ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 19 : PERNIKAHAN


__ADS_3

Tapi kali ini kami melakukan spa di kamar tamu dan Mama sengaja nyuruh asisten rumah tangga untuk masukin satu kasur lagi di kamar itu agar bisa di pijat berdua bersamaku. Kalau nggak ada temen ngobrol Mama biasa ketiduran di tempat spa. Lucu ngebayangin nya.


Setelah ritual spa yang kami jalani selesai mulai dari pijat, lulur, maskeran sampai yang terakhir berendam. Kini sekarang lanjut ke meni pedi sambil kami masih rebahan setengah badan dan kaki menjuntai ke bawah. Biar lebih enak aja kata Mama, padahal aslinya nggak ada kursi khusus untuk duduk saat sedang di meni pedi.


"Kamu nggak mau di henna?" tanya Mama yang saat ini sibuk dengan handphonenya sambil rebahan menikmati meni pedi.


"Enggak ah, nggak mau kotor aku. Lama juga ilangnya. Bukan orang India ini." jawabku.


"Ma, kalo mau nikah itu apa deg-degan kayak gini ya?" tanyaku menoleh ke arah Mama.


"Emangnya gimana?" tanya Mama yang tak mengerti maksudku.


"Ya deg-degan gini. Resah dan perasaan nggak karuan. Wajar nggak sih Ma?" tanyaku meyakinkan. Mudah-mudahan saja hanya perasaanku.


Pernah dengar kalau pengantin akan merasa nervous saat akan di nikahkan. Itupun biasanya pas hari H saat menjelang ijab qobul atau sumpah di atas altar.


Perasaan nervous sebelum hari H apakah wajar?


Mama tersenyum penuh arti, "banyak berdoa aja. Pikirkan hal-hal yang baik jangan menerka-nerka yang buruk. Kalau kita berpikiran baik, semua juga akan berjalan baik kok." nasehat Mama.


Yah meski hanya kata-kata, tapi itu sedikit meyakinkan ku. Aku juga harus berfikir yang baik-baik untuk hari baik ke depan.


"Sudah selesai Bu, Kak." kata salah seorang spa therapist yang sudah menyelesaikan tugasnya. Dan sebagian temannya merapikan peralatan mereka.


"Oke. Makasih ya mbak, ini untuk kalian." kata Mama lalu memberikan amplop berisi tip untuk mereka. Jika pembayaran utamanya sudah Mama lakukan melalui online kepada pemilik spa langsung karena sudah menjadi langganan Mama.


H-1 pernikahan


"Ada apa Ma?" tanyaku yang melihat Mama sedang berbicara dengan asisten rumah tangga kami.


"Ini ada paket buat kamu." jawab Mama sambil membolak-balikkan kotak lalu menyodorkan ke arahku. Aku pun menerimanya.


"Dari siapa?" tanyaku membolak-balikkan paket seperti yang Mama lakukan untuk mencari identitas pengirim.

__ADS_1


"Kata abang ojol nya dari Tama, tapi nggak ada namanya." jawab Mama lagi. Aku pun mengangguk setuju.


"Nanti aku tanya aja lah. Masa kirim sesuatu harus pake ojol, kan bisa langsung di anterin." ujarku yang berniat akan menyimpannya dulu.


"Ish kamu ini, lupa terus. Calon pengantin kan nggak boleh keluyuran apalagi saling ketemu." ujar Mama seperti mengingatkan. Aku memutar bola mataku malas. Jengah mendengar pemikiran kolot yang seperti ini.


"Kan ada sopir Maa.." kataku lalu naik ke atas untuk masuk ke kamar menyimpan paket yang katanya kiriman dari Tama.


Setelah menyimpan paket itu aku kembali turun lagi untuk menghampiri keluarga dari saudara Mama dan Papa. Ya untuk berbincang-bincang karena memang apalagi yang biasa kami lakukan jika sudah kumpul bersama seperti ini.


Hari ini keadaan rumah sangat ramai. Meski Papa sudah memesankan hotel untuk para saudara Mama dan Papa yang datang dari jauh agar merasa nyaman tapi tetap saja mereka ingin berkunjung ke rumah ini dengan alasan ingin melihat calon pengantin.


Padahal nanti kan pas hari H atau setelahnya kan bisa lihat juga. Lagipula mereka juga sering berkunjung ke rumah meski tidak ada acara besar seperti ini. Aneh-aneh saja mereka.


Malam hari. Aku mengotak-atik layar handphone membuka beberapa aplikasi sosial media untuk mengecek jika ada pesan atau notifikasi lain.


Pesan dari aplikasi chat terlihat banyak, aku pun membuka nya. Banyak pesan dari alumni sekolah menengah atas atau perguruan tinggi juga pesan dari karyawan toko ku.


Karena terlalu asyik saling berbalas pesan kepada mereka aku sampai lupa untuk mengirim pesan ke Tama untuk menanyakan soal paket tadi siang.


Hari Pernikahan.


