
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga kini Rona bisa kembali beraktivitas di kampusnya lagi. Seperti mendapatkan sebuah hidayah dari kecelakaan yang menimpanya, Rona kini lebih rajin dan fokus dalam kuliahnya.
Meskipun kakinya belum sembuh total karena untuk berjalan sekarang ini dia membutuhkan satu tongkat penyangga tapi ia tetap semangat untuk menjalani harinya sebagai mahasiswi.
"Anterin ke ruangan dosen pembimbing ya. Biar buru-buru kelar nih skripsi." Kata Rona yang kini sedang berjalan di koridor ke arah ruangan dosen yang menjadi pembimbingnya dalam skripsi. Ia meminta Saga untuk menemaninya agar ia bisa membantu juga dalam berdiskusi nanti.
Rona sekarang benar-benar fokus dalam kuliahnya dan bertekad untuk segera menyelesaikan pendidikannya dengan baik agar bisa menjadi sukses seperti kisahnya yang lain dalam sebuah novel.
"Jangan lupa.." kata Saga sambil memainkan jari telunjuk dan ibu jarinya sebagai kode meminta imbalan.
"Tenang, gue traktir ayam geprek Bu Nonik." Ucap Rona menjanjikan imbalan untuk bantuan Saga.
"Asiiik. Makan enak." Ucap Saga dengan senyum bahagianya.
"Habis ini masih ada kelas lain nggak? Gue ada janji nih." Kata Saga setelah selesai dengan makanannya. Kini ia sedang menikmati minuman traktirannya sambil menurunkan isi dalam perutnya.
Rona menggeleng, "enggak. Cuma nanti mau ke Bookstore dulu, beli isi bolpen." Rona masih sibuk dengan makanannya yang tinggal dua suapan lagi.
"Lo mau dianter? Apa bisa sendiri?" Tanya Saga dengan memainkan gelas minumannya.
"Nanti kenapa-napa lagi." Kata laki-laki itu lagi dengan khawatir yang dibungkus dengan nada ejekan.
"Ck, kek ke bocah aja." Ucap Rona berdecak setelah ia selesai dengan makanannya.
"Lah kan emang elu masih bocah." Kata Saga spontan yang membuat Rona memasang wajah kesal sambil meminum minumannya. Saga malah menertawakan ekspresi yang dipasang gadis di depannya itu.
"Ga.." Sapa seorang gadis dari belakang Saga sambil menepuk bahu pria itu.
__ADS_1
"Eh Raya, udah ke sini aja." Kata Saga yang menoleh ke belakang dimana gadis berperawakan tinggi itu menepuk pundaknya tadi.
"Mau langsung aja?" Tanya Raya langsung pada intinya karena tadi dia dan Saga sudah ada janji temu melalui handphone.
"Ya udah ayo kalo urusan lo udah kelar." Kata Saga yang kini sudah mulai berdiri agar pandangannya ke Raya tak terlalu tinggi saat sedang duduk.
"Iya udah. Rona gimana?" Tanya Raya yang memang sudah saling mengenal antara Saga dan Rona.
"Gue nggak pa-pa, kalian duluan aja. Lagian ini perut juga masih engap." Jawab Rona sambil mengusap perutnya yang merasa kenyang.
Dia meyakinkan dua manusia di depannya agar tak mengkhawatirkannya terlebih Saga. Akhir-akhir ini dia semakin dekat dengan laki-laki itu karena sang Baba berpesan kepada Saga agar ia mengawasi Rona supaya anak gadisnya itu tak lagi keluyuran sembarangan dan fokus untuk kuliah jika ada jadwal ngampus.
"Oke. Kita duluan ya. Elo hati-hati nanti." Kata Saga berpamitan dengan kemudian berjalan keluar area kantin bersama Raya. Rona yang dipamiti mengangguk-angguk tanda mengerti.
Menghela nafas berat setelah kepergian dua manusia tadi Rona menatap ke arah Saga dan Raya yang masih terlihat punggungnya. Tampak mereka sedang berbincang asyik sambil tertawa kecil saat sedang berjalan. Namun tak lama teman satu prodinya datang menghampiri bangkunya.
Ck, Rona berdecak kesal setelah mendengar suara akrab itu. Manusia super rajin dan mahasiswa terbaik dikelasnya, menurut para dosen yang mengajar.
