
Paginya aku bangun dan mulai beraktifitas seperti biasa. Tama tidak ikut sarapan pagi ini, aku sarapan sendiri lalu berangkat ke florist setelah sarapan ku selesai, di antar oleh pak sopir. Sampai di florist aku sibuk membantu anak-anak merangkai bunga karena mendapat pesanan lumayan banyak.
Sabtu malam pun tiba.
"Merlin, Nona tidak ke salon? Atau sedang memanggil perias?" suara Tama yang pulang dari kantor terdengar sampai ke atas. Aku yang sudah siap keluar dari kamar dan berada di ambang pintu.
"Tidak Tuan. Nona sedang bersiap sendiri di kamar." jawab Merlin.
Aku yang sudah melihat kedatangan Tama mulai menuruni anak tangga dengan dress berwarna hitam dibalut kilauan dibagian dada dan punggung yang sedikit terbuka. Lalu riasan yang sederhana dan elegan dengan rambut sedikit disanggul modern.
langkah kakiku yang memakai heels tinggi hingga menimbulkan suara sepertinya mengundang perhatiannya untuk melihat ke arahku. Terlihat dari manik matanya jika dia sedikit terkejut, entah kenapa.
"Kamu beneran nggak ke salon?" tanyanya seolah memastikan. Aku menjawab dengan menggelengkan kepala dengan raut sedikit heran, kenapa memangnya?.
"Tapi kamu cantik. Cantik sekali." kalimat pujian Tama keluar begitu saja dengan pandangannya masih tak teralihkan menatapku.
Ucapannya barusan membuatku diam sejenak. Lalu kulihat diriku dengan meneliti tiap bagian tubuh dari pantulan cermin antik besar yang terpajang di ruang tengah.
'Ah, lumayan cantik juga sih. Sedikit terlihat lebih dewasa', aku membatin.
Mungkin karena warna lipstick nya kali ya, red chili, nggak norak kan. Aku meraba bibirku sendiri dengan warna bibir yang terlihat lebih menyala dan terlihat sedikit seksi? Diih apaan sih.
'Untung nih lipstick waterproof. Barang mahal emang beda.' Aku masih saja terus bermonolog sendiri dalam hati.
Tanpa sadar bayangan pantulan dari cermin juga menunjukkan sosok lain. Tama. Dia kenapa? Dari setelan yang ia pakai sepertinya dia memang sudah siap-siap tadi dari kantornya. Mungkin niatnya setelah pulang dari kantor hanya akan langsung menjemput ku kemudian langsung berangkat ke lokasi acara pesta di selenggarakan.
Tapi apa-apaan tatapannya itu, kok kayak orang kegerahan dan kehausan gitu. Jakunnya naik turun sambil masih menatap ke arah ku yang sedang melihat penampilanku sendiri di depan cermin.
Aku yang di pandangnya dari belakang jadi merasa risih, meski itu suami sendiri. Aku menggaruk leher samping ku yang tak gatal lalu perlahan berbalik menghadap ke arahnya.
Basa-basi, "kamu mungkin masih capek, mau minum dulu? Merlin tolong ambilkan minum untuk Tama ya." ucapku pada Merlin yang terlihat masih membersihkan ruang tengah ini. Dia sedang mengelap-elap barang-barang antik yang menjadi pajangan dengan hati-hati.
Iih canggung banget, meski udah nawarin minum dan nyuruh Merlin ngambilin minumnya tapi Tama masih aja natap aku kayak gitu. Kek orang kelaparan liat makanan.
Ah apa jangan-jangan Tama kelaparan ya, soalnya kan malam ini mau ke pesta jadi dia nahan diri untuk nggak makan supaya nanti nggak kekenyangan dan bisa icip makanan yang di sana nanti.
"Ini Tuan." kata Merlin menyerahkan segelas air putih yang gelasnya lumayan jangkung.
"Ah iya terima kasih Merlin." ucapnya lalu menerima gelas yang diberikan oleh Merlin.
Dengan sekali teguk air itu tandas tak tersisa sampai terdengar suara 'aahh' setelahnya seolah dia benar-benar melepaskan dahaganya. Sehaus itu ya? batinku, juga malah jadi ikut nelen ludah sendiri.
__ADS_1
"Tama mau makan dulu?" tanyaku yang takut ia juga lapar. Soalnya dari tadi rautnya memang terlihat seperti orang kelaparan.
"Gak usah." jawab Tama cepat. Aku sedikit terkejut dengan jawabannya yang sedikit tegas itu. Dia melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemejanya bagian atas pun kancing jas bagian tengah ia buka.
Gerah kah? Aku tidak berani bertanya.
"Ayo berangkat." ajaknya dengan berjalan duluan lalu menuju ke arah mobil yang sudah terparkir di halaman depan rumah.
Dia bersiap membukakan pintu mobil untukku, aku yang berjalan sedikit lambat di belakangnya membuatnya menunggu. Ya karena dress-nya berbentuk strip sampai lutut, jadi aku pun harus berjalan dengan anggun mau tak mau.
Aku tersenyum lebar seraya mengucapkan kata terima kasih. Dia mengemudi sendiri malam ini dan aku duduk di kursi penumpang bagian depan, berdampingan dengannya.
