ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 69 : URUS MANTAN LO


__ADS_3

Apalagi sampai merubah pandangan Saga tentang kejadian tadi. Disangkanya ia yang aduan atau mungkin mantan pacarnya yang akan terlihat buruk dimata laki-laki ini. Namun ternyata Vita tak mau berhenti dan terjadilah suasana yang canggung selama itu.


"Huufftt.." Rona menghembuskan nafasnya kasar.


Sekarang ia sedang berada di kamarnya dengan layar laptop yang menyala dan beberapa buku besar yang terbuka.


"Cepatlah datang wahai sidang." Gumamnya setiap kali ia sudah lelah dengan satu tugas beratnya. Skripsi.


Kenapa ia malah meminta agar cepat sidang bukannya meminta agar cepat selesai skripsinya? Karena menurutnya jika sudah dituntut oleh waktu pekerjaan pun akan selesai dengan cepat. Ia tertawa sendiri juga dengan prinsip yang seperti itu.


Rona menggeletakkan kepalanya di atas meja belajarnya, istirahat sejenak. Pikirannya kembali teringat dengan kejadian di Mall tadi. Setelah perbincangan antara Vita dan Saga selesai, laki-laki itu mengajak dirinya untuk pulang bersama dan menyuruh Raya untuk pulang sendiri dengan tegasnya.


"Ray. Lo pulang sendiri." Kata Saga yang sudah berdiri dari duduknya. Tentu saja Raya dibuat melongo ekspresinya karena ucapan Saga barusan. Mereka datang bersama tapi kini ia disuruh pulang sendiri. Meski begitu Raya tetap mengangguk mengiyakan.


Setelah menghabiskan minuman milik Rona, Saga kembali berkata, "lo pulang sama gue."


Dan kini Rona menengadahkan kepalanya menatap Saga dengan tatapan tak percaya. Diseberang sana Vita malah berekspresi dengan smirk yang hampir tak terlihat karena tertutup oleh tangannya yang sedang memegang sedotan minumannya.


"Kan gue dateng sama Vita." Protes Rona yang kemudian melihat ke arah Vita.


"Lo bawa mobil?" Tanya Vita ke arah Saga karena laki-laki itu juga menatapnya.


"Motor." Jawab Saga langsung. Rona kembali menatap ke arah Saga yang sedang berdiri. Yang bener aja, motor dia kan motor gede. Dia kan nggak punya motor matic.

__ADS_1


"Lo bantuin dia naik." Kata Saga pada Vita tanpa menoleh ke arah Rona. Ia tahu jika Rona pasti akan protes.


"Ayok!" Saga sudah meraih tongkat penyangga jalan milik Rona dan tangannya terulur pada Rona. Tak bisa berkata-kata lagi Rona hanya menurut begitu saja karena Saga mengajaknya dengan tatapan mata yang terlihat serius. Entah kenapa Rona jadi sedikit takut.


"Hhaahhhh." Kembali pada kesadarannya lagi Rona beralih menatap jam weker di atas meja nakasnya setelah menghembuskan nafas lelahnya yang terdengar frustasi.


"Jam sebelas. Udah dulu ah." Gumamnya sendiri lalu beranjak dari meja belajarnya berjalan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.


Sebelum bersiap untuk tidur ia mengecek ponselnya sebentar. Pesan chat masuk dari Saga. "Lo gue jemput besok." Tulis laki-laki itu yang ternyata pesan itu di kirim jam sembilan lebih dua puluh lima menit.


Rona tak mendengar jika ada pesan masuk karena handphonenya ia mode silent tadi. Ingin membalas pun percuma, mungkin Saga juga sudah tidur, pikirnya.


Lagi, hari ini Rona bertemu dengan Novi lagi. Ada rasa kesal dan jengah meski baru pertama bertemu dengan perempuan yang katanya mantannya Saga ini. Apa urusannya sama dia sampai sampai nih perempuan seperti terus menguntitnya?


"Hubungan lo apa sih sama Saga? Sampai segitu belanya dia sama lo. Setelah lo udah keluar dari rumah sakit pun dia masih aja ngurusin lo..." Kata Novi lalu menjeda ucapannya karena sebelum ia melanjutkan perkataannya Rona mulai bersuara.


