ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 44 : BONUS MODAL KAWIN


__ADS_3

"Iya nanti ke sana. Tapi paling agak telat." kata dalam balasan Shina. Tama menyunggingkan senyum di bibirnya.


Dalam hatinya bahagia, meski harus bersabar menunggu sedikit lebih lama dan makan siangnya terlambat namun ia senang karena Shina mau mengantarkan bekal makan siang untuknya. Yah meski ia pun tahu jika nanti bekal makan siangnya hasil dari Shina membeli makanan siap saji namun ia sangat menghargai itu.


Keesokan harinya.


"Pagi Booss.." sapa Bagas di pagi hari dan ternyata dia lagi-lagi sudah berada di dekat meja para sekretaris cantik yang katanya akan dia pdkt-in.


"Selamat pagi Paak." Sapa para sekretaris mengikuti Bagas.


Tama pun mengangguk menanggapi sapaan mereka seraya mengucapkan selamat pagi juga. "Gas, ke ruangan ku." Kata Tama kemudian berlalu meninggalkan kedua sekretarisnya.


"Pagi ini nggak ada pertemuan ya?" Tanya Tama yang sudah duduk di kursi kerjanya.


"Iya Pak. Tapi nanti setelah makan siang ada janji dengan Pak Randi, dari perusahaan properti yang memesan satu lantai dalam proyek kita untuk dijadikan galeri olehnya. Katanya mau dipakai untuk pameran barang-barang langka dan unik. Bukan cuma lukisan atau karya tangan yang biasa menghasilkan tembikar, guci dan kawan-kawannya tapi juga perhiasan katanya." Jelas Bagas cukup panjang dengan gaya profesionalnya dalam bekerja.


Alis Tama terangkat ke atas. "Perhiasan?" Tanyanya memperjelas.


"Iya." Jawab Bagas mantap.


"Tenang aja. Legal kok." Kata Bagas meyakinkan lagi.


"Berkasnya nanti saya kasih, sebelumnya agar bisa Pak Bos pelajari dulu." Lanjut Bagas.


"Di dalamnya tertulis akan bekerja sama dengan para desainer perhiasan, jadi yang dipamerkan di galeri dia adalah perhiasan milik desainer ternama dengan karya limited yang nantinya kalau ingin membelinya harus pesan di sana. Jadi kita juga dapat profitnya juga Pak." Jelas Bagas lagi mengingat salah satu isi poin penting berkas yang dikirim oleh pihak perusahaan Randi.


"Ooh.." Tama mengangguk mengerti.


"Ya udah sekarang kamu bawa aja ke sini berkasnya. Setelah ini selesai aku akan pelajari." Kata Tama yang juga sibuk dengan satu berkas di atas mejanya.


"Siap Bos." Bagas pun melangkahkan kakinya untuk berjalan ke luar.


"Eh bentar." Tama menghentikan langkahnya yang hampir mendekati pintu itu.


"Elo lagi ngincer siapa sih diantara dua itu?" Tanya Tama yang penasaran dengan sasaran pdkt Bagas.

__ADS_1


Bagas menghela nafas dalam lalu mengambil posisi tegak menghadap sang atasan yang membuat atasannya jadi heran dengan reaksinya itu.


"Gue nggak nargetin. Siapa yang siap sama diajak berpelamin itu yang aku kait. Target tahun depan gue udah nikah, syukur-syukur tahun sekarang atau bahkan besok gue udah kawin. Nggak enak banget diteken nyonya besar. Kalau nggak buru-buru kawin gue mau dijodohin sama pilihan dia tanpa penolakan." Jelas Bagas dengan mimik memelas ingin menangis pada kalimat nyonya besar yang ia sebut sebagai panggilan untuk Mamanya.


Tawa Tama yang terbahak-bahak lepas begitu saja mendengar penuturan sahabatnya itu. Pasalnya mimik wajah yang Bagas buat sangat lucu apalagi setelah mendengar kata perjodohan tanpa penolakan, membuatnya tertawa terbahak-bahak nya makin jadi.


Memberengut Bagas kembali berbalik meraih gagang pintu ruangan kerja bos-nya itu. "Emang temen setan lu!" Sarkas Bagas dengan sangat kesalnya lalu keluar ruangan yang penuh gema tawa itu.


"Gara-gara siapa juga gue nggak bisa buru-buru kawin. Libur aja susah apalagi buat ngedeketin cewek diajak buat kawin." Gumamnya masih sambil ngedumel selama perjalanan menuju ke ruangan kerjanya.


"Selamat siang." Sapa Randi yang datang bersama Delia sebagai partnernya hari ini, meski bukan di sebuah pesta tapi di sebuah pertemuan penting seperti ini.


