
Karena terbawa suasana kegelian yang ditimbulkan oleh tangan Saga, tanpa sadar kaki Rona yang tidak cidera menendang tulang kering Saga hingga membuat laki-laki itu mengumpat dan tubuhnya ambruk hampir menindih tubuh Rona.
"****!"
Untung saja tangan laki-laki itu sigap karena otaknya merespon dengan cepat hingga ia menahan berat tubuhnya dengan kedua sikunya. Jadi Saga tidak benar-benar menindih tubuh Rona.
Namun begitu Rona sampai dibuat tak bisa bernafas dan matanya terpejam karena ia sendiri juga terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan tanpa sadar. Ia mengerjapkan matanya dan membukanya perlahan karena merasa tak ada beban berat di atas tubuhnya. Sebelah matanya memicing menatap ke arah wajah Saga yang kini muka laki-laki itu tepat berada di depannya dan hanya berjarak beberapa senti saja.
Adegan itu ternyata tengah disaksikan oleh sepasang mata yang tangannya sudah siap dengan sebuah ikon video siap rekam sedari tadi. Dia tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar.
Cup.
Adegan yang sesuai dugaannya terjadi sebelum Saga sang pemeran laki-laki berucap kepake Rona.
"Kayaknya mulut lo perlu dikasih pelajaran dulu deh biar nggak ngulangin kesalahannya terus." Ucap Saga lalu setelahnya mendaratkan ciuman di bibir Rona.
Mata Rona membola sempurna, terkesiap dengan apa yang Saga lakukan sekarang. Belum hilang terkejutnya sekarang Saga mulai menggerakkan bibirnya untuk terbuka.
"Gawat!" Gumam Chen. Ia kemudian berjalan mundur kembali ke ruang tamu dengan sebelumnya mematikan ikon rekam di handphonenya.
"Onty! Onty! Chen dateng!" Teriak Chen memanggil nama Dhira dengan sebutan Onty. Pura-pura saja agar dua sejoli yang ia rekam adegannya tadi tak curiga bahwa ia sudah berada di rumah itu sejak tadi.
Dan yang lebih penting adalah menghalangi agar mereka berdua tak berbuat kebablasan meski Chen pun juga tahu jika mereka adalah teman dari kecil. Justru karena teman dari kecil, jangan anggap ciuman adalah hal yang wajar meski sudah sangat saling mengenal.
Dengan langkah panjang Chen memasuki ruangan dimana Saga dan Rona kini sedang duduk rapi dan anteng layaknya anak-anak yang telah melakukan kesalahan sebelumnya.
"Lho.. Rona di rumah? Sama Saga juga?" Tanya Chen yang kemudian juga ikut duduk di kursi sofa seberang mereka.
"Onty mana?" Kini ia memasang muka pura-pura tidak tahunya.
__ADS_1
"Nggak tahu aku juga belum lama datengnya Ko." Jawab Rona sambil terus membenarkan anak rambutnya ke belakang telinga. Salah tingkah. Iya itu betul.
Lalu kini Saga yang menjawab pertanyaan Chen. "Tadi pas aku nganterin puding ke sini Mamah pamit mau ke toko ngambil barang pesanan Oma. Katanya Baba lupa barangnya nggak dibawa ke rumah semalem."
"Oohh. Jadi Uncle sama Onty lupa." Chen mengangguk mengerti.
Tak lama setelah mengobrol basa-basi ala anak muda, Dhira datang bersama seorang jasa angkat barang yang biasa disebut mang panggul.
"Di sini mang. Iya hati-hati." Ucap Dhira menyuruh mang panggul meletakkan lampu kristal di atas meja dengan perlahan.
"Ini mang. Makasih ya."
Setelah mang panggul menyelesaikan tugasnya, Dhira memberikannya uang jasa dan mang panggul pun pamit untuk pergi.
Dari ruang tamu Dhira mendengar suara ramai orang mengobrol dan ia pun mendekat ke arah suara itu.
"Lho, Koko udah datang? Kok nggak telepon Onty?" Sapa Dhira setelah mengetahui keramaian itu juga karena ada anak dari kakak suaminya.
