
"Tama! Kita di tempat umum ya. Dasar mesum." Bisik ku sambil mencubit kecil lengannya.
Untung saja sekitar kita sedang tidak ada orang jadi tidak ada yang mendengarnya. Dan untung saja dia tau waktu harus becanda seperti itu. Namun bukannya kesakitan dia malah tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi ku dan mukaku yang benar-benar merah karena malu.
"Coba kamu mau pulangnya dari tadi dari pada muter-muter lama di mall ujungnya cuma mampir makan doang. Kalau di rumah kan kita bisa lakuin aktivitas lain." kata Tama yang sudah akan membawa mobilnya keluar parkiran.
"Iishh kamu ini pikirannya. Katanya mau ngajak aku jalan-jalan biar nggak stres, kalau di rumah meski ditemenin kamu kan sama aja bohong." kataku dengan nada bersungut. Tama malah terkekeh melihatnya.
"Tam, permen kapas!" teriakku dengan menunjuk gerobak pedagang kaki lima di pinggir jalan sambil mengebrak-gebrak jendela mobil agar Tama menghentikan mobilnya.
"Shina jangan heboh deh. Iya aku berhenti." kata Tama yang langsung mengatur laju mesin mobilnya.
"Tunggu bentar, aku puter dulu di depan." kata Tama yang pandangannya mencari celah untuk memutar balik mobilnya.
"Nggak usah. Biar aku nyebrang aja. Itu di depan ada zebra cross, turunin aku di situ." kataku pada Tama lalu menunjukkan jalan aspal yang di cat belang putih.
"Enggak Shina. Itu terlalu bahaya buat kamu nyebrang sendiri. Perut kamu udah besar ya. Nggak boleh lari-lari juga." kata Tama yang tegas penuh penekanan karena khawatir mendengar perkataan ku barusan mungkin.
"Nggak pa-pa Tama. Itu kan di situ ada pak polisi juga. Lagian jalanannya nggak terlalu rame." kata ku padanya sambil menunjuk pada pak polisi yang terlihat sedang membantu menyeberang pada pejalan kaki.
"Pokoknya aku mau turun sekarang. Takut keburu abis sama anak-anak sekolah. Kamu parkirin dulu mobilnya di sana terus susul aku nanti." kataku terus mengotot agar Tama cepat memarkirkan mobilnya.
Terlihat Tama mendengkus kasar lalu dengan segera menghentikan mobilnya. "Oke, oke. Silahkan turun dulu. Hati-hati jangan lari dan minta bantuan pak polisinya. Aku parkir mobil dulu."
"Makasih sayang." ucapku lalu mencium pipinya sekilas kemudian aku segera turun agar tak membuat kemacetan di belakang mobil yang kami tumpangi.
Aku lalu berjalan ke depan untuk menghampiri pak polisi agar diseberangkan ke jalan sebelah depan ku. Polisi itu pun bersedia. Bersamaan dengan anak-anak usia remaja yang juga akan menyeberang aku di dampingi oleh pak polisi.
"Kamu gila apa?!" teriak seorang perempuan yang berada di dalam sebuah mobil yang terparkir di bahu jalan raya yang lebar.
"Aku nggak mau ya! Aku mau nolong kamu, menampung kamu di rumah aku karena aku kasihan sama kamu yang terus merengek menderita di rumah sakit sana!" jelas perempuan itu dengan nada lebih tinggi lagi.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu punya keinginan gila untuk mencelakai orang lain! Harusnya kamu itu balik lagi ke rumah sakit aja. Biar cepet sembuh kamu!!" teriak perempuan itu dengan nada kesal sarat hinaan. Dan yang menjadi topik pembicaraannya hanya menatap ke depan dengan tatapan lurus penuh arti.
"Delia, aku mau minuman dingin." kata Nadia dengan nada bicara yang mulai biasa dan raut muka datar setelah mendengar ocehan panjang dari sang penyelamatnya.
Nadia belum benar-benar sembuh dari terapinya. Namun ia sudah tidak sanggup untuk menjalani terapi di rumah sakit tanpa pendamping dan support dari siapapun. Akhirnya ia meminta kepada Delia yang merupakan saudara jauhnya dari salah satu orang tuanya agar menjadi penanggung jawabnya untuk dikeluarkan dari rumah sakit. Itupun tanpa sepengetahuan Tama karena Tama juga sudah tidak peduli lagi tentang Nadia setelah kejadian masa lalu itu.
Delia mengikuti arah pandangan mata Nadia yang menatap ke sebuah outlet minuman dingin yang terlihat cukup ramai tempatnya. Banyak yang antri di luar untuk melakukan take away pada minuman itu.
Delia menghela nafasnya panjang untuk menetralkan emosinya dalam menghadapi Nadia. Saudaranya itu orang sakit yang butuh perhatian khusus untuk sembuh meski kadang perkataannya banyak yang tidak pernah Nadia dengarkan namun ia tetap sabar menghadapinya karena hanya ia saudara yang peduli pada Nadia setelah ayah Nadia masuk penjara karena kesalahannya yang pernah melakukan kejahatan terhadap Tama.
