ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 14 : PEREMPUAN YANG SAMA


__ADS_3

Kenapa masih saja mengejar ku laki-laki ini? Apa dia tidak tahu aku sengaja menghindarinya? Apa dia ingin membuatku merasa lebih bersalah kepada Shina karena mengambil alih suaminya?


Haishh.. Aku ingin kabur sejauh mungkin karena entah kenapa pikiran-pikiran negatif dan rasa bersalah kepada Shina bergulir di otakku. Dan rasanya dadaku terus berdegup kencang.


Aku menambah kecepatan lari ku hingga kini aku sampai di sebuah penginapan yang kami pesan sebelumnya. Nafas ku terengah-engah tak beraturan dan dadaku sedikit sesak karena mungkin terlalu lelah berlari.


"Merepotkan sekali! ngapain menghindar kalau tiap hari bertemu. Nanti pun juga bertemu lagi!" gerutu ku pada diri sendiri.


Nggak pa-pa lah, untuk sementara ini yang penting aku bisa menghindarinya.


Aku menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan secara berulang-ulang untuk meredakan deru jantung ku yang tak karuan. Agar cepat tenang dan dadaku tak sesak lagi. Konyol kalau sampai punya serangan jantung gara-gara lari tanpa pemanasan. Amit-amit.


Setelah merasa lebih lega dan detak jantung kembali normal aku istirahat sejenak. Namun bagaimana cara untuk menghadapi Tama kini muncul dalam pikiran ku sekarang. Secara kan kita pasangan suami istri dan kami akan satu kamar malam ini. Haiishh... niatnya liburan malah jadi banyak pikiran.


"Mandi dulu kali ya biar lebih fresh badan dan pikiran. Nanti selanjutnya aku pikirkan bagaimana cara menghadapi Tama." aku menyemangati diri sendiri.


Dengan segera sebelum Tama kembali ke kamar penginapan ini aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Memanjakan diri dengan berendam di bathtub yang penuh bath bomb body soap membuat badan kembali nyaman dan fikiran pun tenang karena aroma esensial yang di keluarkan oleh busa tersebut. Membuat aku lupa sejenak tentang apa yang menjadi pikiranku tadi sebelum memutuskan untuk mandi.


Pelayanan di penginapan ini wajib di puji ini.


Setelah selesai dengan bathtub aku membilas tubuhku pada aliran air dari shower bath. Airnya juga hangat, benar-benar nyaman sekali. Akhirnya ritual mandi ku pun selesai.


"Inilah yang namanya liburan, refreshing!" teriak ku setelah keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang melekat pada tubuh.


"Nanti kalo ada waktu mending sendirian aja kali ya ke sininya. Me time lah buat diri sendiri." aku bicara sendiri.


"Tama belum datang juga ya? Kok nggak ada di sini?" aku masih bermonolog sendiri. Memang Tama nggak terlihat di kamar ini.


"Kemana ya? tadi perasaan ngejar-ngejar aku di belakang." gumam ku pada diri sendiri.


Aku melihat jam yang tergantung di dinding kamar penginapan. Ada mungkin setengah jam aku mandi tapi Tama nggak keliatan di kamar setelah aku selesai mandi pun.

__ADS_1


"Lah bukannya bagus ya, jadi kan aku nggak perlu repot-repot nyiapin ekspresi untuk menghadapinya atau mencari alasan untuk menjawab pertanyaannya kenapa aku menghindarinya. Iya bener." aku membenarkan diri sendiri dengan konyol.


"Haiishh.. tetap saja kepikiran. Bagaimanapun kita bakal ketemu karena satu kamar. Bagaimana ya nanti aku mau menghadapi Tama?" Aku masih mondar-mandir di kamar.


Perasaanku kembali risau dan pikiran ku mulai tak tenang lagi. Kita akan satu kamar dan satu tempat tidur, jadi aku nggak mungkin bisa menghindarinya lagi.


Suara pintu di buka, membuat aku terlonjak kaget karenanya dan seketika menoleh ke arah pintu tersebut. Tama masuk kamar.


"Shina.." ucapnya terdiam sesaat. "Udah selesai mandinya?" tanyanya yang melihat ku mengenakan bathrobe. Aku masih terdiam sambil masih tetap melihat ke arahnya tak berkutik.


"Aku cari makanan dulu keluar ya." ucapnya lalu tertunduk sambil mengusap tengkuknya seraya menutup pintu kamar tanpa mendengar sahutan ku terlebih dahulu.


"Oke!" teriakku terlambat karena aku baru tersadar akan dirinya saat dia menutup kembali pintu kamar.


Kenapa aku tadi diam saja? Kan bukan maling yang kepergok di kamar orang lain. Hiishh.. seketika otakku blank begitu saja setelah melihat wajahnya. Padahal kan dia nggak nanya macem-macem juga. Atau nanya kenapa aku tadi lari darinya.


