ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 35 : KEJUTAN


__ADS_3

Hari ini berangkat kerjaku di antarkan oleh Papa. Di dalam mobil saat perjalanan kami pun ngobrol tentang sesuatu yang random juga hal yang memang tidak terlalu penting.


Kata beliau, ia jadi teringat saat sering mengantarku sendiri ke sekolah SMA dulu. Papa selalu mengantarku sendiri menggunakan motor, itu dulu sebelum beliau sesukses sekarang hingga memiliki mobil sendiri dan juga sekarang memiliki sopir yang bertugas mengantarnya kemana-mana.


"Shina, ayo sarapan nak." teriak Mama dari bawah.


Aku yang berada di kamar mendengar samar suara Mama memanggil ku lalu turun menghampirinya, ternyata Mama sedang berada di meja makan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga. Aku pun berjalan menuju meja makan. Mama memasak dan menyiapkan sendiri makanan pagi ini.


Mama hanya memperkerjakan pegawai paruh waktu yang datangnya siang hari hanya untuk membantunya membersihkan rumah. Sorenya pekerja paruh waktu itu langsung pulang atau setelah selesai pekerjaannya jika Mama meminta mengerjakan sesuatu yang lebih.


Akhirnya aku jadi keterusan menginap di rumah orang tua sebelum kedatangan Tama kembali, karena rasanya memang sangat nyaman berada di tengah-tengah mereka. Keluarga yang sangat menyayangi anaknya.


"Makanan kesukaan yang selalu ada." kataku melihat bermacam lauk yang Mama sediakan, salah satunya selalu ia masak setiap hari selama aku menginap di sini. Mama tersenyum dengan deretan gigi yang terlihat.


Meski sudah ibu-ibu dan baru saja berkutat di dapur, wajahnya terlihat segar apalagi dengan rambutnya yang tergerai dan sedikit basah.


Sepertinya Mama juga habis mandi sebelum masak.


"Kamu nanti ke kafe?" tanya Mama yang sudah selesai menyajikan semua hasil masakannya.


"Iya. Habis dari florist nanti aku langsung ke kafe." jawabku yang mulai duduk dan mengalaskan nasi pada piring.


"Berangkat ke florist nya sama Papa aja." kata Papa yang terlihat datang dari belakang menghampiri kami di meja makan. Penampilannya juga sama seperti Mama, dengan rambut basah yang hampir kering.


Emm.. ini orang tua, kelakuan pas anaknya lagi nginep. Nggak bisa di tahan apa. Aku jadi salah tingkah sendiri.


Aku akhirnya mengiyakan ajakan Papa.


"Nanti Mama nggak ke kafe ya. Ada pertemuan sama istri-istri teman bisnis Papa kamu." kata Mama memberi tahu, karena memang sebelum aku datang ke kafe Mama selalu membantu ku untuk datang lebih dulu ke kafe memantau keadaan di sana. Siapa tahu ada karyawan yang membutuhkan bantuan atau ada pelanggan yang mengalami kesulitan.


"Iya nggak papa kok Mam." kataku lalu melanjutkan makan.


"Tama ada kabar nak?" tanya Papa yang sudah selesai makannya.

__ADS_1


"Belum Pa. Dia selalu kasih kabar kalau udah waktunya mau pulang aja." jawabku, ya memang seperti itu kebiasaan Tama padaku saat berada di luar kota.


Dia ingin fokus pada kerjanya saat di sana agar cepat selesai dan cepat pulang. Papa mengangguk merespon jawabanku.


Setelah selesai makan kami pun lalu berpamitan ke Mama untuk berangkat kerja. Sesuai kata Papa, aku diantar beliau berangkat kerja.


Shina sangat disayangi oleh keluarganya. Berada di tengah-tengah keluarga seperti ini benar-benar merasa sangat bahagia.


"Shina aku akan pulang cepat. Aku usahakan besok sampai rumah." suara pesan masuk keluar dari handphoneku. Terlihat dari notifikasi bar yang menampilkan isi pesan dari Tama.


Selang beberapa menit ada pesan lagi, masih dari Tama. "Aku rindu".


Pesan yang selalu membuat ku senyum-senyum sendiri. Ya meski hanya singkat tapi selalu ku nantikan diam-diam. Karena pesan itu selalu terbesit setiap dia selalu melakukan perjalanan jauh untuk bisnisnya hingga tak bisa pulang beberapa hari.


Aku pulang sebelum jam kafe tutup karena memang suasana kafe yang sudah tak begitu ramai. Hingga aku serahkan sisanya kepada karyawan ku di sana. Rasanya badanku sudah sangat lelah hingga aku ingin cepat sampai rumah saja.