Setelah kecelakaan yang membuat putrinya koma hampir dua bulan, Dhira mengubah cara bicaranya yang dulu suka ceplas ceplos dan tak mau di lawan menjadi lembut penuh sayang kepada putrinya. Meski masih ada kata yang keluar asal tapi itu juga kadang kadang jika dia merasa kesal saja.
Chen dan Rona kemudian bergantian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Udah lama Ko?" Tanya Dhira yang juga kemudian ikut duduk bersama mereka.
"Belum lama amat Onty. Ini minumnya masih ada." Jawab Chen yang menunjukkan minuman yang dibuatkan oleh Saga tadi.
"Udah makan belum? Onty masak opor tadi."
Tawaran Dhira membuat Chen tentu menjawabnya dengan iya meski dari rumahnya tadi ia sudah makan. Rona pun juga ikut makan bersama karena setelah pulang tadi ia hanya makan puding pemberian dari Mamanya Saga.
__ADS_1
Sedangkan Saga sendiri pamit pulang karena merasa sudah lama berada di sana. Setelah sampai kamarnya ia meletakkan ranselnya di atas kursi belajarnya. Dia kira Mamanya akan menyimpankan ranselnya yang ia lempar di kursi tamu tadi itu ke kamarnya saat ia sedang mengantarkan puding ke rumah Mamah Dhira, nyatanya tidak.
Setelah selesai mandi dan masih berbalut handuk di pinggangnya ia mengecek handphonenya yang berada di atas meja belajarnya, kalau saja ada pesan penting. Ia mengernyitkan dahinya setelah melihat ada pop up pesan gambar dari Chen, sepupunya Rona tadi. Karena mereka juga satu kampus Saga kira Chen mengirimkan pesan gambar berupa tugas yang tak diketahui cara penyelesaiannya oleh laki-laki itu.
Matanya membola sempurna setelah melihat gambar yang dikirim oleh Chen.
"****!" Umpatnya seraya mengirim umpatannya itu kepada Chen. Dan yang dikirimi pesan justru malah tertawa terbahak-bahak diseberang sana.
"Mau yang versi full-nya." Chat Chen dari seberang sana. Kemudian ia mengirim video pendek detik-detik saat Saga akan mencium Rona. Mata Saga kembali terbuka dengan sempurna apalagi saat membaca chat yang menyertai video itu.
"Gimana kalo Uncle Lim tau? Nikah muda kalian." Chat-nya dengan disertai emoticon tertawa terbahak-bahak.
"Chen Hildan, gue pastiin lo yang ijab qobul duluan kalau sampai itu terjadi." Chat Saga pada Chen yang di balas dengan gambar tertawa terbahak-bahak sambil guling-guling oleh Chen.
Saga menyugar rambutnya yang tak panjang itu dengan frustasi. Mengingat Chen yang kadang konyol dan suka keceplosan, bisa saja nanti mulutnya yang bocor itu mengadu ke pamannya benaran tentang foto dan video itu.
Bodohnya juga, kenapa dirinya tadi bisa kepikiran untuk menyumpal mulut Rona yang memang biasa memanggilnya begitu dengan mulutnya.
Dia terus saja mengumpat sambil merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.
Keesokan harinya Saga berjalan terburu-buru ke bagian fakultas desain. tujuannya adalah Chen Hildan. Laki-laki yang sudah membuatnya tidak tidur nyenyak semalam.
Namun sayangnya seperti seolah sudah di skenario oleh Chen. Anak laki-laki itu sedang tidak ada jam mata kuliah pagi ini. Lagi-lagi Saga dibuat mengumpat olehnya.
"Ketemu gue jadiin Chen sambel geprek dia." gerutunya lalu pergi meninggalkan kelas Chen.
"Ke sini. Tutup mulut gue." chat Chen pada Saga disertai foto dirinya sedang berada di kantin kampus di sore hari.
Karena seharian ini dia mendapat chat bertubi-tubi dari Saga yang menanyakan keberadaannya karena laki-laki itu ingin bertemu dan berbicara. Tak sedikit kalimat ancaman receh yang Saga kirimkan agar dia mau bertemu dengannya. Malas handphonenya berisik terus Chen akhirnya melayani kemauan Saga untuk bertemu.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