ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 41 : JATAH KATANYA?


__ADS_3

Sepertinya ada yang salah. Apa aku mulai jatuh hati pada pria ini?


"Ya Tuhan Ronaaa.. Dia suami oraang." teriakku frustasi dalam hati.


"Dia udah makan belum ya?" kataku dalam hati sambil mengusap wajah tampannya.


Aku juga merasa sudah mengantuk. Sepertinya setelah mandi badanku yang terasa segar dan tak lengket lagi membuat ku terasa nyaman dan ingin cepat di istirahatkan.


"Tidur lebih awal lebih baik." kataku pada diri sendiri hingga aku tarik selimut dan kemudian aku pun ikut berbaring di samping Tama.


"Mhmm." Aku mengeluh merasa badanku berat sulit untuk digerakkan dan juga sedikit susah untuk bernafas.


Pasti Tama memelukku lagi, kataku dalam hati.


Bukannya tak ingin di peluk tapi ukuran badannya yang besar belum lagi ditambah beberapa bagian banyak yang berotot dan berisi membuat dekapannya pada tubuh Shina yang ramping ini rasanya sesak dan sulit untuk bernafas.


Dengan mata masih terpejam aku coba melonggarkan pelukannya tapi tangannya yang besar malah memelukku lebih erat.


"Tama, aku sesak. Nggak bisa nafas." kataku pelan dengan masih berusaha untuk melonggarkan pelukannya.


"Mmm. Dingin sayang." Keluhnya dengan tangan yang kini malah berpindah ke bagian pinggang ku. Memeluk erat di sana.


"Sebentar. Aku matiin AC-nya." Kataku lalu dengan berat diri mencoba untuk bangun.


"Nggak usah." Dia menahan ku hingga akhirnya aku kembali tertidur lagi.


"Ya udah aku kecilin dulu." Aku beringsut lagi mencoba untuk mengambil remote control AC. Ku coba lepas tangan Tama dari tubuhku.


"Biarkan saja." dia kembali menarik tubuhku agar tertidur lagi.


"Peluk aja aku. Aku cuma butuh pelukan." Katanya dengan masih memejamkan mata.


Aku jadi tersenyum, tersipu sendiri dengan kata-katanya barusan. Ku tarik lagi selimut agar menutupi badan kami hingga leher kemudian ku peluk dia sesuai permintaannya dan aku tidur kembali.


Alarm pagi berbunyi seperti biasanya. Aku terbangun lalu mematikan suara mesin yang nyaring itu. Menguap dengan mata masih terpejam aku lalu merentangkan badan di sisi ranjang dengan gerakan mematahkan leher ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Setelah nyawa terkumpul ku lirik Tama yang aku belakangi saat ini, dia masih tidur nyenyak dengan posisi terlentang sekarang.


Aku menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Tumben sekali biasanya dia rajin bangun pagi-pagi lalu olahraga meskipun hanya sebentar. Apa selelah itu sampai tidur semalaman pun sepertinya masih kurang untuk dia. Aku sudah berargumen sendiri pagi-pagi begini.


Melupakan semua itu aku kemudian beranjak dari ranjang lalu pergi mandi dan segera bersiap untuk menyiapkan sarapan. Sampai aku selesai membantu Merlin menyiapkan sarapan Tama belum juga terlihat bangun dan turun untuk menghampiri ku.


Aku kemudian kembali ke kamar bermaksud untuk membangunkannya.


"Tama mau sarapan bareng aku sekarang." Aku membangunkannya dengan sedikit menepuk pipinya lalu bertanya padanya.


"Tam. Masih ngantuk ya? Mau sarapan sekarang nggak?" tanyaku sekali lagi, sekarang aku sedikit mengguncang badannya.


Tama menggeliat, "aku sarapan nanti aja." jawabnya dengan mata masih terpejam yang sepertinya mendengar perkataan ku namun enggan untuk bangun.


"Ya sudah. Aku sarapan dulu ya. Mau dibawain sarapan ke atas nggak?" Tanyaku sekali lagi sebelum meninggalkan Tama.


"Mmh.. nggak usah sayang." jawabnya dengan kini membalikkan badannya menjadi posisi tertelungkup. Aku hanya geleng-geleng dengan reaksi jawabannya itu.


"Merlin makanan yang dikeluarkan nanti di simpen lagi aja ya setelah aku makan. Tama belum mau makan sekarang." kataku kepada Merlin setelah aku bersiap untuk sarapan. Merlin pun mengangguk mengiyakan perintah ku.


