
"Semoga selamat sampai tujuan. Kalau sudah sampai kabarin ya." pesanku padanya. Kami melepaskan pelukan lalu saling mengucapkan salam perpisahan.
"Sama suaminya aja gak begini." Tania masih sempatnya menggodaku sebelum melenggang pergi. Aku hanya tersenyum lalu melambaikan tangan. Aku menghela nafas lalu mengambil langkah untuk pulang.
Hari berikutnya..
Hari ini Shina berniat untuk pergi ke florist. Setelah ditinggal oleh Tama dan Tania rasanya seperti sepi rumah itu. Ya meski hari-hari biasa pun biasanya sepi karena siang hari Tama ataupun Shina pergi untuk bekerja, namun saat malam hari mereka menampakkan sosok keberadaan masing-masing meski jarang berbicara ataupun ngobrol.
Saat kedatangan Tania kemarin membuat rumah itu juga terasa seperti di isi oleh manusia karena Shina sempat libur untuk menemani Tania pergi jalan-jalan untuk membeli barang dan makanan kesukaannya sebagai oleh-oleh.
"Bos, mau kopi? Kok melamun aja." suara Deri mengagetkanku. Tanpa sadar pikiran ku kosong, memikirkan kepergian mereka. Ditinggalkan mereka lebih tepatnya.
"Boleh." jawabku.
"Tina, kopi buat Bu Bos!" teriak Deri pada Tina yang berada dekat dengan pantry. Tak lama kemudian kopi putih disuguhkan untuk ku dengan gula terpisah. Di letakkan di atas meja tempatku duduk, tempat kami merangkai bunga juga.
Pemandangan ini mengingatkan ku pada Tama, saat aku membuatkan kopi tengah malam untuknya. Sudah lima hari ini dia pergi, tapi belum juga pulang atau memberi kabar.
Apa emang kek gini ya, hubungan Shina dan Tama? Apa aku harus kirim pesan duluan? Ih gengsi lah, aku kan perempuan. Tapi tetep aja sebagai Shina yang menjadi istri Tama kan khawatir kalau gak ada kabar dari suami. Kalau hari-hari biasa dia di sini tanpa kabar kan gak pa-pa karena kita juga akan ketemu nantinya. Ini kan jauh.
"Sejak kapan aku kepikiran gini?" pikirku dalam hatiku.
Aku coba buka obrolan dengan Deri untuk melupakan kepikiran ku.
"Pesanan yang kemaren udah beres ya Der?"
__ADS_1
"Iya bos, udah beres semua. Kita cuma kirim pesanan buket kecil hari ini."
Aku mengangguk-angguk. Stag sampai sini aja obrolan kita. Bingung mau cari pembahasan apa untuk mengusir rasa kepikiran ini.
"Der, kalau semisal kamu dikasih kesempatan yang tak terduga, kesempatan kedua misalnya. Mau kamu apakan kesempatan itu?" Aku membuat pertanyaan asal.
"Kalau aku, aku bakal ngelakuin apa yang gak bisa aku lakukan dari dulu dan seharusnya aku lakukan sekarang jika kesempatan itu ada." jawabnya langsung. Aku terdiam menatapnya.
"Kenapa bos?" tanyanya sambil tersenyum.
"Enggak." jawabku menggelengkan kepala.
"Emang apa yang ingin kamu lakukan kalau kamu di kasih kesempatan itu?" tanyaku seperti sedang menelisik masalah pribadi orang lain saja.
Deri menghentikan aktivitasnya sejenak, menghela nafas pelan. "Aku udah berbuat kesalahan sampai bikin papa aku sakit dan gak bisa jalan sampai sekarang. Meski waktu di ulang, kejadian yang sama pun akan terulang kembali. Sekarang yang bisa aku lakukan ku adalah memperbaiki diri dan menebus kesalahan itu dengan menggantikan papa sebagai tulang punggung keluarga."
Aku pun mengganti topik pembicaraan yang lain. Mengobrol lama sambil sesekali merangkai bunga, Tina pun ikut membantu sambil ikut nimbrung obrolan kami. Setelah pesanan selesai di antar, Aldo dan Fikri juga ikut bergabung dengan kami. Kami pun jadi ngobrol panjang lebar dan tutup lebih sore dari jadwal jam tutup toko.
"Hati-hati di jalan ya kalian." kataku pada mereka sebelum benar-benar pulang.
Sesampainya di rumah aku lalu menuju kamar.
Saat ini aku sudah kembali ke kamar ku yang dulu sempat di tempati Tania. Setelah selesai mandi, mengganti baju dan mengeringkan rambut ku pasang air purifier beraroma lavender favoritku.
Aku duduk dimeja rias sambil berkaca, menikmati aroma terapi yang menenangkan dari air purifier.
__ADS_1
Teringat dengan obrolanku dengan Deri tadi saat di florist, aku mulai memikirkan sesuatu.
"Kalau ini mimpi tapi aku merasa gak bisa bangun dari mimpi ini. Kalau ini semacam ujian yang menugaskan aku harus selesaikan ini lewat mimpi ini, secepat mungkin aku harus mencari sesuatu untuk mengurai agar mimpi ini selesai dan kembali ke duniaku." tekad ku dalam hati.
Bukankah semua masalah yang seperti benang kusut ini ada benang merahnya?
Ku oles serum muka ke wajahku lalu aku berjalan menuju ranjang empuk ku kemudian bersiap untuk tidur.
"Wiuu...wiuu... wiuu" suara sirine ambulan terdengar sepanjang jalan. Muka dan badan yang penuh dengan darah. Aku menangis sepanjang jalan sambil memegang tangannya. Sesampainya di rumah sakit semua terlihat sibuk dan perlahan pandanganku mulai samar sebelum setelahnya menjadi gelap.
Ketika ku terbangun, ku lihat papa dan mama di sampingku sambil menangis. Mereka memelukku sambil mengatakan sesuatu yang samar kudengar. Aku dituntunnya menuju ruangan Tama di mana sedang di lakukan penanganan untuknya.
Seluruh tubuhku dingin, rasanya membeku. Terlihat mama mertua sedang menangis di depan pintu ruangan tersebut sambil di pegang pundaknya oleh Tania. Mataku terus berair, lidah ku kelu, seluruh badanku gemetar.
Ku lihat keadaan lampu yang berada di luar ruangan itu padam. Beberapa perawat dan dokter terlihat keluar dari ruangan tersebut. Hingga mama mertua menghampiri mengajukan pertanyaan lalu di jawab oleh dokter itu dengan sebuah gelengan.
Aku yang melihat dengan jarak yang tak jauh dari tempat mereka berada berteriak histeris. Teriakan tak karuan terlontar dari mulutku bersamaan dengan tangisanku yang menjadi. Hingga rasanya sesak dan sulit bernafas..
"Hah.. hah.. hah.."
Aku terbangun dari mimpi buruk ku dengan nafas yang sengal dan air mata yang juga ikut luruh dari dunia mimpi.
Aneh, jika ini mimpi, harusnya aku tak bisa bermimpi lagi. Memimpikan hal lain lagi. Apalagi mimpiku kali ini sangat buruk. Mimpi seorang istri tentang suaminya. Tubuhku pun masih bergetar hebat, efek dari mimpi itu terbawa hingga aku bangun.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