
"Ada apa?" tanya Rona setelah sampai lalu membenarkan tongkat penyangganya.
"Lo nyari Saga kan?" Tanya Raya yang tatapannya dialihkan dari pandangan Rona, menatap ke bawah, sebuah area lapang.
Rona mengikuti pandangan matanya itu, dan di sana, di bawah sana ada sosok Saga yang sedang berbicara berdua saja dengan seorang perempuan. Entah siapa Rona sendiri juga tak tahu.
"Namanya Novi. Mereka dulu pernah pacaran. Baru dua minggu udah putus. Kayaknya masalahnya belum kelar." Terang Raya menceritakan tanpa Rona minta.
Apa urusannya sama gue, batin Rona. Saat Raya menceritakan itu seolah ia tahu semua tentang Saga.
"Oke thanks. Gue tunggu aja dia sampai masalahnya kelar." Kata Rona pada Raya yang memang dirinya tak ingin berlama-lama di dekat Raya. Entah mengapa ia merasa seperti tak nyaman, risih.
Raya bukan orang yang cerewet dan suka menempel pada teman dekatnya atau temannya sesama perempuan. Namun begitu yang Rona tidak suka adalah tatapannya. Tatapan mata Raya pada Rona adalah seperti tatapan mengintimidasi tapi bukan, terlihat meremehkan kadang tapi juga bukan. Yang pasti seperti tatapan cuek dan tidak suka. Entahlah, Rona sendiri saja juga bingung.
Kembali, Rona kembali pada kesadarannya saat teman satu mejanya yang juga sedang mencari buku di perpustakaan itu sudah kembali dengan beberapa tumpuk buku berukuran besar.
"Na. Nih gue tadi nemu barang bagus. Skripsi anak manajemen dan bisnis lima tahun lalu." Ucap Vita yang kemudian membuka buku di tumpukan paling atas. Rona pun jadi antusias dan juga ikutan untuk menelisik isi dari buku tersebut. Setelahnya mereka ganti membaca buku bahan materi yang lain hingga akhirnya ada pesan masuk ke dalam handphone Rona dengan tanda bergetar nya benda pipih itu.
"Astaga. Udah hampir maghrib Vit." Pekik Rona sebelum melihat isi pesan itu ia lebih dulu melihat angka jam digital disana.
"Astaga. Mamak kita nyariin ini Na. Hayuk kita beresin."
Setelah selesai membereskan buku yang mereka baca mereka lalu keluar dengan Rona yang kemudian membuka isi pesan yang tadi belum sempat ia buka.
"Baru juga mau dibuka udah telepon aja." Ucap Rona saat nama Saga muncul di layar handphonenya.
"Na. Gue duluan ya. Bokap udah nungguin di depan katanya." Ucap Vita yang kemudian dijawab dengan Rona menganggukinya.
"Di mana?" Saga bertanya to the point.
__ADS_1
"Baru keluar perpus. Lagi nurunin tangga ini." Jawab Rona.
"Pelan-pelan. Gue susul." Ucap Saga lalu mematikan panggilannya. Dengan langkah pelan Rona pun menuruni anak tangga itu.
"Astaga.. cepatlah sembuh wahai kaki. Biar gue bisa lari." Gerutu Rona tak sabaran.
Saat menuruni tangga di hampir anak terakhirnya sekilas Rona melihat sosok Raya yang menjauh dari sana di antara kerumunan anak-anak yang lain. Dan sepertinya Rona juga melihat bayangan punggung Novi sebelum Raya berbalik tadi.
Kemudian tak lama Saga datang dengan tampang yang bisa disebut masam, kusam. Ya seperti itulah. Entah apa penyebabnya Rona tak ingin bertanya lebih. Takutnya dia salah berucap lagi dan berakibat seperti kemarin.
Ini saja dia masih sangat gugup dan sungkan untuk bertemu jika saja ia tidak membutuhkan bantuan Saga lebih baik ia menghindari pemuda itu.
"Udah beres? Nggak mau kemana-mana lagi?" Tanya Saga yang membantu Rona membawakan buku yang perempuan itu genggam.
"Enggak." Jawab Rona sambil menggelengkan kepala.
"Langsung pulang aja." Lanjutnya berucap.
"Mau ambil uang dulu bentar. Ikut apa nungguin?" Tanya Saga setelah keluar dari mobil.
"Nungguin deh. Beli minuman dingin." Ucap Rona yang kini giliran dia yang memasang muka masamnya.
Perempuan disuruh menunggu.
Setelah menganggukkan kepalanya Saga lalu menutup pintu mobil dan berlari ke arah minimarket.
Dia juga malas sebenarnya setelah merasakan capek badan dan lelah otak untuk belajar seharian namun harus direpotkan dengan singgah ke minimarket untuk mengambil uang. Gara-gara siapa semua ini, dia tidak bisa menyalahkan Chen karena dirinya sendiri juga yang salah.
"Nih." Saga menyerahkan minuman dingin yang ia beli untuk Rona dan kemudian ia pun kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
...* * *...
"Hayuk Rona! Keburu nanti banyak pasiennya." Dhira berteriak dari bawah agar Rona mempercepat sesi dandannya.
Hari ini jadwal Rona untuk berangkat terapi alternatif untuk kesembuhan kakinya. Selain berobat ke dokter Rona juga dibawa berobat ke alternatif agar kesembuhan kakinya cepat dan bisa berjalan seperti semula.
"Lama amat cuma mau dipijit juga. Keburu Pak Cecep nya banyak pasien." Gerutu Dhira yang anak gadisnya sudah sampai di depan matanya.
"Kan harus cakep atuh Mamah. Masa iya keluar rumah caludihan." Rona menjawab omongan Mamahnya dengan kemudian menuju mobilnya.
Hari ini Babanya ikut mengantarnya dan memutuskan untuk buka toko lebih siang demi kesembuhan anaknya. Di alternatif pasien satu orang bisa ditangani lebih dari setengah jam makannya mamahnya sangat cerewet agar Rona untuk cepat-cepat bersiap. Jadi pasien nomor tiga saja sudah terbayang lamanya menunggu di sana.
...* * *...
"Mau langsung pulang Na?" Apa kita main aja dulu sambil nunggu kelas sore nanti?" Vita bertanya. Saat ini mereka sedang berada di area lapang menuju gerbang jalan keluar universitas tempat mereka menimba ilmu itu.
"Ulin hela atuuh." Jawab Rona dengan menaik turunkan alisnya dan memasang senyum jahil kepada Vita. Vita yang melihat reaksi Rona punya jadi mengernyit jahil seolah menyetujui ide sahabatnya itu.
"Eh tapi nggak pa-pa nih? Nanti akang bodyguard marah terus elu diceramahin lagi." Kata Vita celingukan mencari keberadaan sosok Saga.
Tapi matanya tak menemukan sosok yang selalu mendampingi Rona tersebut. Tiba-tiba saja dirinya malah dikejutkan dengan sosok seorang perempuan yang datang menghampiri ke arah mereka bersama seorang teman perempuannya juga.
"Oh." Kata perempuan itu dengan pandangan menelisik kearah Rona. Bola matanya naik turun menatap Rona dengan tajam membuat Rona merasa tak nyaman.
"Jadi ini yang namanya Rona." Katanya lalu terdiam sejenak.
"Yang selalu bikin Saga repot dan susah. Sampai ngebelain untuk putus sama gue." Ucap Novi yang nada suaranya ditekankan pada kata putus.
"Sakit ngerepotin udah sembuh pun nyusahin." Kata Novi dengan sarkasnya. Kata-kata itupun membuat Vita yang mendengarnya membolakan matanya.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