Sesampainya di parkiran tempat pesta dia diam sejenak setelah mematikan mesin mobil. Di tariknya nafas panjang lalu dihembuskannya kasar, kemudian membenarkan kembali kancing kemeja dan dasinya sambil mengaca di dalam mobil.
"Harusnya aku bawa David juga tadi." gumamnya sambil merapikan dasinya.
"Mau di bantu?" tawar ku agar dia tidak kesusahan.
"Nggak usah." tolaknya dengan nada halus. Ah, aku menganggukkan kepala.
Dia lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dari mobil. "Biar aku buka kan." katanya sebelum menutup pintu mobil bagian tempatnya duduk. Aku mengangguk.
Kulihat dia mengancingkan jasnya lalu berjalan ke arah pintu mobil tempat ku duduk lalu membukanya kemudian memasang sikap menyambut pasangannya.
Suara bincang bincang terdengar dari semua penjuru ruangan. Aku juga lihat Papa dan Mama ada di sana, sedang berbincang dengan beberapa pasang tamu undangan. Kami kemudian melangkahkan kaki menghampiri mereka.
"Ini dia Hero kita sudah datang." Kata teman berbincang Papa yang menyadari kami datang menghampiri ke arah mereka.
Aku mencium punggung tangan Papa dan Mama lebih dulu, lalu menyalami teman-teman Papa satu persatu sambil mengenalkan diri, begitupun dengan Tama, melakukan hal yang sama sepertiku.
"Ini anakmu ya. Jarang liat di acara bussines party begini. Cantik lho." puji teman Papa.
"Pak Roni ini bisa aja. Anak bapak juga cantik kok." balas Papa.
Tak lama MC membuka acara dan acara pun berlanjut sesuai susunan acara yang di bacakan MC.
Semua orang yang hadir kebanyakan membicarakan tentang bisnis yang mereka jalani dan bisnis sampingan di luar share holder yang lebih banyak menguntungkan.
Kepalaku pusing mendengarnya, aku berinisiatif mencari udara segar dengan berjalan ke arah balkon.
Hotel ini memang di desain untuk acara pesta saja sepertinya. Terlihat dari luar tadi sebelum aku masuk setiap lantai gedung ini dikelilingi balkon.
__ADS_1
Aku menghela nafas mencoba menikmati aroma malam di gedung mewah ini.
Semilir angin malam terasa menusuk kulitku, aku bersidekap dengan telapak tanganku mengusap-usap lenganku. Semakin dingin saja dan angin semakin kencang pula malam ini.
"Hiiihh.. tubuhku jadi merinding." gumam ku lalu memutuskan untuk masuk kedalam lagi saja.
Aku merotasikan bola mataku mencari sosok Tama, ketemu. Kulihat Tama sedang berbincang dengan seorang perempuan, sepantaran dengan umurnya, atau mungkin di bawahnya sedikit. Sepertinya obrolan mereka sangat serius.
Aku urungkan niatku untuk menghampirinya, takut mengganggu. Lagi pula akan sangat membosankan jika aku di ajak bergabung dalam obrolan mereka. Masalah bisnis, tentang perusahaan besar, tak akan ada habisnya.
Ku tajamkan lagi mataku menyusuri setiap orang yang sedang berdiri dan duduk di sana untuk mencari keberadaan Mama dan Papa. Terlihat mereka sedang duduk sambil berbincang bersama teman mereka yang lain.
"Haish.. membosankan. Pantas saja Shina nggak mau hadir dalam acara-acara kayak gini." gerutu ku yang sudah mulai kesal.
Ku ambil handphone dari dompet kecilku, ku kirim pesan ke Tama, [ Aku ingin pulang ]. Menunggu lama, sudah sepuluh menit tapi belum ada balasan.
Aku menghembuskan nafas kasar, ku putuskan untuk berkeliling. Ada stand makanan, aku ambil camilan untuk mengusir rasa bosanku lalu kuambil tempat duduk yang terlihat sepi. Aku mulai menikmati camilan yang ku bawa dengan piring kecil. Enak. Tentu saja, kan makanan mewah.
"Boleh ikut duduk di sini?" Suara lembut seorang perempuan menyapaku.
"Boleh." jawabku mempersilahkan.
"Sendiri atau sama patner?" tanyanya lagi dengan senyum cantiknya.
"Jadi patner suami disini." jawabku tersenyum membalas senyumannya.
"Oh udah punya suami. Kenalin aku Delia." dia mengulurkan tangan.
Aku menyambutnya, "Shina."
"Shina? Shina anak bapak Raka kah?" Dia bertanya seolah memastikan.
Kenapa memangnya?
Aku menjawabnya mengangguk dengan senyum.
"Waah kamu cantik ya. Aku baru liat langsung. Boleh berteman nggak?" celotehnya. Aku mengangguk mengiyakan.
Dia lalu memulai percakapan random yang panjang, bukan membahas tentang bisnis dan perusahaan seperti orang-orang yang hadir malam ini. Hingga akhirnya kami pun bertukar nomor telepon. Semudah itu dia bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang yang pertama kali ia kenal. Ciri-ciri anak supel dan mudah bergaul kayak gini nih.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