
"Siapa?" Tanya Vita penasaran.
Jarang sekali temannya ini badmood karena biasanya dia datang dengan kabar heboh meski cuma masalah kecil seperti ada kafe dessert yang baru saja buka dan dia akan mengajak Vita untuk hunting ke tempat itu atau ada makanan yang sedang viral dan dia akan mengajak Vita untuk mencobanya lewat aplikasi pesanan makanan online.
"Mantan Saga." Vita mengerutkan keningnya. Kenapa sekarang ini mantan Saga sering banget datengin Rona, pikir Vita.
"Masalahnya?"
Setelah menghembuskan nafas jengah dengan nada malasnya Rona menceritakan awal yang ia tahu dari Raya dan apa yang dijelaskan oleh Saga kemarin. Vita manggut-manggut menanggapi apa yang diceritakan Rona.
"Kayaknya yang bermasalah sama lo si Raya deh, bukan si Novi nya." Ucap Vita menanggapi. Rona mengerutkan keningnya, menangkap maksud perkataan Vita dengan tanda tanya.
"Iya lah. Awal dia nunjukin lo dan ngasih tau lo soal Novi, maksudnya apa coba? Lo kan nggak tau apa-apa tentang hubungan Saga dan Novi, juga tentang masalah mereka sebelumnya. Dan kenapa sekarang setelah lo udah masuk baru lo dibawa-bawa dalam masalah mereka." Tukas Vita yang omongannya bisa ditangkap masuk akalnya juga dengan Rona.
Rona manggut-manggut sambil mengingat-ingat sesuatu. Sepertinya memang masuk akal, dan akhir-akhir ini kayaknya Saga sering terlihat jalan bareng sama Raya meski dia punya 'tugas' dari Babanya untuk menjaganya.
'Ting' seperti ada sesuatu yang muncul di otak pintarnya yang langsung tanggap dengan keadaan yang ia bayangkan.
"Raya suka sama Saga." Katanya mengangkat tubuhnya menjadi tegak, berkata sambil menatap ke arah Vita. Sang sahabat pun lalu mengangguk sambil menjentikkan jarinya tanda setuju dengan ucapan Rona. Rona pun ikut mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dia juga cemburu lo deket sama Saga. Dia nggak tau kali kalo lo deket sama Saga dari kalian jaman bocil ingusan." Kata Vita kembali melanjutkan percakapan mereka tentang Raya.
"Dia mau manasin Novi, dan umpannya lo." Tunjuk Vita dengan jari telunjuk dan jempol yang dibentuk pistol.
"Sekali tembak dua burung lenyap." Ucapnya lagi. Rona menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak setuju dengan ucapan sahabatnya.
"Enak aja gue dijadiin umpan. Belum tau siapa gue dia. Mau liat gue ngereog dia?" Kata Rona yang tak sudi dijadikan umpan oleh Raya untuk kepentingan pribadinya memanasi Novi.
__ADS_1
"Gue harus cepet sembuhin ni kaki, biar langsung bisa nendang dia kuat-kuat." Kata Rona lagi dengan mengusap-usap kakinya yang katanya akan bisa jalan lepas tongkat penyangga dua minggu lagi.
"Sabar, sabar. Yang penting kita udah tau udangnya." Kata Vita memberi sahabatnya ucapan untuk menenangkan.
...* * *...
"Aku nggak mau Pa!" Kata Saga dengan lantang menolak permintaan ayahnya yang menurutnya itu memerintah.
"Buat apa aku sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya cuma buat nikah? Buat apa Papa susah payah berkerja keras demi aku selama ini? Ujungnya cuma buat aku nikah muda." Saga berkata dengan menggebunya dengan nada rendah menahan amarahnya.
"Aku nggak mau Pa. Aku belum pernah ngerasain kerja. Lulus dan bahkan sidang skripsi pun belum. Bisa-bisanya Papa udah bicara soal pernikahan sekarang. Apalagi perjodohan." Saga kemudian mendudukkan dirinya di sofa dengan frustasi.
Disampingnya ada Mamanya yang juga duduk dengan tatapan gelisah. Takut saja nanti ada kejadian adu kekuatan diantara dua laki-laki ini, mengingat Saga anak yang masih berdarah muda. Tangannya hendak mengelus bahu putranya untuk menenangkan namun ia urungkan karena suaminya sudah mulai buka suara lagi.