Malam ini aku putuskan untuk pulang ke rumah sendiri dengan sebelumnya menelpon pak sopir untuk menjemput ku di kafe dan setelahnya memberi kabar kepada Mama kalau aku akan pulang ke rumah ku sendiri agar Mama tak menunggu di rumahnya dan masih terjaga sampai malam.


Di dalam kamar sepasang tangan besar mendekap ku secara tiba-tiba. Aku terkejut dan saat akan berteriak untuk meminta tolong sebuah ciuman mengunci mulutku. Aku membolakan mataku takut saja jika akan diper*kosa di sini.


Tapi setelah di ingat-ingat aku berada di kamar sendiri yang tidak mungkin jika orang lain bisa masuk sembarangan. Siapa lagi yang akan melakukan ini kalau bukan suami Shina.


"Kangen." ucapnya setelah melepas ciumannya.


"Tama?!" Aku berteriak terkejut. Tentu saja karena aku benar-benar takut jika apa yang menjadi pikiran buruk ku itu benar. Dadaku saja sampai berdetak tak karuan.


"Katanya kamu mau pulang besok?" tanyaku yang masih dengan nada sedikit berteriak karena masih dalam keadaan terkejut. Untung saja memang benar Tama yang melakukan itu.


Dan bagaimana pula dia sudah berada di kamar ini? Padahal beberapa jam yang lalu ia mengirim pesan kalau akan pulang besok hari.


"Aku mau kasih kamu kejutan. Baru lima hari aku udah rindu banget sama kamu." katanya lalu memelukku kembali dan mencium ceruk leherku. Aku menggeliat geli lalu menjauhkan wajahnya dengan kemudian menyalakan lampu bagian depan pintu kamar itu. Lampu atas untuk kamar kami ada empat, dua saklar di dinding setelah pintu masuk dan dua lagi di dekat headboard ranjang kami.


"Terus kerjaan kamu gimana? Udah beres? Katanya mau sampai sepuluh hari." tanyaku dengan berjalan mendekati meja nakas untuk meletakkan tas kecilku.

__ADS_1


"Proyeknya baru aja dimulai. Nanti aku akan ke sana lagi buat ninjau lagi." jawabnya sambil mengekor di belakangku. Ia lalu memencet saklar yang berada di dekat headboard.


"Kamu ini benar-benar bikin aku kaget deh." aku memukul kecil dadanya setelah keadaan kamar benar-benar terang. Dia malah terkekeh sambil memegang dadanya yang bekas aku pukul.


"Mungkin aku akan sebulan lebih disana. Aku harus mengawasi proyek ini berjalan dengan benar." jelasnya kali ini.


"Udah makan?" tanyaku yang bersiap akan mandi.


"Udah tadi di airport."


Kami masing-masing sudah mandi dengan bersih dan bersiap untuk tidur. Sebelum benar-benar tidur kami berbincang sebentar dengan Tama memelukku dari belakang.


"Rasanya kok seperti baru kemarin aku menikahi kamu. Jadi aku nggak bisa pergi jauh dan lama dari kamu." Katanya sudah seperti gombalan playboy yang mampu membuat ku diam-diam tersenyum sendiri sambil membelakanginya.


"Seminggu sekali pulang aja kalau kamu kangen." kataku menggodanya.


Padahal aku juga tahu sifat Tama, kalau Tama sudah melakukan perjalanan bisnis jauh dan tinggal lama di sana, ia tidak akan pulang sebelum pekerjaannya di tempat itu selesai.


Dia menghembuskan nafas panjang hingga terasa menyapu tengkuk leherku. "Kamu nggak tau rasanya hatiku saat ini. Bisa bebas meluk kamu, menyentuhmu dan mendapatkan kamu yang seperti dulu, itu benar-benar bikin aku bahagia. Aku sangat bersyukur kamu yang sekarang bisa percaya dan mau terbuka lagi kepada ku seperti dulu. Setiap hari aku selalu berharap dan berdoa agar kamu kembali lagi seperti kamu yang mengenalku dulu. Aku bener-bener bahagia dan perasaan bahagia ini tak bisa kamu bayangkan Shina." kata Tama lalu memelukku lebih erat sambil membenamkan kepalanya di leher belakang ku.


Sampai seperti itu, cinta Tama terhadap Shina.


Aku hanya terdiam di pelukannya. Ya memang aku tak tau perasaan Shina kepada Tama seperti apa sebelum aku masuk ke tubuh ini. Jika Tama sudah merasa bahagia dan bersyukur Shina bisa kembali seperti dulu, berarti sedekat dan se-berharga ini hubungan mereka. Padahal mereka adalah pasangan yang dijodohkan. Tapi bisa saling mencintai.


Aku tersenyum sendiri dalam hati.


"Ayo tidur. Besok kamu berangkat pagi-pagi lagi." kataku sambil membenarkan selimut agar menutupi tubuh kami.


"Eemm.."


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2