"Sorry ya sebelumnya. Kita nggak kenal dan gue nggak tau soal hubungan kalian dan nggak mau tau juga tentang hubungan kalian. Masalah lo sama dia bukan sama gue. Gue nggak tau masalah kalian dan jangan bawa-bawa gue dalam masalah kalian."


Rona menghela nafas sejenak lalu melanjutkan ucapannya. "Gue sama Saga teman dari masa kecil yang sama-sama diasuh dan dibesarkan oleh orang tua yang sama." Kata Rona tegas dengan wajah seriusnya. Ia ingin memperjelas semua sangkaan Novi yang dimana perempuan itu tahu bahwa dia adalah alasan dan penyebab Novi dan Saga putus.


Tapi mendengar dari penjelasan Saga beberapa hari yang lalu setelah ia diantar pulang oleh laki-laki itu sepertinya Novi tidak terima karena dia diputuskan secara sepihak oleh Saga.


Kenapa bisa begitu? Karena Saga memiliki alasan sendiri. Alasannya ia ingin balas budi ke keluarga Rona terutama kepada Mamah Dhira yang telah mau mengasuh Saga dari kecil selama Mamanya berjuang membantu Papanya memperbaiki kehidupan ekonomi mereka. Rasanya tidak tahu terima kasih sekali dirinya jika tidak ikut repot-repot bergantian menjaga Rona di rumah sakit hingga membantu segala rupanya.

__ADS_1


Namun Novi tak mau mengerti tentang semua itu, yang perempuan itu ingin adalah masa pacaran layaknya pemuda-pemudi lain yang tak punya urusan dan tanggung jawab. Berbeda dengan pemikiran Saga yang merasa harus ikut tanggung jawab apalagi dia juga yang pertama kali membawa Rona ke rumah sakit.


"Kalau masih nggak puas dengan penjelasan gue. Gue undang Saga kesini buat kelarin masalah kalian berdua dan nggak bawa-bawa gue lagi." Kata Rona dengan nada rendahnya lalu mengeluarkan handphone miliknya dari tote bagnya.


Novi melengos sambil berdecih. "Nggak usah! Gue bisa temuin dia sendiri." Ucap Novi.


Namun panggilan sudah dibuat oleh Rona untuk Saga. "Well. Bagus. Silahkan langsung datang ke dia." Ujar Rona yang saat ia berkata begitu panggilan sudah berlangsung untuk Saga. "Selesaikan masalah kalian dan jangan lagi datang ke hadapan gue lagi apalagi bawa-bawa gue lagi di masalah kalian." Ucapnya pada Novi.


"Urus mantan lo Saga!" Kata Rona yang sudah tahu jika panggilannya terhadap Saga sedang berlangsung. Ia menekankan kata mantan sambil menatap mata perempuan yang bernama Novi itu dengan tatapan tajam.


Setelah mematikan panggilannya dengan sepihak tanpa sepatah katapun keluar dari seberang telepon sana Rona kemudian pergi meninggalkan Novi dan temannya yang sedari tadi diam di belakangnya menjadi saksi dan penonton percakapan mereka.


Rona mendengkus kesal selama dalam perjalanannya menuju kelasnya. Padahal kemaren - kemaren hidupnya tenteram - tenteram aja setelah ia berpikir positif untuk berubah menjadi anak yang baik meski memang sebelumnya ia juga tidak terlalu nakal. Dia ingin tobat dari nakalnya dia yang sering bolos dan sering ngador.


Tapi yang ia dapat setelah menjadi anak kutu buku dan anak kampus, belakangan ini malah ada masalah dengan lingkungan yang menurutnya baru ini. Padahal dia sudah hampir lulus. Sebelumnya dia jarang sekali berada di sekitaran universitas kebanggaannya itu.


"Kenape muke lo?" Tanya Vita yang melihat sahabatnya langsung men-ndlosorkan badannya di meja tempatnya belajar.


"Baru datang udah dibikin badmood." Jawab Rona tanpa melihat ke arah Vita.


"Siapa?" Tanya Vita penasaran.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2