
"I love you." bisiknya sambil tersenyum.
Aku tersenyum dengan mata yang sudah terasa berat, "love you more." kataku membalas.
Aku mengerjapkan mataku. Ternyata Tama sudah memindahkan ku ke atas kasur empuk kamar ini. Aku beranjak untuk bangun lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukaku agar terasa segar.
Kemudian aku keluar kamar dan melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Tama, tapi dia tak ada dimana pun.
Malam-malam begini dia ke mana? Pikir ku.
Aku coba menghubungi dengan meneleponnya dan akhirnya panggilan pun terhubung.
"Tam, kamu di mana? Aku cari di rumah nggak ada." tanyaku yang sedikit khawatir dan takut ditinggal sendirian.
"Aku sedang beli makanan dan perlengkapan untuk besok biar kamu nggak ikut kerepotan." jawabnya dari seberang telepon.
"Sebentar lagi pulang kok. Ini lagi antri bayar." imbuhnya.
"Oke. Jangan lama-lama ya, aku takut sendirian." kataku dengan nada pelan karena memang sedikit takut berada di penginapan ini sendirian.
Terdengar Tama tertawa kecil dari ujung telepon sana, "iya aku segera pulang." jawabnya.
"Cepetan ya." kataku yang tak sabaran.
Terdengar Tama kembali terkekeh lagi. "Iya sayang iya." katanya dengan kemudian menutup panggilannya.
Setelah panggilan itu agak lama juga Tama baru datang yang katanya tadi akan segera pulang. Aku lalu berhambur menghampirinya. Dia tersenyum kemudian meraih tanganku mengajak ku kembali masuk ke dalam kamar.
"Ini p3k kamu yang simpan ya." dia menyerahkan kotak kecil itu kepada ku. Disana juga terlihat ada pembalut untuk wanita. Aku tertawa kecil seraya beralih menatap ke arah mukanya.
"Kamu nggak malu belinya?" tanyaku dengan tangan memegang pembalut menunjukkan kepadanya.
Dia menggelengkan kepalanya, "banyak kok yang beli juga tadi. Sama pasangannya juga malah." jawabnya ringan. Aku pun tak bisa berkata lagi.
"Makanan sama minuman biar aku yang bawa."
__ADS_1
Dia memasukkan barang berupa makanan ringan dan beberapa botol minum ke ransel bagiannya. Kami menyiapkan bersama keperluan untuk jalan-jalan esok hari.
Tibalah pagi hari dimana matahari mengeluarkan sinarnya untuk memulai menyinari jagat raya. Kami pun memulai aksi kami untuk melakukan perjalanan yang sudah kami rencanakan semalam.
Hari ini cuaca di kota Kyoto cukup cerah. Sinar matahari yang menerpa kulit terasa hangat ke badan. Aku dan Tama bergandengan tangan menyusuri jalanan Kyoto. Kami mengunjungi beberapa tempat wisata yang cukup terkenal di kota ini.
Sudah lima hari ini kami jalan-jalan mengunjungi tempat bersejarah yang ramai di kunjungi para turis, mulai dari Vihara, Kuil yang terkenal dengan banyak gerbangnya, Hutan bambu yang terkenal keasriannya, Kuil Buddha kuno, lalu terakhir ke Nishiki Market. Aku suka barang antik jadi aku belanja banyak barang untuk dekorasi rumah dari sana.
Setelah merasa cukup lelah setiap harinya kami lalu pulang. Sesampai di penginapan aku dan Tama lalu mandi secara bergantian dengan kemudian menghempaskan diri masing-masing ke atas kasur lalu bersiap untuk tidur.
Mungkin karena saking lelahnya karena selama lima hari berturut-turut ini kami jalan-jalan jadi kami langsung tertidur tanpa ada obrolan terlebih dahulu.
"Shina, bangun sayang, kamu belum makan." sayup-sayup kudengar suara Tama membangunkan ku.
"Shina, bangun." terasa Tama tengah menggoyangkan badanku.
Aku mengerjapkan mata, "apa?"
"Kamu belum sarapan tadi pagi, ayo bangun dulu udah siang, makan dulu nanti tidurnya dilanjut." katanya mencoba membangunkan ku tanpa menyerah.
