ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 13 : PEMBUKAAN KAFE


__ADS_3

"All right, let's go home. Semoga lancar dalam soft opening nanti." ucapku selanjutnya.


"Aamiin." para karyawan ku mengamini serentak.


Aku memberi tahu Papa Mama, Tama dan Mamanya untuk opening kafe baru ku.


Kerangka bunga ucapan selamat berjajar dihalaman kafe. Padahal hanya pembukaan kafe yang terhitung dalam skala kecil menurut ku. Mungkin karena pengaruh Papa dan juga Tama, apalagi kerangka bunga tersebut di pesannya dari toko ku juga.


"Buat larisin dagangan anak." kata Papaku. Ya aku sih terima kasih saja tentunya.


Pemotongan pita kami lakukan dan pembukaan pelayanan pertama untuk pelanggan di hari pertama kami mulai.


Hari ini kami batasi untuk 50 orang saja untuk pembukaan perdana. Mama Papa juga ikut meramaikan kafe dengan datang sebagai konsumen malam ini.


"Ishh.. bikin iri pasangan muda aja." sindir ku kepada Papa Mama yang terlihat sedang ngobrol mesra. Mereka malah terkekeh.


Memang apalagi yang harus di lakukan, karena sekarang mereka hanya tinggal berdua sedang anaknya ini sudah menikah pasti mereka habiskan waktu dengan berdua saja. Termasuk kencan seperti ini.


Mamanya Tama mengirim pesan jika tak bisa hadir sedang Tama masih bekerja si kantor. Cukup ramai untuk hari pertama dan juga cukup melelahkan.


Aku lihat Mama Papa tertawa dan terkadang tersenyum kepada ku saat aku ikut obrolan mereka. Mereka berkata merasa bangga pada diri ku yang membangun usaha ku sendiri dari membuka toko bunga dan semakin berkembang menjadi bisnis baru.


Aku pun juga merasa bangga pada diriku sendiri dengan jiwa Rona yang kubawa ke sini. Ah kalau melihat mereka jadi kangen sama Baba dan Mamah di dunia ku. Baba yang sangat sayang ke padaku dan tak pernah lupa memujiku jika aku melakukan sesuatu yang berhasil. Kalau Mamah meski terkesan galak tapi dia sangat penyayang dan protektif. Aku rindu mereka.


Tak terasa mataku berembun, sebelum menetes lebih baik aku menyekanya dengan segera.


Waktu hampir tutup kafe ada kurir datang mengantarkan pesanan untukku. Aku dapat buket Lily putih dari Tama dengan kartu ucapan selamat. Aku tersenyum senang melihatnya.

__ADS_1


"Kalau yang ini bukan dari toko ku." ucap ku dalam hati.


...* * *...


"Gimana kafenya? Masih rame? Kamu pasti capek." Tama memulai percakapan setelah sarapan pagi selesai.


Hari ini Sabtu, dia libur karena weekend ini sudah tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya seperti weekend kemarin. Aku juga mengambil libur karena terlalu lelah setelah satu bulan kafe buka. Di florist aku juga menambahkan karyawan. SHINA SHINE FLORIST semakin terkenal karena kafe yang baru ku buka masuk kategori kafe viral. Hingga aku juga promosikan jika ada yang membutuhkan rangkaian bunga bisa memesan ke toko bunga kami.


Aku menghembuskan nafas panjang. "Rame banget, malah florist juga ikutan rame. Aku ingin istirahat dua atau tiga hari dulu, ternyata badan ku nggak siap nerima lonjakan pengunjung." Aku menelungkupkan mukaku ke meja makan.


Iya kafe ku sangat rame, padahal minggu pertama aku masih membatasi pengunjung untuk 50 orang saja. Mungkin karena spot fotonya yang terlihat bagus jadi mereka rela booking terlebih dahulu sebelum datang karena ingin mengabadikan momen dan meng-share-nya ke sosial media.


Ada untungnya juga sih, kafe ku jadi terkenal tapi badanku rasanya juga agak remuk.


Tangan Tama menyibak rambut ku, "Mau jalan jalan?" ajaknya. Seperti tau saja kalau badan ini sangat lelah dan penat dan butuh udara baru yang segar.


