ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 31 : KENCAN


__ADS_3

sedikit curhat dari othor. sebenarnya satu tulisan saya dapat undangan kontrak, baik dari aplikasi maupun via chat personal. sayangnya saat ingin mengajukan kontrak, othor gak bisa 😭 entah kenapa masalahnya. padahal editor ingin mempromosikan karya othor, sedih sekali. senang sekali merasa karya dilirik tapi tak bisa ada kemajuan 🥲. jadi untuk para readers yang budiman, tolong kasih like komen dan vote-nya ke karya saya ya. terima kasih sebelumnya 🙏🙇


...----------------...


Saat perjalanan pulang aku mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa potong baju lalu keperluan yang lain juga. Di salah satu counter kupilih-pilih air purifier yang wangi nya sejuk dan menenangkan untuk mengganti suasana kamar kami. Setelah ku rasa cukup dengan belanja kebutuhan ku, aku kemudian ke kasir untuk melakukan pembayaran lalu setelahnya pulang.


"Merlin tolong bantu simpan ini ya." kataku sesampainya di rumah.


Merlin dan rekan kerjanya menyambut kedatangan ku di depan pintu masuk. Setelah mengambil alih barang belanjaan yang aku bawa Merlin mengajak rekannya itu membereskan dan merapikan barang belanjaan ku.


Setelah sampai kamar aku meletakkan tas kecilku di atas meja lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aahhh.. rasanya segar setelah mandi di cuaca yang panas gini.


Aku menyalakan air purifier dengan aroma baru yang kubeli tadi saat di mall. Aroma pine kemudian menyeruak ke seluruh ruangan kamar ini. Aku memposisikan diriku berbaring di atas kasur yang empuk ini seraya menikmati aroma pine yang keluar.


Rasanya aku ingin spa. Kapan jika ada waktu aku mau spa di tempat yang tenang dan jauh dari kebisingan, ajak Mama juga kali ya.


Aroma yang menenangkan ini membuat ku tak bisa menahan rasa kantuk yang tiba-tiba datang setelah kesegaran mandi beberapa menit yang lalu.


Usapan sebuah tangan membuat ku sedikit terusik. Mau tak mau aku mengerjapkan mata, memicing lalu memperjelas penglihatan ku setelah mengumpulkan semua kesadaran. Tama, barusan itu tangannya yang mengelus lembut wajahku.


Jam dinding menunjukkan pukul 16:07. Tak terasa ternyata aku tidur lebih lama dari yang ku perkirakan, padahal rasanya baru terpejam beberapa menit yang lalu. Tapi badanku yang tadi terasa lelah dan pegal-pegal kini sudah terasa lebih enak untuk digerakkan saat aku melakukan peregangan.


"Aku bangunin kamu ya?" tanya Tama yang tangannya tak lagi mengelus wajah ku setelah aku tersadar dan bangun dari tidur.


"Tadi aku kirim pesan, tanya kamu di kafe apa nggak, tapi nggak ada balasan dari kamu. Jadi aku telpon ke kafe kamu katanya kamu hari ini nggak ke kafe." jelasnya panjang.


Aku tersenyum menatap wajahnya. "Aku pengen istirahat aja sebentar." jawabku dengan kepala dan mata yang sebenarnya masih ingin direbahkan karena masih merasa ngantuk.

__ADS_1


"Iya syukurlah. Mungkin kamu terlalu lelah. Aku tadi langsung pulang untuk mastiin kalau kamu nggak kenapa-napa, takut aja kalau kamu sakit." katanya dengan kemudian ia mencium keningku.


"Nggak kok, aku cuma lagi capek aja. Habis pulang dari kantor kamu rasanya badan ku yang pegal-pegal makin terasa sakit jadi aku mutusin pulang aja untuk istirahat." kataku masih dengan senyum kepadanya. Dia pun ikut tersenyum.


"Iiishh.. gemes banget sih muka bantalnya." ucapnya tiba-tiba lalu mencubit pipiku dengan gemas.


"Iihh sakit lah." kataku protes lalu mengusap pipiku, Tama malah tertawa.


"Kamu tumben jam segini udah pulang? Nggak sibuk di kantor?" tanyaku yang baru sadar kalau hari ini Tama pulang lebih cepat.