"Kenapa nak Yogi? Anda ingin memberi masukan kepada si pemalas?" Tanya Rona dengan nada suara yang dibuat seperti salah satu dosen yang mengajar di kelasnya setelah menoleh dengan malas menatap si Yogi. Yogi yang mendengarnya pun tertawa terbahak-bahak.
"Jangan ceramah ya, gue nggak ada duit buat ngamplop lo." Imbuh Rona dengan muka kesalnya.
Makin jadi saja tawa Yogi sampai ada teman sekelasnya yang juga sedang makan di sana melemparnya dengan sebutir kacang atom hingga mendarat pas ke dalam mulutnya.
"Berisik kutu!" Sarkas Dewa yang melempar kacang atom pada Yogi.
Si Yogi ini adalah mahasiswa terajin dengan memakai kacamata makanya ia disebut sebagai kutu. Namun begitu dia bukan mahasiswa yang cupu atau kuper dan introvert seperti di sinetron-sinetron atau film-film, justru ia adalah siswa supel dan sangat cerewet apalagi soal mengingatkan teman satu angkatannya untuk rajin belajar agar nanti bisa wisuda bersama.
__ADS_1
"Thanks." Ucap Yogi melambaikan tangan lalu mengunyah kacang yang berada di dalam mulutnya. Rona geleng-geleng melihatnya.
"Kesulitan nggak soal skripsi? Kalau butuh bantuan calling aja. Ane siap bantu kapan pun." Katanya sambil menunjuk dirinya dengan jempol. Rona pun lalu menanggapi perkataan Yogi yang menyinggung tentang skripsi itu. Tanpa Rona atau Yogi tahu Saga menoleh singkat ke belakang ke arah bangku Rona duduk tadi, memastikan jika gadis itu benar-benar tidak apa-apa jika ditinggalkan sendirian.
"Elo mau dianter sampai rumah? Kasian ane liatnya. Jauh tau dari sini ke halte jalan." Yogi menawarkan tumpangan kembali saat tadi sebelum ke Bookstore ia sempat menawarkan tumpangan kepada Rona untuk berangkat bersama.
"Boleh deh kalo lo nggak keberatan." Jawab Rona yang memang merasa kakinya sudah lelah dipakai untuk berjalan apalagi ia juga harus menyangga dengan tongkat satu tangan.
Untung si Yogi yang siswa teladan ini selain pintar ia juga baik hati mau membawakan barang belanjaannya. Rona yang tadinya hanya ingin membeli isi bolpen dan sebuah novel baru ia malah membeli buku lain juga.
"Ada orang tua lo nggak?" Tanya Yogi yang sudah membantu Rona turun dari mobilnya dan juga membantu membukakan pintu gerbang untuk gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
"Nggak ada. Biasanya Mamah udah nyusulin Baba di toko jam segini." Jawab Rona.
"Mau mampir minum dulu?" Tawar Rona setelah diberi bantuan oleh Yogi ia merasa tak enak hati jika tak menawarkan seteguk air untuknya.
"Nggak usah, nggak ada orang tua lo. Yang penting lo bisa masuk ke dalam sendiri kan?" Jawab Yogi yang juga bertanya dan dijawab anggukan oleh Rona.
Bukannya tak ingin mampir dan menolak tawaran dari Rona, tapi Yogi tahu bagaimana peraturan ayahnya Rona yang biasa ia panggil Baba. Orang tua itu tidak ingin menganggapnya mengambil kesempatan dalam kesempitan, maksudnya masuk ke dalam rumah Rona tanpa ada salah satu orang tuanya.
"Gue tinggal ya, bye." Kata Yogi berpamitan setelah berhasil mengantar barang belanjaan Rona sampai depan pintu sambil memastikan Rona berjalan dengan selamat dari pintu gerbang melewati halaman rumah gadis itu hingga ke depan pintu juga.
Bukan cari perhatian Rona atau cari muka tapi halaman rumah Rona ada paping blok yang menutupi dan bentuknya segi enam ada lubang di tengahnya, takut saja jika nanti tongkat penyangga jalan gadis itu terselip di sana.
Rona mengangguk lalu melambaikan tangannya melepas kepergian Yogi. Ia merogoh tas gendongnya pada bagian yang kecil mencari duplikat kunci rumah yang memang selalu ia bawa karena setiap pulang dari kuliahnya orang tuanya sering tidak ada di rumah.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