"Buatin kopi ya sekarang. Nanti aku bawa ke atas setelah makan." pinta ku ke salah satu pelayan yang masih berdiri di dekat sana yang kemudian di angguki oleh pelayan tersebut.


"Tama. Aku bawain kopi." kataku sambil meletakkan kopi diatas meja nakas.


Terserah dia mau bangun atau tidak yang penting aku sudah menyiapkannya sebelum aku berangkat kerja. Namun ternyata Tama malah terbangun.


"Kopinya harum." Katanya yang sudah bangun dan sekarang terduduk bersandar pada kepala ranjang.


"Aku tadi menyuruh pelayanan untuk buatkan." kataku yang sudah bersiap memakai baju kerja.


"Libur aja hari ini." Katanya yang kini dia sudah memelukku dari belakang. Aku terlonjak, sedikit kaget. Entah kapan ia berjalan tiba-tiba sudah memelukku saja.


"Jangan dipakai." Katanya dengan menghentikan tanganku yang sedang mengancingkan baju kemeja yang kupakai.


Deg.

__ADS_1


Tiba-tiba tubuhku menegang dan jantungku berpacu dengan cepat. Sedikit susah juga aku menelan ludah sendiri. Perasaan ku sudah tidak enak dan pikiran ku sudah mengarah ke arah sana. Arah yang berarti negatif untuk isi kepala di pagi hari namun berarti positif untuk pasangan suami istri.


"Aku mau meminta jatahku." bisiknya dengan nada sensual yang kemudian mencium leherku tanpa aba-aba.


Seketika aku pun tersadar mendengar perkataannya. Jatah katanya?


Benar saja, sesuai dengan pikiran ku, apa yang dimaksud laki-laki ini adalah dengan menyiksa badanku sampai remuk.


"Tama. Ini udah hampir siang. Aku juga belum kasih tau anak-anak di florist dan kafe kalau mau libur. Kasian nanti mereka." kataku dengan nada protes mencoba untuk menghindar.


Bukannya menolak untuk melayani suami, tapikan ini sudah pagi dan hampir kesiangan untuk jam berangkat kerja jika aku melayaninya.


Tapi dia seolah tidak peduli dan tak mendengarkan protes ku. Ciumannya di leherku mulai kencang berubah menjadi sesapan hingga aku mendesis meringis. Sepertinya akan meninggalkan jejak di sana. Perlakuannya itu membuat tubuhku jadi meremang.


Kini dia beralih menciumi wajah ku dan ciumannya mulai turun ke area dadaku. Tangannya pun mulai agresif menjelajah setiap bagian tubuhku. Aku mulai sensitif dengan sentuhannya dan mulai lemah dalam pelukannya.


Tak dapat dipungkiri sepertinya tubuh ini juga merindukan sentuhan pasangan sahnya itu, Shina merindukan sentuhan Tama.


Begitu juga dengan diriku.


Dia yang melihat ku sudah tak berdaya karena ulahnya kemudian membopongku dan membaringkan perlahan tubuhku ke atas kasur. Dibukanya semua bajunya dan juga bajuku lalu ia mulai menciumi kembali wajahku dan sekarang menjalar ke seluruh bagian tubuhku.


Aku sudah bisa menduga dengan tindakannya ini. Aku sudah mempersiapkan badanku dengan perlakuannya karena dia tidak akan berhenti hanya dengan sekali saja.


Stamina tubuhnya jangan ditanyakan lagi, jika aku bukan berada di dalam tubuh Shina mungkin sudah ampun ampunan dengan cara bermainnya.


Pagi yang sudah menjelang siang ini kami isi dengan olahraga bersama hingga badan kami benar-benar berkeringat. Suasana kamar terasa semakin panas karena setelah bangun tadi aku mematikan AC terlebih dahulu sebelum mandi.


Lenguhan dan deru nafas yang memburu menjadi musik pengiring saat kami melakukan aktivitas yang melelahkan tapi melenakan itu.


Saat mencapai puncaknya Tama berbisik, "aku ingin punya anak." ucapnya dengan gerakan semakin cepat dan semakin dalam.


Aku sudah tak peduli dengan apa yang dia katakan karena sekarang rasanya kepalaku sudah pening dan berat. Yang ku tau sekarang adalah bagaimana agar aku bisa tetap bertahan menghadapi binatang buas ini.


Benar saja sampai tubuhku lemas pun dia belum juga berhenti. Aku kira bisikan itu adalah terakhir dia akan melakukannya namun ternyata dia masih melanjutkannya dengan kembali membalikkan tubuhku. Aku yang sudah mulai kelelahan memasrahkan diri dengan apa yang dia lakukan pada tubuh ini.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2