ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 20 : CELA PERNIKAHAN


__ADS_3

Setelah menikah Tama pindah dari kantor cabang kota Surabaya ke kantor utama kota Jakarta di perusahaan Papanya. Kami juga punya rumah sendiri yang kami tempati berdua. Semua terasa harmonis.


Iya tentu saja. Siapa pun pasti ingin memiliki sosok suami impian seperti dirinya. Pendidikan tinggi, pekerjaan tetap, jabatan oke dengan gaji di luar batas UMR, mapan, berkepribadian baik tentu saja terlahir dari keluarga baik-baik pula. Bonusnya adalah penampilan atau tampang yang baik alis good looking. Terbaik pokoknya.


Dan itu semua hanya ada dalam cerita novel, saya ingatkan!


Bulan madu kami hanya sebentar karena Tama hanya mengambil cuti satu minggu, itu pun hanya lima hari yang ia pakai untuk berlibur, dua hari setelahnya kami pakai untuk istirahat sebelum memulai masuk kerja lagi.


Yogyakarta adalah kota pilihan kami untuk menghabiskan waktu. Bukan hanya untuk berdiam mengurung diri di kamar dari pagi sampai malam seperti pengantin baru pada umumnya saat melakukan ritual malam pertama, tapi siangnya kami juga menyelinginya untuk jalan-jalan. Malah sepertinya kita kebanyakan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan mengelilingi kota unik ini.


Memangnya bulan madu hanya masalah unboxing dan reproduksi menghasilkan sesuatu? Karena kalau hanya untuk itu kami bisa melakukannya sewaktu-waktu di tempat yang kami mau.


Namun saat ini kami lebih memilih untuk menghabiskan waktu kami untuk berdua. Yah seperti jalan-jalan, menjelajah kuliner yang di sediakan di setiap sudut kota ini. Mengunjungi toko yang menjual barang-barang unik dan antik. Tak lupa juga mencoba wisata malam yang penuh gemerlap dengan becaknya yang populer dan juga sepeda tinggi yang seperti dipakai oleh seorang akrobat.


Terkesan norak memang, tapi menurutku ini semua sebanding dengan istilah 'perjuangan' kami yang sanggup menjalani hubungan long distance relationship hingga akhirnya ke jenjang pernikahan. Tentu saja waktu yang ada kami habiskan untuk bersama-sama setelah sekian lama terpisahkan jarak untuk bertemu sebelum nanti setelah cuti libur Tama habis dia akan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Aahh capeknya!" keluhku lalu merebahkan diri di atas kasur yang super empuk ini setelah sampai rumah.


"Mau pijit?" tawar Tama yang kini dia sedang merapikan dulu paper bag belanjaan yang kami bawa sebagai oleh-oleh dari Jogja.


Ah suami idaman sekali dia.

__ADS_1


Lalu oleh-oleh untuk keluarga kami dan sanak saudara hingga karyawan ku masih tersimpan dalam bagasi mobil. Biar pelayan yang merapikannya, katanya saat turun dari mobil tadi.


"Boleh." jawabku sambil mengerlingkan mata.


"Plus plus."


"Haish ujung-ujungnya." kataku sambil memalingkan wajah dengan malas.


Tama terkekeh, "makanya jangan genit. Ngapain juga pake mata cantik segala."


"Iish terserahlah. Pokoknya aku lagi capek banget sekarang ini." tolak ku yang benar-benar merasa sangat lelah.


Beginilah sebenarnya yang terjadi setelah hasil dari kata jalan-jalan itu, capek, lelah, pakaian kotor numpuk dan uang dalam kartu berubah menjadi kertas nota atau resi yang terdengar dari notifikasi smartphone. Faktanya.


Aku pun kembali menyibukkan diri dengan mulai kembali bekerja ke toko bunga kesayanganku, SHINA SHINE FLORIST. Siang hari saat jam istirahat kantor aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Tama dengan membawakannya bekal makan siang entah itu yang aku beli dulu dari rumah makan atau restoran yang bisa drive thru atau terkadang pak sopir mengantarkan bekal makan siang dari rumah ke florist lalu mengantar ku ke kantor Tama jika aku tidak banyak pekerjaan di florist.


Terasa harmonis dan romantis sekali bukan? Itulah cerita dalam sebuah novel.


Lalu pernikahan yang belum lama berjalan itu sudah mulai menampakkan cela nya. Perempuan yang dulu terlihat oleh ku sering menemui Tama sekarang mulai muncul di sekitar ku seperti seorang stalker.


Meski tak terlalu sering namun juga membuat risih dan tak nyaman. Kadang dia muncul di jalanan sekitar rumah kami atau terkadang aku melihatnya di kompleks pertokoan tempat ku menjual bunga. Aku mulai merasa ngeri.

__ADS_1


Aku yang merasa was-was mulai menceritakan semua yang ku rasa kepada Tama dan dengan terpaksa menanyakan siapa sebenarnya perempuan itu. Karena menurut ku sekarang aku benar-benar terganggu.


Dengan menarik nafas panjang sebelumnya kemudian Tama menjelaskannya.


Perempuan itu adalah putri dari salah satu rekan bisnisnya yang ada di kota Surabaya saat ia di tugaskan di sana dulu, namanya Nadia.


Dia dan perempuan itu sering bertemu karena Nadia mewakili atau sebagai wakil dari perusahaan orang tuanya atau ayahnya lebih tepatnya untuk setiap kerjasama yang dijalin dengan perusahaan cabang yang dipimpin oleh Tama.


Papanya Nadia pernah mengutarakan rencana untuk menjodohkannya dengan Nadia, karena mendengar Tama juga sering dijodoh-jodohkan oleh orang tuanya. Namun dengan baik dan sopan Tama menolak. Dia menghargai kerjasama antara perusahaan miliknya dan milik Papa Nadia, tapi dirinya hanya ingin fokus kerja untuk memajukan perusahaan Papanya yang susah payah Papanya bangkitkan kembali hingga beranak cabang, kala itu.


Tapi perempuan itu sudah terobsesi dengan Tama karena setiap ada pertemuan tentang bisnis yang menyangkut kerjasama antara perusahaan mereka Nadia selalu hadir sebagai wakilnya. Dan Nadia juga selalu mengambil kesempatan untuk mendekati Tama setiap terlihat ada kesempatan. Padahal sudah Tama katakan dengan jelas kala itu jika dia tak mau menikah dengan siapapun.


Meski berkali-kali Tama memberi peringatan secara langsung terhadap Nadia pun, perempuan itu tetap keras kepala. Bahkan tak jarang Tama menolaknya atau menjauhinya dengan sedikit mengeluarkan kata kasar.


Hingga pada suatu kejadian.


Saat aku mengantarkan makan siang kekantor Tama seperti biasa aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, karena jam istirahat dan sekertaris serta ajudannya pun sudah tahu kebiasaan ku yang selalu langsung masuk tanpa bertanya apakah Tama ada di tempatnya.


Namun kala itu sebelum aku masuk ruangan Tama di bagian ruangan sekertaris terlihat sepi, sepertinya mereka sedang istirahat untuk makan siang, pikirku. Aku pun langsung masuk keruangan Tama tanpa harus repot repot menyapa mereka terlebih dahulu seperti biasanya.


Dan pemandangan yang kudapti kali ini berbeda. Bukan Tama yang masih duduk di meja kerjanya yang sibuk dengan layar laptop atau dia yang sudah menunggu ku di meja tamunya untuk bersiap menerima bekal makan siang yang aku bawakan.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2