ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 7 : DITINGGALKAN


__ADS_3

"Makasih ya sarannya. Aku duluan ya." ucapku pada laki-laki itu seraya pamit. Laki-laki itu pun mengangguk.


Aku pun bergegas pergi dari tempat itu menuju ke arah mobil yang sudah terparkir di sana. Kasian pak sopir nunggu lama dari tadi.


"Selamat datang Nona." sapa Merlin setelah aku sampai rumah. Aku mengangguk membalas sapaannya.


Jarum jam ruangan tengah menunjuk angka 9:13. Ternyata malam juga aku sampai rumah. Ku pegang tengkukku sembari sedikit memijitnya. Rasanya lelah sekali hari ini. Menaiki anak tangga pun rasanya berat. Andai ada lift di rumah besar ini. Ku letakkan buket bunga yang kubawa dari florist di vas yang terletak di atas meja di luar kamar sebelum aku masuk ke kamar.


Kubuka pintu perlahan takut Tama akan terbangun dengan kedatangan ku. "Ternyata dia gak ada disini lagi." kataku. Pasti di ruang kerjanya lagi.


Aku meletakkan tas kecilku ke atas meja panjang kemudian berjalan ke kamar mandi. Aku langsung mandi dan ganti baju. Ku rebahkan sejenak badanku untuk menghilangkan rasa pegal di punggung dan kakiku karena tadi seharian duduk untuk merangkai bunga.


"Laper." aku memegang perutku. Ku turuni anak tangga menuju ruang makan. Wangi makanan yang Merlin hangatkan menyambut ku di meja makan. Aku tadi memberitahunya lebih dulu lewat intercom untuk menyiapkan makan malam untukku. Mungkin aku mengganggu dirinya yang sudah tidur dengan lelap merangkai mimpi.


"Maafin aku Merlin, tapi aku sangat lapar." ucapku dalam hati.


"Tama udah makan ?" tanyaku.


"Belum Nona. Sepertinya masih kerja." jawab Merlin yang setia menungguku yang sedang makan.


Ku lirik jam di dinding yang terpajang di ruang makan, 11:03. Aku melanjutkan makan ku hingga selesai.


"Kamu udah makan belum?" tanyaku ke Merlin setelah selesai makan. Merlin bukannya menjawab ia malah melongo dengan tatapan sedikit aneh, tatapan yang seolah mengatakan, "hah?".


"Ih, ditanya kok malah ngelamun." ucapku.


"Ah maaf, sudah Nona, tentu saja saya sudah makan. Ini kan sudah hampir tengah malam." jawabnya.


Oh iya ya, aku hanya menganggukkan kepalaku. Niat hati ingin berbuat baik dengan menyuruhnya makan tapi salah waktu. Tentu saja mereka udah makan dari tadi. Dan siapa juga yang makan malam tengah malam gini kalau bukan aku doang, Rona. Tapi mungkin orang-orang di luar sana banyak yang melakukannya juga.


"Ya udah, aku nyamperin Tama dulu." kataku lalu meninggalkan Merlin.


Setelah kepergian ku Merlin lalu membereskan peralatan dan makanan bekas ku makan.


"Tok tok."


"Tama masih kerja? Aku masuk ya?" Kataku dari luar pintu.


Dibukanya pintu dari dalam, terlihat muka kusut dan mengantuk menyapaku. Gak sedap banget di pandang, tapi aku malah kasian. Keliatan banget capeknya, kayak aku kalo lagi ngerjain materi dari dosen killer.


"Udah makan?" tanyaku lembut.


"Nanti aku ambil sendiri. Sekarang masih tanggung." jawabnya lalu kembali ke meja kerjanya. Sibuk lagi dengan laptop dan layar komputer yang menyala.


"Istirahat dulu sebentar, mau aku bikinin kopi?" tawar ku.

__ADS_1


"Gak usah, ini tinggal sedikit lagi kok. Gak lama." jawabnya.


Gak bisa berkata apa-apa lagi aku.


"Mau tidur lagi diruang kerja?" tanyaku lagi mencoba menganggap diri ini peduli kepada suami yang sangat sibuk ini.


"Iya. Kamu tidur lagi aja kalau masih ngantuk." titahnya.


"Aku juga belum tidur dari tadi, barusan habis makan malam." kataku yang diri ini sudah duduk di sofa ruang kerjanya.


Dia mengernyitkan dahinya, "kenapa belum tidur?"


"Capek. Dapet banyak pesanan bunga jadi pegel pegel badan dan kakiku." jawabku sambil memeluk bantal kursi sofa tersebut.


Tama tersenyum namun seperti sedang menertawakan ku, tertawa kecil yang ditahan. Kenapa dia, emang apanya yang lucu.


"Ada yang lucu?" tanyaku penasaran.


"No. Hanya saja, bukannya bagus kalau tokonya rame."


