ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 64 : GUE UYEL-UYEL LU


__ADS_3

"Udah ah, buat nanti sebagian." Kata Rona melihat puding karamel di dalam kotak itu tinggal setengahnya.


"Mana sih nih anak? Kok belum pulang juga. Jangan-jangan terus ngador lagi nih." Gerutu Mika dengan kesalnya. Ia sedang menanti kepulangan Saga dari rumah Dhira setelah ia suruh untuk mengantarkan puding karamel tadi.


Putranya yang baru pulang dari kampus setelah ada janji dengan temannya ia suruh untuk mengantarkan puding buatannya, "keburu nanti Mamah Dhira berangkat ke toko." Ujar Mika pada putranya yang memasang wajah cemberut saat disuruhnya.


Meski dengan mulut yang komat-kamit saat disuruh oleh sang Mama namun Saga tetap melangkah keluar sambil menyahut kotak plastik transparan berisi puding dari tangan Mamanya.


Padahal baru saja ia membuka pintu dan mengucapkan salam tadi, belum sempat untuk duduk atau meletakkan tas punggungnya tapi suara Mamanya dari dapur sudah memberikannya instruksi.


Dengan kesal sebelum melangkah ke dapur ia melemparkan tasnya ke kursi sofa. Ia pun juga lupa jika di dalamnya ada notebook miliknya.


Setelah mengantarkan kotak puding kepada Dhira, Saga bertanya apa Rona sudah pulang dan dijawab belum oleh Dhira.


"Ini Mamah juga lagi chat dia masih lama apa enggak. Soalnya Kokonya mau main ke sini sebentar katanya sekalian mau ambil barang pesanan Omanya. Tapi kemarin Baba lupa kalau dapat pesanan dari Oma jadi Baba nggak bawa pulang barangnya. Sekarang Mamah harus ke toko buat ambil barangnya." Kata Dhira yang sedang memegang handphonenya dan mendapat balasan dari putrinya bahwa ia sedang di jalan.


"Ya udah, Mamah ke toko aja dulu ambil barangnya. Aku aja yang tunggu rumah nanti kalau kak Chen udah datang aku suruh tunggu sampai Mamah dateng." Kata Saga menyarankan.


"Iya juga ya. Ini Rona katanya lagi di jalan pasti bentar lagi mau sampai. Mamah berangkat ke toko sekarang ya. Nitip rumah ya Saga." Pamit Dhira yang langsung menyambar tas jinjing nya yang sudah ia siapkan dari tadi.


Saga pun menjawab iya dan mengantar Dhira sampai depan pintu. Dia memandang punggung ibu ke-duanya yang telah menghilang dari balik pagar tinggi bercat putih itu. Mengingat Mamanya dulu saat akan berangkat bekerja juga terburu-buru seperti itu setelah menitipkannya ke Mamah Dhira.


Baru saja ia masuk kembali ke dalam rumah dan sedang menyandarkan tubuhnya pada sofa ruang tamu tiba-tiba terdengar suara gerbang kembali dibuka. Saga mengintip sedikit dari balik vitrase jendela siapa yang datang. Ternyata Rona, yang di depannya ada Yogi yang sedang berjalan membawakan barang Rona dan menyimpannya di depan pintu. Setelah kepergian Yogi ia membukakan pintu untuk Rona.


"Tante di rumah nggak ke toko?" Tanya Rona setelah meminum satu gelas air yang Saga ambilkan.

__ADS_1


"Iya tadi sih ada di rumah. Nggak tau sekarang mau ke toko apa enggak." Jawab Saga dan bersamaan itu pula handphone Rona yang berada di atas meja makan bergetar. Layarnya menyala menampilkan nama Tante Mika disana.


"Mama lo nelpon Saga." Kata Rona dengan kemudian menggeser ikon berwarna hijau itu.


"Iya Tante?"


"Ada Saga di sana sayang?" Tanya Mika dari seberang telepon.


"Ada Tan." Jawab Rona.


"Kenapa Ma?" Tanya Saga yang juga mendengar suara Mamanya karena jaraknya dengan Rona hanya sekitar sepuluh senti.


