ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 46 : PESTA ANNIVERSARY


__ADS_3

Mungkin karena kelelahan juga makanya dia langsung tidur pulas tanpa ingin mengobrol lebih dengan ku. Aku pun memaklumi itu dan aku juga merasa bersalah karena ada tuntutan keinginan dari para orang tua dia jadi semakin sibuk dan bekerja ekstra seperti ini.


Malam pesta anniversary di Golden Kencana Resort.


Ya, kata Papa beliau yang akan menentukan tempatnya tanpa perlu kita harus pusing memikirkannya. Yang katanya ingin garden party saja dan ku kira benar-benar hanya garden party sederhana dan nyatanya.. sudahlah..


Orang kaya memang selalu begini.. namanya juga cerita dalam novel, pasti selalu ada kesan yang menimbulkan sebuah kalimat, "apa sih yang enggak untuk putriku." Seperti itulah.


Dan benar saja tempatnya bagus bukan main. Sarana dan fasilitasnya pun sangat lengkap.


"Haloo.. Shinaa sayaang. Happy anniv ya buat kalian." kata Budhe ku istri dari kakak Papa. Budhe lalu menyodorkan sebuah paper bag berlogo merk tas brand ternama sebagai hadiah untuk ku atau untuk kami lebih tepatnya.


"Makasih Budhe." Kami pun melakukan cium pipi kanan dan kiri sebagai rasa sayang sesama keluarga.


"Iya sayang. Dalemnya ada angpao dari pakde lho." bisik Budhe padaku sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku pun tersenyum sambil menaikkan alisku tanda takjub tanpa suara.


Budhe lalu menepuk pundak ku setelah terlihat Pakdhe datang menghampiri ku. Aku pun menyalami Pakdhe sebagai rasa hormat, "terima kasih ya Pakdhe udah mau dateng." kataku setelah mencium punggung tangannya.


Tak ketinggalan juga kakak sepupuku Andre, datang dengan memberikan sebuah hadiah juga.


"Apaan nih? kecil amat." kataku spontan begitu saja setelah dia mengeluarkan satu kotak kecil dari saku dalam jasnya.


Iya ini memang pesta pribadi dan non formal tapi laki-laki yang terhitung tampan ini berbusana dengan maksimal hingga memakai jas juga, padahal sebenarnya ia pasti tak sempat ganti baju setelah pulang kerja karena langsung ke sini mengingat jarak tempatnya bekerja ke tempat pesta ini lumayan memakan waktu.


Tama sempat melirik tepat ke arah mataku dengan memberi tatapan protes seolah mengatakan kalau perkataan ku tadi tidak baik atau kurang sopan.


Tapi maaf saja Tama, naluri Rona ku menguar begitu saja ketika ada acara keluarga seperti ini hingga keluarlah kalimat itu secara spontan.


"Buka aja kalau penasaran." kata Andre yang sadar akan ekspresi wajah penasaran ku.


Tentu saja aku menuruti perkataannya itu dan membuka langsung hadiah darinya di hadapannya tanpa berpikir panjang lagi.


"Hah apaan nih?" tanyaku tak mengerti sambil memegang barang itu dan membolak-balikkan produk tersebut lalu membaca tulisan pada cover produk itu dengan seksama.

__ADS_1


"Astagaa Andree.. ini kamu dapet barang beginian dari mana? jangan-jangan di luar sana kamu suka begituan pake barang ini ya?" Mataku hampir saja keluar setelah membaca kegunaan barang tersebut.


Terdengar berlebihan tapi tentu saja karena barang tersebut termasuk dalam kategori obat kuat yang bisa memberi rang*sangan pada penggunanya. Sampai geleng-geleng aku meresponnya.


"Enak aja lo! Ini gue pesen dari temen kerja gue ya. Kata dia ini rekomendasi bagus buat pasutri kayak kalian biar cepet-cepet punya momongan." Elak Andre yang tak terima dengan tuduhan ku.


Tentu saja karena dia juga takut jika saja orang tuanya yang mendengar kata-kata ku barusan akan berfikir dan menganggap bahwa apa yang ku katakan adalah benar.


"Lu kira gue cowok apaan pake gituan belum nikah. Gue bukan cowok yang sembarangan nebar benih sana sini ya." Katanya lagi dengan nada seolah tidak terima dengan perkataan ku barusan, tentu tidak dengan nada marah ya.


