
Setelah selesai memakai kaosnya Tama terdiam sejenak. "Sebentar lagi dia wisuda. Kemarin-kemarin juga sibuk skripsi. Selesai wisuda dia juga akan langsung jadi dokter praktek. Kita doakan yang terbaik saja untuk dia." ucap Tama lalu berjalan ke arah ku kemudian mencium keningku.
"Cepat ganti bajunya." ucap Tama kemudian berlalu ke kamar mandi.
...* * *...
"Kamu udah ngantuk?" Tama menuntunku menaiki anak tangga. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban ku.
Rasanya lelah juga setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama dari resort sampai ke rumah. Saat sampai kamar aku kemudian teringat dengan hadiah yang akan kuberikan ke Tama. Kemudian aku berjalan ke arah meja rias lalu membuka lemari meja rias ku bagian bawah.
"Tam, sebentar deh. Aku ada hadiah buat kamu." ku ambil kotak kado berisikan kelopak mawar didalamnya lalu ku serahkan ke Tama. Tama yang sedang membuka kancing bajunya lalu menoleh.
"Apa ini? Wangi." katanya setelah dia membuka kotak pemberian ku. Didalam kotak itu masih ada kotak kecil dua berisi jam tangan dan dasi.
"Cuma hadiah kecil dari istri kamu." kataku padanya dengan senyum yang ku buat semengembang mungkin.
"Happy anniversary ya." imbuh ku lagi.
Dia tersenyum lebar setelah melihat isi di dalam kotak-kotak kecil tersebut. "Makasih ya." Dia memelukku lalu mencium keningku.
"Aku juga ada sesuatu untuk kamu." katanya setelah melepas ciuman dari keningku.
Aku mengernyitkan dahi. "Apa? Kan kamu udah kasih aku kalung untuk hadiah anniversary kita. Sekarang hadiah apa lagi yang mau kamu kasih ke aku?" tanyaku dengan mimik wajah penasaran.
"Sebenarnya hadiah ini untuk kita. Ini janji aku ke kamu." Tama kemudian berjalan ke arah walk in closet lalu membuka bagian laci tempat penyimpanan barang-barang berharganya. Dia seperti sedang mengambil sesuatu dari dalam sana dan setelah keluar ia terlihat seperti membawa sebuah kertas. Saat sampai di depan ku ia kemudian menunjukkannya pada ku. Ternyata sesuatu itu adalah dua lembar kertas.
"Tiket liburan kita." katanya lalu menyerahkan dua lembar tiket itu padaku.
Aku terkejut, tak percaya. Tama menepati janjinya yang akan mengajakku jalan-jalan ke Jepang. Padahal kala itu aku hanya asal bicara untuk pergi jalan-jalan ke Jepang tidak ada niatan sedikit pun dari kata-kataku itu untuk diwujudkan namun Tama benar-benar suami yang banyak kejutan. Setiap perkataan istrinya selalu di anggapnya serius.
__ADS_1
Boleh dibilang romantis kah suami Shina ini?
Aku menatap ke arah wajah Tama dan ke arah dua lembar tiket yang ada di tanganku secara bergantian, dengan tatapan terharu dan masih tak percaya. Mataku yang tadi sudah mengantuk kini malah jadi segar dan juga terharu karena ada air di pelupuk mataku.
"Waahh. Jalan-jalan ke Jepang." Kata yang hanya bisa aku keluarkan dari mulut ku karena speechless tak tahu harus bereaksi bagaimana lagi.
Kemudian aku tertawa meski terdengar datar. Bahagia sekali sebenarnya hatiku dan tanpa sadar aku menggoyangkan tiketnya untuk ku jadikan kipas. Tama tertawa melihat tingkahku.
Dan secara alami aku berjingkrak dengan kemudian memeluknya, "terima kasih ya". Kucium pipi laki-laki tampan itu sekilas.
Dan Tama justru mendekap ku erat sebagai balasannya. "Aku senang ngeliat kamu bahagia gini." ucapnya lalu mencium keningku.
"Ya udah, tidur yuk. Tapi sebelumnya kita cuci muka dan sikat gigi dulu ya." ucapnya kemudian mengusap bawah mataku hingga mataku menyipit. Aku pun mengangguk sebagai jawabannya.