Riuh ramai suara tepuk tangan dan doa serta ucapan selamat dari tamu undangan tengah memenuhi ruangan ini. Taburan bunga, asap dan lantunan musik dan penyanyi juga mengiringi berjalannya acara.


Hari ini adalah hari pernikahan dimana harinya bahagia yang semua orang juga menantikan, termasuk aku dan Tama. Semua terlihat tersenyum lebar serta bahagia melihat ke arah dimana aku dan Tama berdiri.


Pengantin pria yang terlihat gagah dengan setelan tuksedo berwarna putih serta pengantin wanita dengan gaun putih mengembang ala ballgown yang membuat mata terkesima. Seperti pernikahan impian semua orang pada umumnya.


Saatnya melempar bunga.


Aku dan Tama membalikkan badan dan melemparnya secara bersamaan dengan tangan saling menggenggam buket bunga. Lalu setelahnya tepuk tangan terdengar riuh, tentu saja buket bunga itu telah di menangkan oleh seseorang.


Saat aku membalikkan badan, ku lihat yang beruntung menangkap buket bunga itu adalah seorang perempuan. Perempuan yang sama, lagi-lagi, perempuan yang pernah tertangkap lihat oleh ku yang selalu ada disekitar Tama saat aku sedang bertemu dengan Tama.

__ADS_1


Ku lihat ke arah wajah Tama dengan tatapan ku yang datar. Namun dia memberi ekspresi tersenyum lebar dengan tepuk tangan semangat yang menurutku aku tak bisa mendengarnya. Entahlah, pikiran ku seperti sedang tidak ada di sini saat ini.


Tama melakukan itu tentu saja karena memang seharusnya tepuk tangan sambil tersenyum lebar di hari bahagia seperti ini bukan?


Namun dari sini perasaan ku mulai ada yang mengganjal lagi. Apalagi sekarang aku jadi teringat tentang sekotak paket yang katanya di kirim dari Tama, pagi tadi aku membukanya. Karena sampai pagi menjelang pun aku lupa untuk mengirim pesan kepada Tama untuk menanyakan tentang paket itu.


Apa yang ku dapatkan?


Beberapa lembaran foto yang sudah tercetak yang memperlihatkan wajah Tama dan potongan tubuh perempuan yang sengaja tidak di perlihatkan dengan jelas.


Ya, bagian tubuh perempuan itu di potong sebagian. Hanya terlihat jari lentik sang perempuan yang sedang bergaya dua jari dengan Tama, ada juga yang lengannya terlihat berada di bahu Tama dan dua lagi yang sedang bersanding dengan baju setelan formal. Itu juga hanya menampakan sebagian tubuh perempuan yang ada dalam foto tersebut.


Namun seketika semua itu terlupa karena banyak orang yang bersorak dan bersiul sambil bertepuk tangan untuk kita agar berciuman.


"Cium.. cium.. cium..!!" teriak mereka para tamu undangan muda yang sebagian besar adalah teman ku dan teman Tama. Tidak ada malunya mereka meneriakkan kata itu di tengah-tengah tamu undangan yang juga ada para orang dewasa.


Mau tak mau, meski malu pun kami menuruti keinginan mereka agar segera tenang. Dan susunan acara selanjutnya pun berjalan.


"Lelahnya." keluhku sambil merebahkan diri di atas kasur yang memang sudah disediakan kamar khusus pengantin.


Akhirnya pesta yang digelar satu hari satu malam itu selesai juga. Dua hari lagi acara home party untuk dua keluarga besar kita. Aku harus banyak istirahat agar tak tumbang di acara berikutnya nanti.


Kulihat Tama juga berbaring di sampingku dengan tampang kelelahannya. Terlihat dengan sebelumnya ia membuang bajunya dengan sembarang, setelah mandi lalu memposisikan diri untuk tidur dan detik selanjutnya tertidur dengan pulas.


Aku tersenyum kecil menatap ke arahnya. "Lelakiku dari sebuah perjodohan."


Aku mengusap tangannya lalu perlahan mengambilnya untuk ku jadikan bantalan kepala. Aku lalu menyusul tidur.


Home party yang diadakan dua hari setelah hari pernikahan pun tiba. Jumpsuit dengan lengan pendek terawang yang kupakai untuk home party malam ini. Keluarga Tama dan keluarga ku juga tidak hadir semua. Karena ini hanya acara untuk mempererat hubungan antar keluarga jadi hanya sebagian yang hadir.


Pesta sederhana dengan beberapa stand makanan dan barbeque agar terasa seperti kumpul keluarga saja. Kami pun merasa menjadi semakin lebih dekat dengan keluarga dari kedua belah pihak. Dan para orang dewasa, mereka juga berharap hubungan bisnis mereka juga terjalin dengan baik. Lagi-lagi, saat acara seperti ini pun masih membicarakan tentang pekerjaan.


Setelah menikah Tama pindah dari kantor cabang kota Surabaya ke kantor utama kota Jakarta di perusahaan Papanya. Kami juga punya rumah sendiri yang kami tempati berdua. Semua terasa harmonis.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2