Delia mendengkus kasar lalu keluar dari mobil mengajak Nadia untuk ikut turun juga.
"Ayo turun. Pesan yang kamu mau."
Nadia menuruti perkataan Delia dan ikut turun dari dalam mobil. Ia berjalan mengekor di belakang Delia dan juga ikut mengantri.
Saat Delia sedang fokus mengantri untuk menunggu gilirannya, Nadia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil dengan menyahut kunci mobil yang hanya digenggam oleh Delia sedari tadi. Dengan cepat ia kembali ke dalam mobil Delia lalu dengan cepat pula ia melajukan mobil yang ia tumpangi itu.
"Awaaasss!!!!"
Wuushhh
Bruuukkk
Brraakkk
Wwuusshhhh
Waktu seperti berjalan cepat tanpa ada manusia yang bergerak. Mobil yang Nadia kendarai menabrak tubuh Shina yang sedang berdiri di tepi zebra cross setelah ia selesai menyeberang.
Sesuai keinginannya, Nadia menginginkan kematian Shina ditangannya. Dia tak ingin Tama dimiliki oleh siapapun juga jika dia juga tak bisa memilikinya. Dan setelah melakukan penabrakan itu Nadia lalu kembali melajukan mobil Delia tanpa menghiraukan sekitarnya hingga mobil itu juga menabrak pejalan yang lain yang telah selesai menyeberang.
__ADS_1
Sebelumnya, Delia yang merasa tangannya ada yang menyentuh lalu berbalik dengan cepat. Takut saja jika yang mengambil kunci dalam genggamannya adalah begal mobil yang tengah mengincarnya sedari tadi.
Betapa terkejutnya ia setelah melihat yang mengambil kunci mobilnya adalah Nadia dan dilihatnya dengan cepat Nadia berlari masuk ke dalam mobilnya.
"Yang benar saja begal beraksi di siang hari dan ditengah banyak kerumunan begini. Sudah pasti yang melakukannya orang gila itu!" sarkas Delia sambil berlari mengejar mobilnya.
"Delia bodoh!" rutuknya pada dirinya sendiri karena lengah dan tak waspada dalam mengawasi Nadia.
"Awaaasss!!!!" teriak Delia dengan suara penuhnya yang lantang agar di dengar oleh semua pejalan kaki yang selesai menyeberang itu termasuk Shina. Delia sudah putus asa untuk mengejar mobilnya hingga berteriak adalah hal terakhir yang ia lakukan.
Setelah teriakan itu semua mata orang yang berada di sana tertuju pada arah pandangan Delia yang juga melambaikan tangan ke arah zebra cross. Termasuk Tama yang baru saja memarkirkan mobilnya dan baru saja keluar dari mobilnya. Pandangannya sama tertujunya seperti yang orang-orang di sana lihat.
Mata Tama terbuka lebar seketika. Pandangan di seberang sana terlihat jelas untuk matanya yang masih sehat. Shina terkapar, tergolek lemah tak berdaya dengan noda darah yang juga terlihat jelas diantara area kakinya dan juga bagian wajahnya.
"Shinaa!!!" teriakannya bagaikan menggema di antara jurang dan gua. Telinganya berdengung.
Tanpa mempedulikan orang-orang disekitar yang berniat ingin menolong dan kendaraan yang membunyikan klaksonnya meminta untuk diberi jalan Tama berlari ke arah istrinya yang terkapar tak berdaya itu.
Tubuh Shina dan orang-orang yang menjadi tabrak lari Nadia dikerumuni oleh banyak orang. Ada yang hanya melihat dan tak berani menyentuh karena terlalu takut melihat keadaan para korban yang terlihat cukup parah. Ada yang sigap menolong membawa salah satu korban ke dalam mobil salah satu penolong untuk dilarikan ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. Ada juga yang sibuk menelepon ambulans memberikan info dan alamat kecelakaan tersebut.
Semua suara-suara itu terasa berdengung di telinga Tama. Suara berisik orang-orang membuat otaknya iku rumit. Pikirannya kacau dengan nafasnya yang mulai sesak.
Tama memangku tubuh sang istri yang bersimbah darah. Kepala Shina dibawa dalam dekapan dadanya. Ia menatap wajah istrinya yang lemah, pandangan Shina terhadapnya terlihat menyempit. Air matanya sudah mengalir deras tanpa aba sedari tadi setelah ia meneriakkan nama sang istri.
Dengan lemah Shina mengangkat tangannya dengan gemetaran untuk menggapai wajah sang suami yang teramat dekat namun terasa sulit untuk terengkuh.
"Ta..ma." katanya tanpa suara hanya gerak mulut yang dapat Tama baca. Ujung jemari istrinya mengusap pipinya dengan lembut dan lemah hingga tangan itu akhirnya jatuh bersama mata indah Shina yang mulai terpejam.
"Shinaaa!!!" teriak tama kuat dan menggelegar.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