ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 36 : BERNOSTALGIA


__ADS_3

"Ayo tidur. Besok kamu berangkat pagi-pagi lagi." kataku sambil membenarkan selimut agar menutupi tubuh kami.


"Eemm.."


"Aku akan ajak kamu ke Jepang kalau sudah selesai proyek ini. Kamu juga tentuin jadwal libur kamu ya." kata Tama pagi ini yang sudah bersiap diri untuk kembali melakukan perjalanan jauh.


"Iya, iya. Tenang aja aku bisa libur kapanpun kok. Aku tunggu janji kamu itu, makanya cepet selesaikan tugas kamu dan cepat pulang ya." kataku mengantar dia berjalan ke arah mobil.


"Last kiss please." mohonnya sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Padahal kita sedang di luar tapi tanpa malu dia meminta hal seperti itu. Aku tersenyum, malu-malu aku raih dasinya yang terjulur hingga badannya membungkuk lalu kuberikan ciuman perpisahan yang hangat. Dia kemudian memelukku lalu mencium keningku setelah ciuman kami berakhir.


"Aku jadi semakin berat untuk pergi." katanya sambil menatap dalam mataku seolah tak ingin melepas pelukannya.


"Selesaikan dengan cepat lalu kita ke Jepang." aku menatapnya dengan memberi semangat. Dia tersenyum sambil mengangguk lalu mencium keningku lama.


"Aku berangkat ya, kamu jaga diri baik-baik." ucapnya setelah berada di dalam mobil.


"Kamu tuh yang harus jaga diri baik-baik." kataku membalikkan ucapannya.


"Iya iya istriku sayang." Dia lalu melambaikan tangan saat mobil itu mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.


Aku juga membalas lambaian tangannya, "hati-hati!" teriakku.


Selepas mengantar kepergian Tama, aku mempersiapkan diriku untuk berangkat ke florist. Setelah sampai aku mengecek pesanan yang masuk hari ini. Kebanyakan pesanan yang masuk hari ini adalah permintaan buket bunga untuk anniversary.


"Semoga kalian bahagia para pasangan yang anniversary hari ini" kataku dalam hati sambil tersenyum melihat daftar pesanan.


Di lokasi berjalannya proyek.


"Lesu amat Bos, muka sampek kusut gitu. Kayak tukang yang lagi ngerjain bangunan aja." ujar Bagas yang melihat raut muka Tama tampak masam dan kusam.


Yang diomongin malah cuek seolah tak mendengarkan omongan sekretarisnya. Ia terus fokus pada para pegawai bangunan yang sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.


"Hhaaa.." Bagas menghembuskan nafas panjang.


"Mala rindu, baru juga seminggu." sarkasnya pada atasannya itu.

__ADS_1


Lagi-lagi Tama diam, dia masih berdiri sambil memperhatikan para tukang dan kenek yang sedang mengerjakan proyek pembangunan yang melibatkan perusahaannya.


Jam istirahat pun akhirnya tiba, buru-buru Tama kembali ke hotel tempatnya menginap. Setelah membersihkan diri dan makan siang ia lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja nakas sebelum pergi mandi tadi.


Dicarinya di layar handphone nama bertuliskan 'Shina Wifey', dengan cepat ia lalu mengirim pesan.


"Lagi sibuk? Udah makan belum?" Kemudian ia menunggu balasan. Setelah sepuluh menit, barulah pesan balasan diterima. "Iya, lagi banyak banget pesanan. Ini aku sambil makan, kamu udah makan?" tulis Shina.


Sedikit cemberut karena Shina sedang sibuk, bahkan makan siangnya pun masih sambil berkerja. Namun begitu ia kemudian tersenyum karena perhatian Shina yang menanyakan apakah dia juga sudah makan.


"Aku udah makan. Kamu makan dulu aja jangan sambil kerja. Nanti kalau udah nggak sibuk hubungi aku lagi ya." tulis Tama dalam pesannya.


Detik berikutnya ia kembali menuliskan pesan, "aku kangen."


Tentu saja dengan dirinya yang senyum-senyum sendiri di dalam kamar hotelnya. Pun dengan Shina yang menerima pesan terakhir dari Tama. Diseberang sana ia juga tersenyum sendiri mendapatkan pengakuan pesan kalau suaminya itu sedang rindu.


...* * *...


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara pintu kamar Tama diketuk. Dengan cepat Tama pun membukanya, dan yang datang adalah Delvin.


"Udah dateng?" tanya Tama yang langsung mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.


"Iya, baru banget. Capek lah." ucap Delvin terlihat meregangkan otot-otot badannya. Setelah melepas jas yang menempel di tubuhnya dan melemparnya ke kursi sofa ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur Tama dengan gaya tertelungkup.