"Iya juga sih, tapi ada capeknya juga." kataku sambil mengerucutkan bibirku sedikit.


Tawa Tama sekarang terlihat jelas meski hanya tawa kecil tanpa suara. Matanya terlihat tak sayu lagi dan wajahnya pun terlihat segar lagi.


"Sudah terlalu malam, tidurlah duluan." katanya yang sebelumnya telah melirik jam kecil di meja kerjanya.


Aku mengangguk, "baiklah, aku ke kamar duluan."


"Langsung tidur, meski cuma sebentar." kataku lalu meninggalkan dia untuk kembali ke kamar.


Paginya kami semua bertemu di meja makan.


Akhirnya kita bisa sarapan pagi bareng lagi, karena berkumpul di meja makan saat sarapan pagi adalah hal yang biasa aku lakukan dengan Baba dan Mamah. Tuh kan jadi teringat lagi.


"Lusa aku keluar kota. Sepertinya akan satu minggu di kota sana." Kata Tama setelah selesai dengan sarapannya.


"Yaah kak, gak bisa anterin aku pulang dong. Dua hari lagi aku mau terbang." kata Tania dengan nada khas manjanya kepada sang kakak.


"Kamu dianterin sama kak Shina aja. Shina, tolong anterin Tania ya." katanya lalu beralih menatap ke arahku meminta bantuan kepadaku.


"Oke. Nanti aku anterin. Kamu gak papa kan dianterin sama aku aja?" tanyaku ke Tania, menyanggupi permintaan kakaknya.


"Terimakasih kak Shina. Kalian perhatian banget sama aku." ucapnya dengan nada khas manja tersebut.


"Aku udah dapet tempat prakteknya.Cuma agak jauh dari rumah kalian. Kalau aku udah dapet ijin praktik aku bakal sering berkunjung kok apalagi kalau kalian punya anak nanti." celotehnya.

__ADS_1


Aku dan Tama hanya bisa saling menatap menanggapi omongan sang adik ini, kami juga saling melempar senyum.


Hari Tama berangkat ke luar kota pun tiba. Aku dan Tania mengantar kepergiannya hingga gerbang depan rumah.


"Jangan lupa sering kasih kabar. Inget kalau punya istri di rumah." kata Tania cengengesan sambil melambaikan tangan.


"Kak Shina, kalian jarang pamer kemesraan ya diluar dan di depan orang lain. Aku jadi curiga deh sama kalian." goda Tania sambil merangkul tanganku.


"Apaan sih kamu. Yuk ah aku bantuin packing." kilahku menyangkal omongannya, takut dia jadi benar-benar curiga.


"Ini, aku punya hadiah buat kamu." kataku menyerahkan sebuah paper bag.


Saat ini kami sedang di kamar Tania, aku membantunya packing. Tak banyak baju yang ia bawa dari awal keberangkatannya datang kesini ataupun saat ia akan kembali pergi lagi seperti sekarang. Ia membawa koper hanya untuk mengisinya dengan makanan-makanan yang tak ia dapatkan di sana dan hanya beberapa potong baju yang ia beli sebagai tanda buah tangan.


"Waah, ini cantik bangeett. Kakak yang beliin?" serunya seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah dari orang tuanya setelah membuka hadiah pemberian dariku.


"Iya. Cuma hadiah kecil sebagai kenang-kenangan, aku harap kamu suka." ucapku.


"Tentulah aku suka, cantik gini." dia memakainya.


"Gimana? Cantik kan?" dia menanyakan pendapatku.


"Cantiik bangeet." pujiku sambil mengerlingkan sebelah mata.


Tentu saja, mana mungkin orang secantik dia masih menanyakan pendapat orang lain tentang apa yang ia kenakan. Haish, tentu saja hanya ada dalam dunia novel.


Hari keberangkatan Tania.


"Tania kamu bener gak sarapan dulu?" tanyaku sambil membantu membawa koper Tania.


"Iya kak gak usah. Takut mabuk perjalanan nanti. Kalau jetlag kan aku repot sendiri." ujarnya.


Kami lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Sampai di bandara Tania berpamitan dengan meminta bantu doa agar acara KKN dan pengerjaan skripsinya berjalan lancar nantinya.


"Iya kakak doain semua hal baik yang kamu lakukan juga berhasil dengan baik."ujarku.


"Makasih kaak."ucapnya lalu kemudian memeluk tubuhku. Rasanya seperti punya adik sendiri, padahal aku anak tunggal.


"Semoga selamat sampai tujuan. Kalau sudah sampai kabarin ya." pesanku padanya. Kami melepaskan pelukan lalu saling mengucapkan salam perpisahan.


"Sama suaminya aja gak begini." Tania masih sempatnya menggodaku sebelum melenggang pergi. Aku hanya tersenyum lalu melambaikan tangan. Aku menghela nafas lalu mengambil langkah untuk pulang.


⭐⭐


jangan lupa like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2