"Mama kira kamu langsung ngador. Kenapa nggak langsung pulang lagi? Di telpon nggak aktif. Kamu kan belum makan pulang kuliah barusan." Tanya Mika yang juga perhatian pada putranya yang baru saja pulang belum makan sudah ia suruh tadi.


"Lupa nggak diaktifin datanya." Jawab Saga yang baru ingat setelah keluar dari kampus tadi ia tidak mengaktifkan mode datanya.


"Kamu ih. Udah gede kebiasaannya masih sama aja. Mama kan ada di rumah, udah masak juga." Omel Mika pada Saga yang masih punya kebiasaan seperti saat masih kecil dulu. Makan di rumah Mamah Dhira.


"Dia kan memang gitu Tante." Ujar Rona membenarkan perkataan Mika.


Sambil melihat ke arah Saga mulut Rona berkata tanpa suara, "tetangga masa gitu."


Sontak saja perkataan itu membuat mata Saga melotot tajam menatap Rona.


Seperti tahu kalau ia telah berbuat salah, Rona tersenyum bodoh memperlihatkan deretan giginya sambil membuang mukanya, melengos.

__ADS_1


"Nanti Saga pulangnya masih lama." Kata Saga pada mamanya lalu menekan ikon merah pada layar pipih di depannya itu.


"Gue uyel-uyel juga lu." Kata Saga dengan nada sedikit geram.


"Maaf, maaf. Kelepasan. Lupa." Kata Rona beranjak dari kursinya meski terkesan tergesa-gesa dan tertatih-tatih juga.


Jaga-jaga saja kalau Saga akan marah karena laki-laki itu pernah melarangnya untuk menyebutnya dengan sebutan tetangga masa gitu, namun ia lupa dan hari ini mulutnya yang sudah terbiasa dengan kata tetangga masa gitu itu bocor seketika.


Saga yang tahu jika Rona akan pergi menghindar lalu membuntutinya karena memang langkah gadis itu yang belum bisa cepat tangan besarnya dengan mudah menangkap gadis itu.


"Ampun Gaa.. gue tadi kelepasan. Sumpah." Kata Rona dengan menyatukan kedua telapak tangannya memohon ampun. Posisinya sudah terpojok dibawah kungkungan Gara yang menghimpitnya di atas sofa.


Jika ia dan Saga sudah saling ledek dan menimbulkan keributan bisa saja Saga membalasnya dengan lebih kejam. Seperti mengambil barang kesukaan Rona, menjitak kepalanya dengan kencang atau hal kecilnya menggelitikinya sampai Rona minta ampun atau bahkan tertawa tanpa suara.


Dan Rona takut hal terakhir itulah yang akan terjadi sebab mengingat ia yang kini sedang dalam kondisi lemah dan kurang menguntungkan baginya.


"Kan udah gue bilang ya.. putrinya Baba Lim. Anda punya hutang budi sama saya jadi bersikap baiklah terhadap saya. Termasuk dalam berucap kepada saya." Ucap Saga dengan nada menekan di setiap kata yang keluar dalam kalimatnya. Matanya sudah tidak bersahabat, memicing semu berbinar juga menimbulkan smirk disana.


Rona sudah siap-siap dengan segala hal yang akan terjadi, entah digelitiki atau akan di jitak. Tanpa Rona sadari karena terlalu fokus pada tatapan mata Saga, kedua tangan Saga sudah berada dibalik pinggangnya dengan jemarinya yang sudah bergerak-gerak. Spontan Rona pun tertawa tergelak karena kegelian.


"Ga ampun Gaa.. ampuun gue nggak akan sebut lo gitu lagi." Ucap Rona sebelum gelitikan Saga terasa semakin geli.


"Ampun Gaa.. tobat gue." Kini nada suara Rona dibuat memelas dengan tawa terengah karena kegelian.


Karena terbawa suasana kegelian yang ditimbulkan oleh tangan Saga, tanpa sadar kaki Rona yang tidak cidera menendang tulang kering Saga hingga membuat laki-laki itu mengumpat dan tubuhnya ambruk hampir menindih tubuh Rona.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2