"Ngapain lo?!" tanya Tama dengan sedikit berteriak melihat kelakuan temannya itu.


Dia yang sibuk dengan handphonenya jadi sedikit kesal karena pasti selanjutnya temannya itu pasti akan berbuat yang aneh-aneh.


Tak langsung menjawab, Delvin seolah sedang tidur dan tak memperdulikan pertanyaan Tama.


Tama yang jengkel akhirnya melempar kepala Delvin dengan bantal sofa yang membuat sang pemilik kepala mengeluh mengaduh.


Berdecak, "elah cuma mau tidur doang. Kenapa sih?" ucapnya seraya bangun dari posisi tidurnya. Dia yang tadinya sudah ingin tidur jadi terganggu.


"Enak aja. Check-in sendiri." perintah Tama.

__ADS_1


"Semalem doang. Besok pagi-pagi langsung pergi. Subuh lah keluar." kata Delvin lalu memposisikan diri untuk kembali tidur.


"Kagak. Ambil kamar sendiri. Jangan pura-pura miskin lo!" kata Tama yang langsung menyeret kaki Delvin yang tengah menggantung di atas kasur. Kakinya pun masih memakai sepatu, dan itu membuat Tama risih apalagi dia sangat peduli dengan kebersihan.


"Buru keluar." Tama kini malah menampar kaki Delvin yang memang tak membuat temannya itu merasa sakit. Delvin berdecak lalu berdiri dan mengambil kembali jasnya, disampirkan di bahunya. Dengan raut muka merengut ia berjalan ke arah pintu untuk keluar.


"Temen setan lu." umpatnya setelah sampai depan pintu lalu membuka pintu kamar itu.


"Biarin. Privasi. Sono keluar." kata Tama yang membuat Delvin tambah cemberut.


"Dih kayak cewek." ejek Delvin. Lalu Tama menutup pintu kamarnya setelah Delvin benar-benar di luar.


Malam selanjutnya, Tama, Bagas dan Delvin kembali bertemu juga bersama dengan investor yang lain. Mereka membahas proyek berjalan yang baru saja mereka tinjau. Kekurangan dan kelebihan sama-sama mereka bicarakan untuk kemajuan pembangunan proyek tersebut. Setelah pembicaraan itu mereka lanjut makan malam dan setelahnya kembali ke kamar masing-masing, ada juga yang langsung pulang ke rumahnya karena besoknya mereka harus kembali bekerja di tempat kerja masing-masing.


"Tam, tidur bareng yok." ajak Delvin saat mereka masih berjalan di dalam lobi hotel.


Bukan bermaksud menyimpang, Delvin kan sudah menikah. Dia mengajak begitu karena dulu saat zaman mereka masih kuliah mereka selalu cari tempat liburan yang menurut mereka asyik untuk dijadikan destinasi liburan bersama. Lalu untuk menginapnya mereka bertiga biasanya mencari hotel dengan diskonan yang lumayan serta pesan satu kamar yang nanti akan dipakai untuk tidur bertiga.


Mengingat itu Delvin ingin bernostalgia kembali, mumpung mereka bertiga kini juga menginap di hotel yang sama.


"Enggak, enggak, yang ada nanti gue malah nggak bisa tidur." tolak Tama seketika yang langsung ditanggapi cebikan bibir oleh Bagas.


"Paan lu, nggak asyik ah. Bagas aja mau nampung gue semaleman. Elu tiba-tiba kek perempuan yang tidur musti sendirian di kamar sendiri." kata Delvin yang juga memanyunkan bibirnya seraya mengeluarkan kata protesnya karena semalam diusir oleh orang yang katanya temannya itu.


Dia memang sedikit kesal, karena sudah capek-capek datang jauh-jauh ke kota ini hingga tiba malam hari tapi saat ingin numpang menginap malah tak diterima.


"Iya tuh bener kata Delvin, Tam. Kali-kali kek kita nostalgia di mana masa sulit kita dulu yang ingin liburan harus patungan lalu nyari hotel murah dan tidur bareng." ujar Bagas mengingatkan kenangan dulu seraya berpeluk pundak dengan Delvin. Tangannya kini beradu tos dengan Delvin.


Tama berdecak, "itu dulu. Beda dulu beda sekarang."


"Sekarang gue tuh udah nikah, butuh privasi sendiri buat istirahat. Biar nyaman dan tenang." lanjut kata Tama.


"Kan bini lo nggak ada di sini sama lo. Emang privasi apaan yang elo butuhin?" tanya Delvin yang diangguki setuju oleh Bagas.


Kembali berdecak Tama tak ingin berdebat lebih lama. "Siapa tahu entar malem Shina datang kesini." ucapnya lalu meninggalkan dua temannya itu.


"Gila tuh anak. Nggak kuatan." sarkas Delvin pada temannya yang sudah berjalan duluan.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2