
kasih sawer dong ke othor biar semangat 😁 happy reading semua
...----------------...
"Aku terbawa emosi sampai aku tidak sadar jika posisinya terlihat seperti itu oleh mu." jelasnya. Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Tama. Kali ini aku berpikir jernih, memahami situasi kala itu dan memaklumi kejadiannya. Karena Tama memang terjebak oleh perempuan itu.
Setelah kejadian itu Tama meningkatkan kewaspadaannya kepada Nadia. Dia memberitahukan kepada sekuriti, resepsionis dan juga sekretarisnya jika siapapun diantara mereka ada yang melihat Nadia masuk ke dalam gedung kantor itu tanpa ada janji terlebih dahulu maka langsung saja tolak, atau di usir secara paksa jika Nadia tetap saja bertingkah.
Tak peduli lagi dengan ancaman kerjasama antar perusahaan yang akan berakhir jika sudah sampai seperti ini. Menganggu rumah tangga dan ketentraman seseorang menurut Tama.
Toh walaupun jika nanti kerjasama antar perusahaannya terputus, perusahaan Tama tidak akan merugi besar. Mengingat hanya kantor cabang saja yang menjalin kerjasama itu.
Setelah ultimatum itu ia keluarkan, hidup kami lebih bisa bernafas dengan lega. Tama tak lagi was-was jika sewaktu-waktu Nadia akan datang ke kantornya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Meski perempuan itu pernah nekat sesekali namun sang sekuriti langsung dengan tegas mengeluarkannya dari area perkantoran secara tidak sopan. Salahnya sendiri datang tanpa adanya janji temu dan malah dengan centilnya menggoda sekuriti agar di izinkan masuk.
Aku juga merasa cukup tenang karena tak ada lagi bayang-bayang seseorang yang terkadang mengawasi ku seperti stalker.
Kenapa pula Nadia itu sangat mengejar-ngejar Tama, padahal sudah sangat jelas jika Tama menolaknya. Tingkahnya itu seperti seorang penagih hutang saja. Sampai jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta hanya untuk di usir.
Dua bulan sudah kami menikmati kembali keharmonisan rumah tangga layaknya pengantin baru. Sabtu malam ini Tama menghadiri sebuah pesta yang digelar orang tua Nadia untuk merayakan kerjasamanya antar perusahaan mereka yang telah berakhir. Akhirnya...
Katanya untuk menghargai kerja keras masing-masing perusahaan karena dari kerjasama itu profit perusahaan milik Papa Nadia bertambah dan mendapatkan lebih dari target, alias bonus. Hingga dia pun mengadakan perta itu.
Tama datang sendirian ke acara tersebut. Aku tidak ikut menemaninya sebagai pendamping karena aku tak ingin melihat muka perempuan itu. Bisa di bayangkan nanti seperti apa kondisi batinku jika menghadiri pestanya.
__ADS_1
"Hati-hati. Jauh-jauh darinya kalau kamu nggak mau kena sial." pesan ku pada Tama malam itu sebelum ia berangkat.
"Ih kok gitu sih doanya. Harusnya tuh, hati-hati sayang, semoga selamat sampai tujuan dan pulang dalam keadaan baik." ucapnya lalu mengecup puncak kepalaku.
Aku tersenyum tak ikhlas menanggapinya. "Emang nggak bisa kalau nggak datang? Kan udah ada Pak Bagas sebagai wakil." rengek ku.
"Nggak bisa lah. Dulu kan kerjasamanya pas masih sama aku. Aku kalau nggak hadir sama saja nggak menghormati." ujarnya seperti memberi pengertian. Tentu saja aku tahu, tapi tetap saja masih nggak rela.
"Aku janji akan cepat pulang, meski acaranya belum selesai." katanya terakhir kali lalu memelukku dan berangkat setelahnya.
Hahh. Hatiku benar-benar nggak rela melepas dia pergi.
Malam semakin larut dan belum juga ada tanda-tanda Tama sudah pulang. Berkali-kali aku lihat dari atas balkon kamar ke arah halaman, siapa tau Tama sudah pulang. Namun tetap saja suara deru mobil atau pintu gerbang dibuka pun tak terdengar dan tak terlihat. Sampai rasanya sudah kesal aku menunggu sambil menahan rasa kantuk. Aku lalu merebahkan diri keatas kasur.