Terdengar suara Tama mendengkus lalu pergi pergi ke luar kamar. Namun tak lama kemudian ia kembali lagi.
"Bau apa ini?" Aku terperanjat. Mataku yang masih terpejam tiba-tiba terbuka lebar dengan kemudian terbangun karena aroma yang menyeruak ke hidung.
Aku lalu berlari ke kamar mandi. Perutku terasa tidak nyaman, mual tapi tak bisa muntah juga. Aku berdiri cukup lama di depan wastafel menunggu hingga perutku terasa lebih enakan.
Setelah merasa cukup nyaman di area perut, aku lalu sikat gigi dan kemudian mencuci muka. Tak ada lagi rasa kantuk ku yang tadinya sangat berat untuk membuka mata apalagi untuk bangun.
Aku berjalan keluar dari kamar mandi, dan masih tercium aroma yang menurut ku baunya kurang sedap hingga membuat perut ku terasa tak nyaman. Aku berjalan sambil menutup hidungku.
"Tama ini bau apa?! Nggak enak banget. Aku nggak suka baunya!" Ujar ku dengan nada sedikit tinggi karena Tama sedang tak ada di sana.
Seketika Tama datang setelah mendengar teriakan ku.
"Ini apa? Tolong bawa keluar." Aku menunjuk ke cawan kecil yang berada di atas meja. Benda itulah yang menimbulkan bau tak sedap untuk hidungku.
__ADS_1
"Ini macha Shina. Tadi dikasih sama pelayan yang bertugas merawat tempat ini." jawabnya menatap ke arah ku bergantian pada cawan yang disebut teh hijau itu.
"Aku nggak suka baunya Tama. Bikin aku mual." kataku dengan nada sedikit kesal karena sudah tak tahan dengan bau itu.
Terlihat Tama menghembuskan nafas panjang, ia lalu memindahkan cawan teh tersebut keluar kamar. Dia kemudian kembali ke dalam kamar lalu menghampiri ku. Sedang aku minum banyak air putih untuk menghilangkan rasa mual ku.
"Kamu nggak pa-pa sayang?" Tama merengkuh pundak ku. Dia mengusap sebentar punggung ku setelah aku selesai meneguk air mineral itu lalu membawa ku untuk duduk di sofa kamar.
"Kamu sakit?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan keadaan ku.
"Nggak tau. Badanku rasanya nggak enak Tam. Masuk angin mungkin." jawabku kemudian menyandarkan kepala ku ke bahunya.
"Kamu pasti kelelahan karena jalan-jalan terus kemarin kemarin." Dia lalu memijit lembut pundak ku.
"Mau pulang aja? Aku takut di sini kamu malah sakit." tanyanya dengan nada khawatir sambil masih melakukan pijatannya.
Aku tak menjawab namun kemudian memposisikan badan ku berbaring ke pegangan sofa panjang tersebut. Tama lalu melepaskan tangannya yang sedang memijit pundak ku.
"Tam, aku mau makan es krim." kataku tiba-tiba dengan posisi berbaring ke samping masih berbantal pada bagian tangan sofa.
Tama menengok kaget ke arah ku setelah mendengar keinginan ku. "Katanya nggak enak badan. Nanti kalau badan kamu malah panas gimana?"
Tama menyentuh pipi dan dahi ku untuk memastikan kalau aku benar-benar baik-baik saja.
"Enggak. Aku cuma mau makan yang seger seger aja." kataku menjawab lalu menjauhkan tangan Tama dari keningku.
"Oke, aku beli dulu ya. Kamu tunggu ya." kata Tama lalu ku jawab dengan anggukan kecil, kemudian Tama pergi meninggalkan ku keluar.
Tak berapa lama Tama kembali dengan membawa es krim berbagai merk dan berbagai rasa, juga beberapa snack kesukaan ku.
Saat aku sedang ngemil sambil makan es krim Tama bertanya, "Shina kamu belum makan dari semalam lho. Kamu langsung tidur kan habis mandi. Kamu emang nggak lapar sekarang? Belum makan nasi udah makan es krim dulu."
Pertanyaan Tama terdengar membuat ku merasa pusing di kepala.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