ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 32 : JEMBATAN


__ADS_3

Aku tertawa kecil mendengar jawabannya itu. Ternyata selama ini dia sebenarnya juga ingin cepat-cepat punya anak, sama seperti keinginan para mama-mama. Aku kira hanya orang tua kita saja yang menantikan aku agar cepat hamil, nyatanya di balik diamnya Tama yang menyerahkan keputusan hamil di tanganku ia sebenarnya juga sangat berharap.


Kami menikmati kencan kami dengan menaiki berbagai wahana yang ada di sana dan juga mencoba beberapa jajanan yang di jual di sana. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat saat kami sedang bersenang-senang. Setelah melihat jam tangan yang menunjukkan pukul sebelas malam Tama lalu mengajakku untuk pulang.


Di tengah perjalanan Tama menghentikan laju mobilnya. Dia berhenti di sebuah jembatan panjang yang berhias lampu warna warni di setiap sisi jembatan itu.


Sudah terlihat sepi saja jalanan ini karena memang sudah tengah malam dan sudah jarang pengendara lewat.


Tama membukakan pintu mobilnya untuk mengajakku turun. Kulihat keindahan sungai dengan riak yang memantulkan cahaya lampu dari sisi-sisi pembatas jembatan. Suasana yang sepi menambah kedamaian tempat ini.


"Gimana? Indah kan?" tanya Tama yang juga menikmati kesunyian malam yang menenangkan ini di samping ku.


"Iya." jawabku singkat yang pandangan ku terpana dengan keindahan malam ini karena bintang juga bersinar dan berkelip-kelip di langit atas sana.


Angin dingin mulai berhembus menerpa badanku menimbulkan sensasi dingin dan rambut ku juga berantakan karenanya. Tama yang melihat itu lalu melepas jaketnya kemudian memakaikannya pada badanku hingga dia hanya memakai kaos hitamnya, padahal aku juga memakai baju panjang malam ini tapi angin malam tetap terasa menusuk ke pori-pori kulit.


Dengan lembut ia juga menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku karena tertiup angin tadi. Tanpa ku sangka dia mendaratkan sebuah ciuman di bibirku yang membuat ku bereaksi sedikit terkejut.


Laki-laki ini dulu terlihat sangat keras dan cuek saat pertama kali aku datang ke dunia novel ini. Tapi entah sejak kapan dia mulai berubah dan sekarang aku jadi tau sisi lembutnya untuk Shina. Apakah memang seperti ini dulunya sikapnya terhadap Shina?


Ciuman yang awalnya lembut kini mulai menuntut, membuat aku kewalahan mengimbanginya. Tanganku bergelayut di lehernya untuk menopang tubuhku yang mulai lemas dengan nafas tersengal.


"Tam sepertinya ini bukan tempat yang sesuai deh." kataku menyadarkan Tama setelah dia melepaskan ciumannya karena merasakan tubuhku yang sudah mulai berdiri tak seimbang.


Astaga.. sepertinya aku sekarang benar-benar jadi orang mesum karena memasuki raga orang yang sudah bersuami. Aku menangis dalam hati tapi memang ini kenyataan yang aku jalani sekarang.

__ADS_1


Sepertinya memang sudah tak sabar, Tama lalu menarik tanganku mengajak masuk ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya dikamar dia tak bisa menunda apa yang sudah dimulainya tadi saat di jembatan. Dengan sigap dia mengunci pintu dan menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang.


Dia terus saja mencumbui ku hingga aku mulai kewalahan. Apalagi tangannya makin agresif dan aku mulai dibuatnya terhanyut dalam sentuhannya. Malam ini rasanya panas sekali, terbukti dari badan kami yang berkeringat dan terasa lengket saat proses penyatuan. Entah sudah yang ke berapa kalinya juga Tama mencapai pelepasannya tapi dia juga belum berhenti dari aktivitasnya. Staminanya benar-benar kuat. Ternyata otot-otot yang tercipta di badan dan tangannya itu bukan hanya pajangan semata.


"Shina aku kehabisan pengamannya." dia berkata dengan sedikit berbisik dengan nafas terengah ditengah-tengah aktifitasnya.


"Ya.. sudah.. Mau udahan sekarang?" tanyaku yang juga memang sudah tak sanggup lagi rasanya harus terus bermain, karena Tama sudah membolak-balikkan badanku dari tadi.


Gila aja Rona! Kamu yang masih perawan jadi manusia ahli ranjang di novel ini.


"Aku belum selesai sayang." katanya masih dengan nafasnya yang memburu.


"Kita lepas pengaman aja ya." dia makin mempercepat gerakannya.


Astaga binatang buas ini, pasti tidak ada yang menyangka sisinya yang seperti ini saat di luar. Mungkin keluarganya pun juga tidak akan tahu kalau dirinya sebuas ini.


Seperti biasanya lagi, saat bangun pagi-paginya sekujur tubuhku rasanya remuk. Kali kurasa lebih parah dari biasanya. Entah benar Tama atau bukan yang semalam itu, rasanya ia benar-benar lepas kendali.


Siapa tahu dia kesambet arwah penasaran penunggu jembatan itu yang bunuh diri karena gagal kawin. Iiihh serem. Dan bodohnya aku hanya diam saja menuruti keinginannya itu.


Dasar Rona, munafik sekali kamu itu. Padahal juga menikmati tapi juga merutuki.


Dan kegiatan olahraga malam itu berlanjut hingga malam berikutnya. Untungnya kali ini dia mendengarkan permintaanku yang memintanya untuk melakukannya secara perlahan saja.


Pagi kali ini aku lihat Tama masih tertidur dengan pulas. Jam weker di meja nakas tempat tidur menunjukkan pukul 08:41.

__ADS_1


"Tama kamu gak kerja?" Aku coba membangunkannya dengan sedikit mengguncangkan badannya agar cepat bangun. Ini sudah lewat dari jam biasa dia berangkat kerja, bukan takut akan terlambat tapi memang sudah sangat terlambat.


"Hhmm." Dia berdehem sambil menggeliatkan badannya.


"Aku libur hari ini, besok mau keluar kota." jawabnya dengan mata masih terpejam, hanya merubah posisi kepalanya yang tertelungkup ke kiri menjadi ke kanan.


Aku menghela nafas mendengar jawabannya membiarkannya melanjutkan tidurnya, kemudian aku mencoba beranjak dari tidur ku, berniat ingin pergi ke kamar mandi.


Niat hati ingin langsung mandi setelah bangun tapi rasanya kakiku susah sekali untuk di ajak berjalan. Kalau hanya rasa remuk di badan setelah bangun tidur masih bisa aku tahan karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Tama, tapi jika sampai susah berjalan begini aku masih belum terbiasa.


Ingin ku menangis rasanya karena seluruh kakiku terasa kram.


Tama yang sepertinya terganggu karena aku terus berusik dari tadi, dia akhirnya membuka matanya lalu melihatku yang terdiam di sisi ranjang. Sepertinya dia paham jika istrinya ini susah untuk berjalan, terdengar ia tertawa kecil hingga aku melihat ke arahnya menatapnya dengan muka cemberut.


Tentu saja, karena ulah siapa aku jadi seperti ini.


Kemudian ia bangun lalu membopongku ke kamar mandi sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.


Dasar laki-laki licik, seperti sangat paham kalau aku begini karena ulahnya.


"Aku antar ya. Kita mandi bareng." katanya masih sambil terkekeh.


"Cuma mandi ya." ancam ku.


Dia mengangguk sambil tertawa, "iya."

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2