ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 17 : DENGAN MAMA


__ADS_3

"Aah.. akhirnya selesai." gumam ku lalu melangkah ke dalam pelataran rumah si sapa oleh sang sekuriti.


Aku merasa sangat senang dan tenang dengan semua persiapan pernikahan yang telah selesai. Bahagia juga karena sebentar lagi pernikahan yang berawal dari perjodohan menjadi kemantapan hati kami untuk berlabuh.


Sesampainya di kamar aku lalu mandi setelah meletakkan tas kecilku di atas meja. Selain untuk membersihkan diri juga ingin melepaskan penat setelah seharian ini terasa melelahkan. Aku berendam dalam bak kamar mandi dengan bath bomb beraroma terapi.


"Uuhh.." aku menggelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri dengan gerakan mematahkan leher lalu memijat pelan tengkukku kemudian menenggelamkan diri sesaat.


"Haahh.." aku menarik nafas lega setelah kepalaku muncul ke atas permukaan.


Mau se-bagaimana tidak pedulinya diriku, tetap saja kepikiran. "Siapa wanita atau perempuan itu? Yang kadang selalu muncul saat Tama berada di sekitar ku. Aku tidak mengenalnya sama sekali.


Setelah aku mengenal Tama dan saat pernikahan kami sudah direncanakan dia seperti selalu menampakkan diri. Apa dia memang selalu ada sebelum aku mengenal Tama? hanya aku saja yang tidak mengetahui karena tidak terlalu peduli dengan sekitar.


Entahlah. Tapi yang ku harapkan semoga saja hari pernikahan kami akan berjalan baik-baik saja, dari sebelum atau sesudahnya.


...* * *...


"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Mama yang melihatku turun menghampirinya di ruang TV.


"Udah, tadi sama Tama ma." jawabku lalu mendudukkan diri di sofa bersebelahan dengan Mama. Aku menghembuskan nafas pelan lalu bersandar pada sandaran kursi.


"Kenapa? kok kayak capek gitu kelihatannya. Apa kesel?" tanya Mama sambil mengupas kulit kacang kuaci temannya dalam menonton acara televisi.


Aku menghembuskan nafas sekejap lalu bertanya ke Mama, "Tama itu orangnya gimana sih Ma?"


Mama menghentikan aktivitas mengunyah dan mengupas kacangnya. "Lho kok tanya ke Mama. Kan kamu yang mau jadi calon istrinya. Kamu kan juga pacaran dulu sama dia sebelumnya." jawab Mama.

__ADS_1


"Kenapa sih? kok Mama jadi nggak enak hati kalo kamu nanya kayak gitu."


"Shina, sebentar lagi hari pernikahan kami lho. Bisa di hitung jari jaraknya. Jangan bikin Mama jadi was-was ya." ucapan Mama panjang dengan tatapan mata yang menyiratkan kekhawatiran.


Aku menghembuskan nafas pendek, lebih ke mendengkus. "Aku kan hanya tanya pendapat Mama, dia orangnya bagaimana selama Mama kenal dia. Mama kan yang udah kenal sama orang tuanya lebih dulu, pasti juga tau dong Tama gimana."


"Mama mikirnya yang aneh-aneh deh." ucapan terakhir ku dengan nada sedikit kesal.


Mama pikir mungkin aku ragu di saat-saat terakhir akan mengahadapi hari pernikahan kami. Aku juga tahu jika beliau sangat khawatir karena kebanyakan di hari-hari sebelum pernikahan seseorang muncul banyak ujian.


Tapi aku memang sedikit ragu kepada Tama yang menurut perasaanku sekarang ini dia terlihat tidak terbuka kepada ku untuk semua, segala sesuatu yang menyangkut dirinya, pribadinya.


Jika untuk pekerjaan, hobi, makanan dan minuman favorit atau sesuatu yang menjadi kesukaannya aku tahu. Hanya saja tentang tempat kerja, teman atau rekan kerja dan teman-teman sekitarnya aku kurang tahu. Seperti perempuan itu, siapa dia? itu selalu menjadi tanyaku saat aku berhadapan dengannya.


Setiap kali aku dan Tama sering ngobrol berdua, ingin rasanya aku membahas tentang perempuan itu, tapi aku mengurungkannya. Bukan apa-apa, hanya saja selama aku berjalan dengannya menjalani hubungan ini kami baik-baik saja hingga memutuskan untuk menikah.


