hanya mengikuti perkembangan berita yang terus menyiarkan pemberitaan tentang kekacauan ekonomi negara tahun ini. Hari itu kami menghabiskan waktu bersama untuk menghibur diri.


"Shina, mau kami antar ke kafe?" tanya Mama Amita dari dalam mobil.


Setelah acara ngobrol kita yang panjang tadi, kami lalu makan siang di sana. Selesai makan siang kami pun belanja sebentar untuk membeli beberapa potong baju.


Selesai berbelanja rencananya aku akan langsung ke kafe. Mama Tama dan Mama pulang dengan satu mobil memakai mobil Mama Tama. Aku menerima tawaran Mama Amita yang akan mengantarkan ku ke kafe.


"Boleh Ma, kalau nggak ngerepotin." jawabku sambil tersenyum senang.


Lumayan kan nggak perlu naik taksi atau nunggu pak sopir untuk menjemput dan mengantarkan ku kembali ke kafe.


Seperti biasa, sesampainya di kafe aku kembali sibuk dengan pekerjaan di sana. Sesekali aku juga membantu kasir yang terlihat mengantre karena banyak customer yang datang.


Cukup melelahkan, tapi puas dengan hasilnya. Karena melihat pundi-pundi rupiah bertumpuk di dalam laci kasir. Belum lagi senyum semangat para pegawai yang terlihat ramah menyapa para pelanggan.


Itu adalah nilai plus dari kafe kami agar para pelanggan betah dan mau datang lagi ke kafe kami.


...----------------...


happy new year 🎉🎇💃


selamat liburan. apa resolusi kalian tahun ini? kalau othor yang penting cuan berjalan. duit numpuk. rejeki mengalir deras 🤲😁


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2