"Bagus juga sih Ndre kado dari lo. Jadi Shina bisa tahan lebih lama lagi." celetuk Tama dengan senyum sebelah bibirnya yang menyunggingkan kejahilan. Aku pun langsung melotot mendengar perkataan Tama barusan dengan seketika mencubit kecil pinggangnya hingga dia mengaduh.


"Aaww.. aduh.. sakit Shina."


"Biarin." kataku lalu mengabaikannya lagi. Andre dan Tama malah terkekeh bersamaan melihat reaksi ku barusan.


Om dan Tante Tama yang berjalan mendekat ke arah kami pun juga ikut tertawa karena mungkin mereka juga mendengar percakapan terakhir kami.


"Giliran Tante ya Ndre sekarang." kata Tante Tama menginterupsi.


"Selamat ya Tama, nak Shina." Om dan Tante Tama lalu memberi kami sebuah hadiah setelah mengucapkan kata selamat. Hadiahnya yang diberikan berupa kotak kado kecil kepada Tama.


"Makasih ya Om, Tante." kataku ke mereka dengan kemudian menyalami Om Tama dan melakukan cipika-cipiki ke Tante Tama.


"Apa nih Om kecil banget?" tanya Tama yang penasaran. Kini giliran dia yang bicara kurang sopan setelah menerima sebuah kado dari pemberinya.


Aku menyikutnya dengan isyarat jangan bicara gitu ke orang tua. Tama hanya nyengir setelah tahu maksud ku.


"Buka aja. Itu buat kalian." titah Om nya Tama. Sesuai instruksi Om nya Tama lalu membukanya. Ternyata di dalam sebuah kotak kecil itu terdapat sebuah kunci mobil. Aku sedikit mengangakan mulut ku karena tak percaya dengan hadiah yang kami terima.


"Asiik.. dapat mobil baru." Tama memegang kunci mobil itu lalu memutar-mutarnya di jari telunjuknya.


"Itu dari kami sekeluarga buat kalian. Doa kami semoga hubungan kalian langgeng dan kalian cepet punya baby ya." imbuh Tante Tama.

__ADS_1


"Aamiin." aku dan Tama kompak mengucapkan kata amin.


"Makasih ya Om, Tante." imbuh Tama berterima kasih kepada Om dan Tantenya. Om dan Tante Tama pun mengangguk sambil tersenyum.


Kemudian mereka percaya meninggalkan kami untuk menikmati makanan yang tersaji di sana malam ini.


Lalu hadiah dari Mama Papa sudah tentu masuk ke dalam rekeningku. Mereka mengucapkan selamat sambil mendoakan agar kami cepat diberikan momongan.


Sedangkan Mama Tama berkata, "Mama nggak kasih hadiah ya. Mama pengennya di kasih. Mama tunggu kalian kasih Mama cucu."


Semua lalu tertawa mendengar perkataan Mama Amita karena sekarang kami sedang menikmati makanan kami secara bersama.


Malam ini kami berkumpul bahagia. Makanan yang banyak, musik live serta dansa sederhana untuk mengisi acara pesta.


Disela pesta seperti ini para laki-laki masih saja membicarakan tentang pekerjaan. Kami para perempuan juga menceritakan pengalaman menjalani pernikahan masing-masing. Aku jadi dapat pengalaman dari para orang tua ini.


Kami lalu foto foto bersama untuk dijadikan memorable keluarga. Malam mulai larut. Kami saling berpamitan satu sama lain lalu kembali ke kamar masing-masing.


"Gimana? Capek nggak?" tanya Tama saat sudah tiba di kamar kami.


"Iya lumayan melelahkan juga." jawabku.


"Aku tau kamu nggak suka acara pesta-pesta apalagi yang besar-besar. Makanya aku minta supaya keluarga saja yang diundang." kata Tama, kini dia bersiap untuk mengganti baju yang ia pakai untuk acara pesta barusan dengan sebuah kaos putih polos dan celana boxer selutut.


Aku tersenyum menanggapi perkataannya. "Terima kasih ya." ucapku.


"Tapi berasa ada yang kurang ya karena nggak ada Tania. Kita udah sering lewatin momen bahagia gini tanpa dia." ucapku yang duduk di tepian ranjang menatap ke arah Tama.


Setelah selesai memakai kaosnya Tama terdiam sejenak. "Sebentar lagi dia wisuda. Kemarin-kemarin juga sibuk skripsi. Selesai wisuda dia juga akan langsung jadi dokter praktek. Kita doakan yang terbaik saja untuk dia." ucap Tama lalu berjalan ke arah ku kemudian mencium keningku.


"Cepat ganti bajunya." ucap Tama kemudian berlalu ke kamar mandi.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2