Rasanya aku seperti punya hutang kebahagiaan pada Tama jika seperti ini. Aku hanya memberi hadiah yang tak seberapa sedang dia terus memikirkan dan memberi kebahagiaan untukku. Setiap kata yang aku ucapkan selalu jadi prioritas dia, entah yang menurut ku hanya bercanda atau benar-benar serius dia selalu memperhatikan setiap kata-kata ku itu.
Aku belum bisa tidur meski tadi sudah cuci muka dan sikat gigi, kemudian kini tengah berbaring dengan menghadap ke arah Tama.
Ku cium bibir laki-laki tampan di depan ku ini dengan kecupan lembut dan sedikit lebih lama tertahan di sana. Dia tersentak, seketika membuka matanya lalu kemudian membalas ciumanku. Kami pun akhirnya beradu mulut dengan ciuman yang semakin lama semakin panas.
Nafas Tama terdengar memburu dengan dadanya yang kembang kempis tak beraturan dengan kemudian di lepasnya ciumannya dari bibirku.
"Kalau.. saja.. aku nggak lembur besok. Aku pasti.. sudah.. memakan mu malam ini." katanya tersendat-sendat karena berburu dengan nafasnya.
"Jangan pancing aku Nona Shina. Ayo cepat tidur." dia melepaskan pelukannya kemudian memposisikan tidurnya membelakangi ku.
Tak lama kemudian aku melihat dia yang terbangun dari tidurnya lalu pergi ke kamar mandi.
Dan tanpa Shina atau Rona tahu bahwa sekarang di kamar mandi Tama sedang bersolo karir.
__ADS_1
Pagi harinya.
"Kamu akhir-akhir ini kenapa sering berangkat pagi pulang malam kadang juga pagi lagi?" tanyaku yang sedang memperhatikan Tama yang sudah bersiap akan pergi ke kantor.
"Aku sedang berjuang sayang." jawabnya tanpa menoleh ke arah ku. Aku memasang muka bingung tak mengerti.
"Aku mau ambil cuti banyak buat liburan kita nanti jadi aku harus rajin rajin kerja dari sekarang." jelasnya.
Oh ternyata ini alasan dia sering pulang malam.
"Sekitar lima hari lagi aku masih lembur terus, dua hari setelahnya bisa kerja normal lagi atau bahkan lebih santai. Aku nggak mau terlalu membebani sekertaris ku kalau aku udah ambil cuti nanti. Aku juga nggak mau pas liburan ku sama kamu nanti terganggu karena ada pekerjaan yang harus aku ikut menyelesaikannya juga." jelasnya lalu kemudian mengecup keningku dan berpamitan untuk berangkat.
Dia tidak sarapan dulu karena dia sudah meminta untuk di masukkan ke dalam wadah bekal saja untuk sarapannya.
"Aku berangkat dulu ya." Aku mengangguk sebagai jawabannya.
Sedikit menghembuskan nafas panjang, kasihan sebenarnya dengan keseharian pekerjaan Tama.
Mungkin kalau Shina dulu mau jadi penerus perusahaan Papanya jadinya pasti akan seperti Tama. Pulang malam terus, jarang libur dan pasti pasangan juga terkadang merasa kesepian seperti yang ku rasakan sekarang ini.
Namun begitu Tama bisa membagi waktunya. Jika sedang berdua dengan ku dia selalu memprioritaskan kebersamaan kita. Bisa dibilang dia bagus untuk mengatur quality time-nya.
Harusnya aku juga bersyukur meski saking sibuknya Tama tak pernah melupakan hal kecil dalam rumah tangga kami. Entah itu tentang keseharian ku, kesehatan ku, kebutuhan sehari-hari dan hal lainnya juga.
Dia memang penuh kejutan. Sering juga mengajak jalan-jalan tanpa ada wacana terlebih dahulu.
Menurut ku dia buka pria romantis yang selalu mengucapkan kata-kata indah yang menyanjung pujaan hatinya. Tapi dengan tindakan perlakuannya itu, ia terlihat romantis meski semua itu terkesan lumrah di mata sebagian orang.
Tapi menurutku memang itu kelebihan dari dirinya. Care yang benar-benar sampai detail.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