
"Memang sebelum di kenalin sama kamu Tama sering bertemu dengan banyak perempuan, tapi bukan maksud Mama dalam artian nggak bener ya. Istilahnya blind date, itu yang mereka sebut. Sudah beberapa kali katanya Tama di pertemukan dengan beberapa perempuan, cuma yaa.. no respon kata Mamanya." jelas Mama.
"Kata Amita waktu itu, dia takut kalau Tama nggak mau menikah. Mengingat pekerjaan dia berat dan banyak jadi jarang ada waktu untuk berkencan. Jadi Amita sering mengatur pertemuan untuk Tama dan perempuan yang jadi daftar temunya, calon pacar untuk di jadikan calon istri begitu."
"Jangan cemburu ya.." goda Mama sambil menatap ke arah ku dengan menggigit kacang kuaci.
"Iih apa sih Mama, lagi serius dengerin juga." kataku dengan tidak sopan melempar kulit kacang kuaci ke arah Mama. Kini aku juga ikut makan kacang kuaci sambil mendengarkan cerita dan jawaban Mama.
Mama terkekeh kemudian melanjutkan ceritanya. "Tapi Tama menolak semua perempuan yang di pertemukan dengannya, sampai Amita tambah khawatir kalau Tama bener-bener nggak mau nikah nanti. Soalnya Tama juga pernah bilang ke orang tuanya gini kata Amita, 'punya kalian dan semua ini Tama tuh udah bahagia. nggak nikah nggak akan membuat Tama nggak bahagia' gitu katanya. Makin ketar-ketir aja kan Amita, anaknya ngomong begitu." lanjut Mama lagi.
"Lalu kabar Tama yang sering menghadiri blind date juga terdengar oleh kolega-koleganya, entah dari pihak orang tuanya atau rekan kerjanya sendiri. Sampai ada juga yang nawarin Tama untuk bertemu dengan anak perempuan mereka. Yah siapa tau ada yang cocok dan sesuai dengan kriteria dia untuk di jadikan calon istri."
"Tapi tetap saja katanya Tama menolak dengan halus. Dan lagi kalau niat mereka menjodohkan putrinya hanya untuk melancarkan kerja sama dalam pekerjaan, Tama langsung menolak proyek itu dan mengembalikan proposal mereka secara langsung. Untuk peringatan juga kata Amita."
"Tama ada benarnya, memangnya pernikahan itu ladang untuk usaha dan untuk jual beli saham?" kata Mama di akhir ceritanya.
"Tapi, Kenapa Tama bisa langsung mau sama aku setelah kenal sama aku?" tanya ku yang ingin tau pendapat Mama. Mungkin saja Mama juga tahu jawabannya dari calon besannya itu.
"Heehh.." Mama menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Kata Amita sih Tama bilang kalau kamu itu orangnya mandiri, sedikit cuek juga. Saat kalian jalan bareng pun meski ada mata laki-laki lain yang memperhatikan kamu katanya kamu nggak peduli ya?" tanya Mama di akhir kalimatnya.
"Eeh? merhatiin aku?" aku mencoba mengingat-ingat.
"Tuuh kan kamu nya aja nggak tau. Itu yang Tama suka, katanya kamu itu nggak terlalu peduli dengan tatapan orang kalau lagi jalan sama dia. Dan kata Amita juga Tama pernah denger kalau kamu tuh nggak mau dijadikan penerus Papa jadi pemimpin perusahaan Papa. Dia memandang kamu itu mandiri karena memilih untuk usaha sendiri meskipun usahanya kecil." jelas Mama.
Iish jadi malu aku, merona saja pipiku ini. "Iih Mama nyindir aku kali karena nolak jadi penerus Papa." kataku menutupi rasa malu.
__ADS_1
"Ih kamu ini di kasih tau kok. Tama itu jeli, bisa melihat yang mana yang baik untuk dia. Dia milih kamu itu pasti karena kamu sesuai dengan kriteria yang dia inginkan." kata Mama.
Haish sudahlah. Makin tidak jelas saja Mama ini, malah kebanyakan dengar cerita tentang aku dari Tama malahan. Jadi nihil lagi untuk mengetahui siapa saja perempuan yang pernah dekat dengan Tama dan siapa perempuan yang sering muncul waktu itu.