"Bukannya bagus ya? kan dia jadi keluar lagi." gumam ku dalam hati sambil tersenyum lega. Aku lalu menjatuhkan tubuhku ke atas kasur hotel yang super empuk ini.


"Srekk" suara barang beradu dengan kakiku. Kulihat ada dua paper bag tergeletak di atas kasur. Aku lalu mengambil dan membukanya untuk melihat isi di dalamnya.


Untukku kah ini?


"Kling." suara notif pesan masuk dari handphoneku. Aku lalu menggeser layar kunci dan ku baca pesan tersebut.


Dari Tama, [ Aku udah siapin baju ganti buat kamu. Semoga cocok dan pas.]


Jadi dia tadi udah masih pas aku lagi mandi.


Aku meletakkan handphoneku setelah membalas pesannya dengan ucapan terima kasih. Dengan segera aku mengganti bathrobe dengan baju yang sudah di sediakan Tama.


Aku memang tidak membawa baju ganti karena aku kira Tama tidak akan mengajak ku bermalam di sekitar sini. Dia juga sudah memesan kamar ini lewat handphonenya karena saat aku berjalan-jalan dengannya tadi dia menunjukkan jika kamar ini sudah ia pesan.


Kamar penginapannya bagus sih, berkonsep bungalo dengan cahaya lampu down light yang terkesan redup dan memberi efek romantis.

__ADS_1


"Ish.. jangan bilang Tama udah rencain semua ini?" Aku mulai prasangka buruk padanya. Secara kan semua ini memperlihatkan sebuah nuansa romantisme pasangan suami istri. Wajar kan aku berfikir begitu? Alasannya saja ngajak jalan-jalan.


Lebih baik aku keluar untuk mencari udara segar menikmati liburan ini. Sambil jalan-jalan sambil mencari camilan malam.


Tama yang katanya mau cari makanan sampai sekarang pun belum kembali. Dia juga belum menghubungi ku. Kalaupun nanti dia sudah kembali ke kamar terus liat aku nggak ada di kamar pasti dia akan menghubungi ku. Nungguin dia datang cari makanan keburu akunya udah kelewat lapar.


Aku berjalan menyusuri jalanan yang terbuat dari paving ini sambil melihat kanan kiri. Banyak sekali penginapan model bungalo seperti yang aku dan Tama sewa. Berjalan semakin jauh dari area penginapan menuju sebuah ruas jalan yang terlihat ramai. Ramai oleh pedagang malam yang menjajakan makanan malam khas pesisir pantai.


Angin yang berhembus membawa sebuah aroma yang menarik hidungku. Sate seafood, tertulis di salah satu lapak yang berjajar di sana. Aku pun mengantre untuk mendapatkan makanan tersebut. Setelah dapat aku kembali melangkahkan kakiku dengan gontai menyusuri jalanan.


Di sudut jalan dari jarak tempat ku berada kulihat sosok seperti Tama sedang berdiri di bahu jalan. Aku yang sedang menikmati sate cumi sambil berjalan lalu mendekat ke arahnya. Dari samping terlihat dia dan seseorang lagi di depannya, seperti sedang berbincang.


"Dia lagi ngobrol sama siapa?" tanyaku bergumam pada diri sendiri karena muka lawan bicaranya belum terlihat jelas. Saat jarak hampir dekat ku lihat lawan bicaranya seorang perempuan dengan tangan perempuan itu memegang tangan kirinya.


Perempuan yang tak asing wajahnya. "Kayaknya pernah liat deh.." aku mengingat-ingat sejenak.


Ah perempuan yang waktu itu di pesta. Perempuan yang sama yang juga berbincang lama dengannya malam itu hingga aku tak jadi menghampirinya karena kurasa mereka sedang membicarakan hal yang penting.


Lalu apa-apaan untuk yang kali ini? Kenapa perempuan itu harus memegang tangan Tama segala?


Entah mengapa perasaanku jadi tak karuan. Dadaku bergemuruh dan jantungku berdetak lebih cepat dari apa yang kurasakan saat di pantai tadi.


Aku perlahan mundur dan berlari menjauh dari mereka. Tak terasa mataku mulai berair. Entah karena angin malam yang bertiup kencang atau karena lariku cukup kencang. Aku berlari tanpa terasa kini aku telah berada di tepi pantai lagi, tertunduk dibibir pantai.


"AARRRGGHHH!!" teriakku kencang.


Bayangan tangan mereka, wajah perempuan itu lalu sunset yang baru saja terlewat dengan momen kami, semua berkeliling di kepalaku. Aku kembali berdiri lalu berjalan entah kemana.


Diujung jalan aku lihat bangunan yang cukup besar dengan hiasan lampu yang gemerlap, banyak orang keluar masuk. BAR tulisan yang cukup besar.


Aku sedang jalan-jalan untuk refreshing kan. Toh niat ku libur kerja untuk menghilangkan penat bukan untuk menambah pikiran.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2