"Papa melakukan ini karena Papa peduli dengan masa depan kamu Saga. Dengan kamu berjodoh dengan putrinya Pak Prasetyo, masa depan kamu sudah tergamblang jelas. Kamu akan bisa punya pekerjaan tetap tanpa kamu harus repot-repot untuk mencari kerja seperti orang lain. Dan papa juga bisa mengembangkan bisnis lain dengannya di luar perusahaan tempat kami bekerja." Abyaz berkata masih dengan nada rendahnya meski kini dia masih berdiri karena putranya tadi mengotot menolak untuk di jodohkan.
"Kalau Papa masih tetap ingin menjodohkan aku dengan Raya, Saga bersumpah nggak akan terusin kuliah ini meski sidang udah di depan mata. Dan lagi, kalau Papa masih tetap memaksa aku untuk nikah sama Raya, aku janji akan jadi suami yang pengangguran dan menikmati harta kekayaan dari keluarga istri aku. Gak sudi aku capek-capek kerja seperti laki-laki lain buat nafkahin istri." Kata-kata Saga barusan membuat mata kedua orang tuanya membola sempurna.
"Saga!" Mika bersuara dengan lirih menegur putranya.
"Dan kalau Papa udah nggak mau anggap Saga sebagai anak Papa, it's okay. Aku lebih suka jadi anak Mamah Dhira dan Baba Lim."
Dengan menahan ludah yang tercekat di tenggorokan untuk menahan tangis karena kecewanya dirinya terhadap papanya, Saga memberanikan diri untuk berdiri menyahut kembali jaketnya kemudian melangkah pergi keluar dari rumah orang tuanya.
"Saga!" Teriak Abyaz dan Mika bersamaan memanggil nama sang putra agar menghentikan langkahnya untuk keluar dari rumah. Namun detik berikutnya adalah suara debuman pintu yang keras karena Saga membantingnya saat menutupnya.
Mika mengelus dadanya dengan kemudian menatap sang suami yang terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Ingin menjodohkan Saga, tanpa bicara terlebih dahulu dengan aku. Apa yang kamu rencanakan sebenarnya? Kerjasama macam apa yang membuat mu sampai mengorbankan putra mu Abyaz?" Ada rasa geram dalam hati Mika karena suaminya berkata akan menjodohkan Saga tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Abyaz termenung menatap istrinya dengan tangan tertelungkup menopang dagunya. Ya, setiap Mika kesal dengan Abyaz entah apapun masalahnya ia akan memanggil nama suaminya tersebut tanpa embel-embel kata Papa.
"Setelah mengorbankan waktuku untuk mengasuh dan mendidik Saga untuk ku relakan membantu mu bekerja, sekarang kau ingin mengambil waktu yang ku punya bersama dia dengan mengirimnya kepada orang lain? Perjodohan? Pernikahan?" Nada suara Mika kini memberat.
"Demi masa depannya? Agar dia terjamin dan tak hidup susah seperti mu dulu Abyaz?" Mika menjeda ucapannya mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Katakan padaku jika kau tak mau atau sudah tak mampu menanggung hidupnya hingga ia sukses sendiri nanti. Katakan sekarang!" Akhirnya Mika berkata dengan nada tinggi di akhir kalimatnya dengan air mata yang mulai meluncur tanpa bisa ia bendung. Ia tak terima jika putranya diperlakukan seperti itu, seperti sebuah barang.
"Mika... Bukan maksudku seperti itu." Abyaz beranjak ingin mendekati istrinya.
Dengan cepat Mika mengangkat tangannya agar Abyaz tetap di tempat. "Ingin kembali kepada orang tuamu? Atau aku yang pergi dari sini?"
"Bukan seperti itu!" Abyaz segera memotong perkataan istrinya sebelum istrinya itu melanjutkan ucapannya yang sudah bisa ditebak apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Bawa putraku kembali!" Mika menatap mata suaminya dengan tatapan sengit, ia benar-benar marah dan kecewa sekarang.
"Sebelas tahun aku tidak bisa menjadi ibunya yang sempurna dan delapan belas tahun ia tak pernah membantah atau memprotes apa yang menjadi ucapan mu Abyaz. Pernahkah sedikitnya kau merasa menjadi Papanya yang sempurna dengan menuruti segala keinginannya?" Mika merendahkan kembali suaranya.
"Jika kau melanjutkan niatmu, berarti kau tak menghargai usaha ku Abyaz." Ucap Mika lalu setelahnya ia melangkah cepat untuk pergi ke kamar Saga kemudian mengunci kamar putranya itu dari dalam. Perempuan menangis tergugu di dalam sana.
Entah apa yang ada di pikiran suaminya itu, setelah kehidupannya sudah menjadi lebih baik Abyaz terlihat seperti ingin memiliki semuanya dan mengontrol semua dengan tangannya.
...***...
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