Mungkin Tama juga begitu, makanya dia tidak menceritakan kepadaku siapa perempuan itu. Mungkin dia ingin mengurusnya sendiri karena itu urusannya dan tidak ingin membebani ku. Mungkin. Aku berfikir positif saja untuk dirinya.


"Hei.. kenapa malah ngelamun gitu?" suara Mama membuatku tersentak kembali pada kesadaran ku.


"Iishh.. Mama apa sih. Kaget tau." ucap ku dengan nada sedikit kesal. Mama malah terkekeh.


"Habisnya kamu malah ngalamun. Mikirin apa sih? Jangan mikirin yang aneh-aneh dan yang buruk-buruk tentang pernikahan kalian nanti." ucap Mama dengan selipan nasehat.


"Iih siapa juga yang berpikiran buruk. Mamanya aja yang ditanya soal gimana Tama menurut pendapat Mama tapi Mamanya yang nggak jawab."


Mama terkekeh lagi, "Tenang aja, Tama itu orangnya baik kok. Tanggung jawab, dan berbakti banget kepada orang tuanya. Orang tuanya aja jadi prioritasnya kok makanya dia belum nikah nikah."

__ADS_1


"Tapi setelah waktu itu, Mama dan Papa berencana untuk memperkenalkan kalian dan berencana untuk menjodohkan kalian. Kata orang tua Tama, Tama sedikit berbeda. Kata Mamanya dia sering nanya-nanya tentang kamu ke Mamanya."


"Mamanya Tama yang cerita ke Mama. Katanya anaknya pernah nanyain 'Ma, kalau kata Tante Widya, Shina itu orangnya bagaimana?' gitu. Pernah juga nanya barang seperti apa yang kamu suka. Kamu pernah kan di kasih sesuatu sama dia?" tanya Mama setelah menjawab dan menceritakan apa yang ia ketahui dari calon besannya.


"Iya pernah dan Shina suka banget karena sesuai yang Shina inginkan." jawab ku mengingat barang yang pernah Tama hadiahkan untukku saat kita biasa melakukan janji temu.


Jika di ingat-ingat memang benar Tama itu sangat peduli denganku. Saat kami sedang jalan bersama dia bersikap sangat protektif. Untuk perhatian pun dia juga sangat baik, dia belain datang dari Surabaya ke Jakarta hanya untuk menjengukku yang sedang sakit.


Memang sih dia jarang memberi kabar lewat handphone meski kabar singkat jika dia baik-baik saja atau menanyakan tentang kabarku dan aku sedang apa. Tapi saat bertemu dia fokus hanya padaku, tidak pernah sibuk dengan handphonenya atau membicarakan tentang pekerjaannya.


Apakah jika seperti itu sudah termasuk di prioritaskan?


"Yakin saja, jangan ragu. Kalau selama ini kamu dan dia jalan kalian baik-baik saja untuk apa diragukan." ucap Mama lagi.


"Aku sih nggak meragukan, cuma... menurut Mama Tama itu udah punya pacar belum sih sebelum di kenalin sama aku?" aku menjeda pertanyaan ku.


"Siapa tau Mama pernah denger dari Tante Amita kalau anaknya pernah deket atau jalan sama perempuan lain sebelum di kenalin sama Shina. Yah Mama kan tau sendiri kalau Tama itu kan mapan, pekerjaan dan jabatan punya, good looking lagi." jelas ku ke Mama.


Mama terdiam sejenak seperti sedang menelaah ucapan ku barusan. Sambil menatap ke arah ku dan kembali menatap ke arah kacang kuaci yang barusan dia makan kembali kemudian ia kembali menatap ke arah layar televisi. "Gimana ya." ucapnya yang sedikit bergumam namun terdengar jelas.


Maksudnya? Maksud Mama apa ya?


"Memang sebelum di kenalin sama kamu Tama sering bertemu dengan banyak perempuan, tapi bukan maksud Mama dalam artian nggak bener ya. Istilahnya blind date, itu yang mereka sebut. Sudah beberapa kali katanya Tama di pertemukan dengan beberapa perempuan, cuma yaa.. no respon kata Mamanya." jelas Mama.


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2