"Selamat siang. Silahkan duduk." Sapa Tama lalu mempersilahkan keduanya untuk duduk.


Siang ini mereka melakukan pertemuan di sebuah restoran yang memiliki private room untuk sekedar makan atau bisa juga melakukan belajar dan bekerja di ruangan itu. Dengan fasilitas pendukungnya tentunya.


"Hai kita bertemu lagi Delia." Sapa Tama khusus kepada Delia.


Delia tersenyum menanggapi. "Iya Pak. Ternyata dunia bisnis sempit ya, kita sepertinya akan sering bertemu mulai sekarang." Kata Delia dengan formal menggunakan kata Pak karena memang pertemuan ini untuk acara formal dengan tema kerjasama yang tadi sudah sempat Tama dan Bagas bahas.


"Pak Tama ini kan suami Shina, pemilik kafe yang lagi viral sekarang ini. Nah Shina itu kan temen baru yang aku dapetin dari business party yang membosankan itu." Jelas Delia kepada sepupunya itu. Randi pun ber-oh sambil mengangguk-angguk mengerti.


"Ya sudah. Bisa kita langsung pada pembahasan saja?" Ujar Tama memulai untuk meeting nya setelah Delia memberi penjelasan singkat tentang dirinya dan Shina.


"Oke. Mari." Kata Randi spontan. Dan mereka pun memulai meeting nya.


"Oke. Jadi kita sudah sepakat dengan hasilnya ya." Tama menutup meeting itu.


"Iya Pak. Semoga kerjasama ini sama-sama menguntungkan kedua belah pihak selama kontrak berlangsung." Ucap Randi.


"Nggak salah aku bawa kamu ke sini tadi." Kata Randi menatap ke arah Delia dengan senyum puas setelah mereka selesai saling menjabat tangan.


Iya Randi sering membawa serta Delia kemana-mana terutama untuk acara bisnisnya karena menurutnya Delia adalah Miss Fortune-nya, sebab saat membawa Delia keberuntungan selalu berpihak pada Randi. Seperti sekarang ini hasil meeting antara dirinya dan Tama berujung dengan keputusan deal yang nanti akan sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.


"Kami permisi lebih dahulu Pak." ujar Randi berpamitan yang kemudian dipersilahkan oleh Tama.

__ADS_1


"Aku minta bonus besar buat yang ini." ujar Delia kepada Randi setelah berlalu meninggalkan Tama dan Bagas namun perkataannya itu masih dapat di dengar oleh Tama dan Bagas.


"Kamu deketin aja itu yang namanya Delia, Gas. Nanti kan kalian juga bakal sering bertemu di EROPA." ujar Tama melihat ke arah Bagas.


Bagas mendengkus menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu maksud bos-nya itu, bukan untuk menyuruhnya pdkt namun menyuruhnya untuk bekerja ekstra ke sana kemari. Apalagi jarak antara Eropa Mall proyek gedung yang perusahaan mereka bangun baru-baru ini dan kantor tempatnya bekerja sekarang amat sangatlah jauh karena letaknya di luar kota.


"Saya akan meminta bonus lebih juga sebagai imbalannya Bos." kata Bagas dengan jengah.


Tama pun kembali terkekeh melihat reaksi yang dibuat asistennya itu. "Oh jadi kamu ikut-ikutan gayanya dia." ujar Tama yang merujuk pada Delia.


"Kalau dia aja bisa minta bonus cuma buat nemenin Pak Randi meeting kenapa saya nggak bisa minta bonus lebih untuk bolak balik ke luar kota." jawab Bagas dengan percaya dirinya.


"Oohh.. ceritanya nyindir bos-nya niih.. mau dikasih bonus lebih karena sering nemenin bos-nya kemana-mana." ledek Tama lagi.


"Nah itu paham." kata Bagas dengan sangat percaya diri lagi.


"Oke. Nanti aku kasih bonus lebih kalau investor yang masuk tembus lima puluh." kata Tama yang kini dua lelaki itu sudah berjalan akan kembali ke kantor tempat mereka bekerja.


"Deal. Tapi saya ingin menentukan nominalnya sendiri." ucap Bagas.


"Ngelunjak." tukas Tama yang sudah masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh Bagas.


"Buat modal kawin Pak." kata Bagas yang juga sudah masuk ke dalam mobil yang sama.


"Belum ada calonnya." bantah Tama seolah enggan memberikan bonus sesuai nominal yang diinginkan Bagas nanti.


"Delia kan kata Bapak." jawab Bagas dengan kalimat asal dari mulutnya.


"Aamiin." ucap Tama yang malah menanggapi dengan doa mengaminkan.


Akhirnya perjalanan mereka kembali ke kantor di isi dengan percakapan random penuh debatan seperti itu.


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2