"Inikan Sabtu, aku mau lebih santai sedikit." jawabnya yang kemudian beranjak dari sisi ranjang.


Maksudnya mungkin dia nggak mau terlalu sibuk di weekend ini yang harusnya juga bisa libur. Namun untuk beberapa karyawan tertentu ada juga yang masuk kerja karena pekerjaannya yang belum selesai.


Ia lalu melepaskan baju kerjanya kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Sepertinya ingin mandi.


"Mau jalan-jalan malam ini? Kencan yuk!" Ajakan Tama yang tiba-tiba membuatku terkejut mendengarnya. Setelah selesai mandi dan berganti baju dengan mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana kargo pendek, ia tiba-tiba mengajak untuk kencan.


Aku mengernyitkan dahi, "kemana?" tanyaku.


"Kemana aja, terserah kamu. Kamu sebutin aja ke mana tempat yang kamu mau." katanya dengan kemudian menarik tanganku tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya dulu.


Akhirnya kita sekarang di luar. Tama melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota Jakarta dengan kecepatan sedang untuk menikmati suasana malam kota ini yang gemerlap oleh cahaya lampu. Aku melihat sisi kiri dan kanan jalanan untuk menentukan pilihan tempat mana yang akan kami kunjungi untuk berhenti.


"Tam kesana yuk!" tunjuk ku ke sebuah taman bermain yang besar dan panjang.


"Oke." kata Tama yang melihat arah jari telunjukku, dia kemudian memasukkan mobilnya ke arah parkiran.


"Kita kayak anak kecil aja pergi kesini." kata Tama yang sedang berjalan dengan menggandeng tanganku.

__ADS_1


"Katanya mau kencan sama aku. Juga terserah aku mau kemana aja." jawabku seraya melihat ke arah wajahnya.


"Iya terserah kamu." ujarnya.


"Nanti kita ke sininya sama anak kita ya, biar nggak terlalu malu untuk jalannya." dia memalingkan wajahnya setelah perkataan yang terdengar sedang menggodaku itu.


"Apa sih tiba-tiba ngomongnya ke anak. Katanya nggak pa-pa sekarang belum mau punya anak." kataku sambil sedikit memukul lengan tangannya.


"Iya, tapi kebanyakan dari mereka yang kesini bawa anak semua. Aku jadi iri." katanya dengan menunjuk ke sekeliling.


Benar juga, kataku dalam hati.


Banyak pasangan orang tua yang sedang membawa putra dan putrinya ke taman bermain itu, ada juga yang membawa keluarga besarnya sepertinya, karena terlihat beberapa orang berkerumun dengan pasangan suami istri dan anak-anak di sekelilingnya. Ternyata aku salah tempat ngajak dia jalan kesini.


Tapi kan tempat yang biasa pasangan para karakter novel kunjungi saat kencan kan wahana bermain, jiwa Rona ku membenarkan diri.


Tapi sepertinya aku memang salah karena kami ini kan pada suami istri bukan pasangan kekasih.


"Kamu mau punya anak sekarang?" tanyaku ke Tama yang sedang mengunyah kentang gorengnya. Kami tadi sempat membelinya setelah berkeliling apa saja wahana yang berada di sana dan makanan yang dijajakan di sana.


Dia tersedak, aku dengan cepat memberinya minum. "Kamu nggak pa-pa?" tanyaku khawatir. Dia mengangguk lalu mengacungkan jempolnya setelah selesai minum.


Dia menatapku. "Kamu serius nanya gitu ke aku?" tanya dia dengan nada tegas. Aku yang di tatapnya jadi sedikit salah tingkah.


"Ya iya lah. Makanya aku nanya ke kamu." jawabku sambil mengalihkan pandangan kemudian memakan kentang goreng milikku.


"Kalau kamu siap sekarang, aku pasti selalu siap kapanpun." jawabnya dengan semangat sambil tersenyum lebar masih menatapku.


Aku tertawa kecil mendengar jawabannya itu. Ternyata selama ini dia sebenarnya juga ingin cepat-cepat punya anak, sama seperti keinginan para mama-mama. Aku kira hanya orang tua kita saja yang menantikan aku agar cepat hamil, nyatanya di balik diamnya Tama yang menyerahkan keputusan hamil di tanganku ia sebenarnya juga sangat berharap.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2