Rasa kantukku mengalahkan rasa kesalku hingga aku pun mulai memejamkan mata dan tertidur.
Hingga akhirnya terjadi suatu kehebohan pagi harinya.
Denting notifikasi pada handphone ku yang terletak di meja nakas memaksa ku bangun karena saking berisiknya. Aku mengerjapkan mata kemudian bangun dari tidur, lalu ku lirik jam weker yang berada di atas nakas juga.
"Masih terlalu pagi, alarm ku saja belum bunyi, berisik sekali HP ini." gerutu ku yang masih mengantuk.
Setelah nyawa sudah terkumpul semuanya barulah aku tersadar jika ternyata suami ku ternyata tidak ada di samping ku.
__ADS_1
"Apa dia sedang berada di kamar mandi?" terka ku dengan perasaan mulai tak enak. Dengan segera aku turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi, kosong. Dadaku mulai bergemuruh dan jantungku berdetak tak karuan. Pagi-pagi buta begini sudah di buat sport jantung. Aku berjalan cepat lalu mengecek seluruh tempat dan ruangan di rumah ini. Hasilnya tetap nihil, Tama tak ada di rumah ini.
Lemas sudah badan ku, rasanya kaki pun berat untuk ku seret melangkah. Setelah sampai di kamar ku kembali, denting dan dering handphone belum juga berhenti. Penasaran aku membuka smartphone ku yang tadi ku abaikan berisiknya. Terkejut bukan main saat aku membaca semua notfikasi yang masuk.
Gosip beserta foto tentang Tama dan Nadia tersebar dan beredar di forum perusahaan. Ramai orang saling berbalas komentar menanyakan kebenarannya, tak sedikit juga yang memberi notice padaku menunggu reaksi ku. Apalagi aku adalah pasangan dari tokoh utama yang masuk dalam skandal tersebut.
Aku membaca semua tulisan tulisan mereka yang sedang membicarakan Tama dan juga Nadia, sampai pesan masuk teramat banyak dari keluarga ku tak aku hiraukan.
Mama dan kakak sepupu ku langsung datang ke rumah karena khawatir aku tak kunjung menanggapi pesan dan telepon dari mereka. Kehadiran mereka juga untuk memberi kabar bahwa Papanya Tama sekarang berada di rumah sakit terkena serangan jantung mendadak karena berita itu juga.
Hari ini rasanya aku tak cuma seperti tersambar petir tapi juga terkena badai dan tenggelam dalam tsunami. Sesaknya sampai terasa tak bisa bernafas. Ini masih pagi, tolong. Namun aku harus tetap sadar dan kuat untuk menghadapi kenyataan ini.
Suara mesin detak jantung seolah memecah kesunyian ruangan. Mama sedang menguatkan Mamanya Tama. Ada Papa yang sudah datang dari tadi dan juga kakak sepupu ikut untuk menemani sebentar disana.
"Tama belum datang juga?" tanya Mamaku ke Mama Tama. Mamanya Tama hanya menggeleng.
"Sudah bisa dihubungi belum nak?" Mama lalu berbalik bertanya padaku.
"Belum Ma. Nggak aktif." jawabku yang sedari tadi sibuk memegang handphone untuk menghubungi dan mencari keberadaan sang tokoh utama yang menyebabkan kekacauan ini. Mama terus memeluk dan mengusap pundak besannya, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Menguatkan sang perempuan yang sedang rapuh.
Hari sudah berganti malam pun Tama belum juga datang. Tak juga ada kabar darinya begitupun dari orang-orang kepercayaannya yang aku tahu, sepertinya mereka pun juga tidak tahu. Papanya Tama masih berada diruang ICU. Aku tahu perasaan ketir Mamanya Tama yang menghawatirkan anak dan juga suaminya. Aku coba kembali menghubungi sekertaris dan ajudannya tapi mereka tetap mengatakan tidak tahu Tama ada dimana.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