"Udah ah Mama malah bikin aku jadi ge-er aja. Shina kan pengen tau aja masa iya laki-laki setampan dia nggak punya mantan kekasih sama sekali." ujarku. Mama terkekeh lagi.
Mama terlihat diam sejenak, "itu kan masalah pribadi. Kamu nanyain nya nanti kalau udah nikah aja, pasti akan di jawab juga sama Tama." kata Mama.
"Iih Mama ini, kalau itu aku juga tau. Udah ah jangan bahas itu lagi." kataku lalu lanjut untuk mengupas kulit kacang kuaci.
"Iya iya. Kamu kapan mau luluran? Mama ikut ya nanti. Persiapan yang lain udah beres semua kan?" tanya Mama.
"Nanti tiga hari lagi mau hari H aku pengennya luluran nya. Persiapan bagian kami udah seratus persen kok. Kalau Mama gimana?" tanyaku kembali.
"Beres. Mama juga udah list daftar undangan dari keluarga Mama dan Papa. Udah di kasih sebagian malah. Maklum kan keluarga dan saudara Papa banyak yang tinggal jauh, jadi biar mereka punya persiapan." kata Mama.
"Eh Papa udah pulang." kata Mama lalu dengan cepat datang menghampiri suaminya untuk menyambutnya.
Papa baru pulang kerja, dan Mama selalu menunggu kepulangannya. Hari ini Papa pulangnya lebih larut. Katanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan yang bisa diselesaikan agar nanti sebelum mengambil cuti untuk pernikahan ku Papa kerjaannya nggak numpuk.
"Udah makan Pa?" tanya Mama sambil meraih tas jinjing Papa dan mengambil alih jas yang kemudian di lipat di lengannya.
"Udah Ma tadi di kantor sekalian makan malam sama David." jawab Papa yang katanya sudah makan malam dengan asisten pribadinya.
"Lagi ngobrolin apa tadi?" tanya Papa dengan membuka kancing lengannya lalu menggulungnya. Berjalan ke arah ku ikut duduk di kursi dan mengambil kuaci dengan sebelumnya sudah minum terlebih dahulu. Ada satu set alat minum di atas meja yang memang sengaja Mama sediakan sebelumnya.
"Ngobrolin soal calon mantu dan persiapan pernikahan." jawab Mama yang sudah berjalan ke arah kamar pribadinya. Papa terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Gimana? Udah seratus persen?" tanya Papa yang kini sudah ikut makan kacang kuaci.
"Mm.. udah kok Pa." jawabku. Dan sekarang giliran ku berbincang panjang dengan Papa.
...* * *...
"Enak banget ya. Rasanya bikin ngantuk. Coba kalau di tempat spa nya bisa tidur beneran Mama. Biasanya kan tenang dan wangi banget." ucap Mama yang sedang menikmati pijat spa.
Hari ini kami melakukan lulur dan pijat spa serta meni pedi untuk kebutuhan memanjakan perempuan. Tadinya ingin datang aja ke tempat spa langganan. Tapi kata Mama nggak usah mending panggil aja ke rumah. Takut terjadi sesuatu hal kepada calon pengantin yang nantinya kenapa-napa juga. Maklum pikiran kolot, aku pun menuruti omongan Mama dengan mengiyakan keinginannya.
"Kan Shina maunya juga gitu. kata Mama kan nggak boleh keluar tadi udah hampir hari H." ujarku.
"Iya kan memang aturan sejarahnya begitu." sahut Mama.
"Sejarah dari mana? Kok aku nggak tau ada buku sejarah yang membahas tentang hal semacam itu." kataku ke Mama.
"Sejarah dari mulut ke mulut Shina. Tau kan kamu itu sejarah leluhur." kata Mama.
"Mbak yang di bahu agak kencengan ya." titahnya pada mbak yang sedang memijat Mama.
Memang pijatan dari sista spa ini enak banget, terasa lembut mendayu-dayu. Kalau nggak ada temen ngobrol memang bakal langsung tidur kayaknya. Apalagi kalau mencium lilin aromaterapi yang di nyalakan, sudah ke alam mimpi baru lima menit di pijat.
Tapi kali ini kami melakukan spa di kamar tamu dan Mama sengaja nyuruh asisten rumah tangga untuk masukin satu kasur lagi di kamar itu agar bisa di pijat berdua bersamaku. Kalau nggak ada temen ngobrol Mama biasa ketiduran di tempat spa. Lucu ngebayangin nya.
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘
__ADS_1