Aku menengadahkan kepalaku lalu menjawab iya untuk ajakannya.


"Ayo Rona habiskan waktu mu untuk bersenang-senang!" aku bersorak dalam hati untuk diri sendiri.


Senang rasanya karena bisa jalan-jalan ke tempat baru. Biasanya Tama hanya mengajakku untuk keluar dalam acara resmi meski itu hanya makan malam bersama koleganya.


Kalau dipikir-pikir selama jadi Shina, aku dan Tama nggak pernah kencan deh. Jalan-jalan berdua gini, paling jalan berdua cuma ke mall atau super market untuk belanja. Gak pernah ke bioskop nonton berdua atau ngafe bareng untuk ngobrol santai berdua. Diih kaku banget ini pasangan suami istri.


Apakah sekarang ini bisa di sebut sebagai kencan?


Aku berjalan menyusuri bibir pantai dengan Tama juga ikut berjalan di samping ku. Sambil berjalan sambil bercerita tentang keseharian kami ditempat kerja. Hingga Tama ingin sesekali aku mengunjungi tempat kerjanya. Aku mengatakan jika ada waktu aku akan berkunjung. Mengingat sekarang aku malah semakin sibuk saja kan.

__ADS_1


Matahari mulai menenggelamkan dirinya hingga tercipta cahaya kuning dan oranye yang memancar di langit lepas dan terpantulkan oleh cermin alam berwujud lautan luas.


"Sunset. Indahnya ciptaan Tuhan." Aku memejamkan mataku sambil membentangkan tanganku. Ku hirup dalam aroma laut yang luas. Rasanya penatku seperti sirna seketika.


Sepasang tangan menelusup ke arah pinggang ku. Pelukan Tama dari belakang mengagetkan ku. Aku yang sedang menikmati ketenangan dengan diri sendiri mulai tersadar.


"Don't leave me. Jangan lupakan aku." Bisiknya ditelinga ku tiba-tiba.


Nafasnya yang menyapu bulu halus di leher belakang ku membuat ku meremang karena merasa geli. Sepertinya rona pipiku berubah karena baru kali ini aku dipeluk mesra olehnya. Malu kah? Entahlah, rasanya ada sesuatu yang menggelitik di dalam dadaku.


Sesuatu yang bisa menciptakan desiran aneh seperti... waktu aku sedang suka dengan seseorang dan orang itu datang menghampiri kita. Jantungku jadi berdetak lebih kencang.


Dia dengar tidak ya?


Dia meraih wajahku dengan sebelah tangannya hingga tatapan kami pun bertemu. Wajahnya lebih mendekati wajahku hingga bibir kami bertemu dan detik selanjutnya menyatu. Aku tidak menolak. Mungkin karena timing yang pas hingga aku terbawa suasana. Ciumannya yang begitu lembut menjadi semakin hangat.


Aku terkejut saat dia mulai menurunkan bibirnya dan mencium leherku hingga terkesan seperti sedang menyesap di sana. Aku melepas pelukannya lalu berlari berusaha menghindarinya.


"Please, jangan menghindar lagi." teriaknya padaku yang sudah berlalu.


Aku terus berlari kecil menjauhinya dengan jantung yang masih bertalu-talu. Apa-apaan itu? Apa dia akan melewati batas ku menjadi Shina? Iya, Tama dan Shina adalah pasangan suami istri. Lalu bagaimana dengan diriku yang bersemayam di tubuh Shina? diriku sendiri, Rona.


Tama juga berlari menyusul ku lalu aku dipeluk dalam tangkapannya dari belakang. Aku terus saja mencoba melepaskan diri darinya dan terus berlari menghindarinya. Begitu juga dengan dirinya yang masih saja tetap mengejar ku.


Kenapa masih saja mengejar ku laki-laki ini? Apa dia tidak tahu aku sengaja menghindarinya? Apa dia ingin membuatku merasa lebih bersalah kepada Shina karena mengambil alih suaminya?


Haishh.. Aku ingin kabur sejauh mungkin karena entah kenapa pikiran-pikiran negatif dan rasa bersalah kepada Shina bergulir di otakku. Dan rasanya dadaku terus berdegup kencang.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2